Memaknai Konflik dan Diversitas di Indonesia

May 20, 2017 0

Agenda kegiatan: Ruang Bersama: Narrations about Conflict and Resolution.

Anak panah bermata api melayang di udara, bom meledak di kampungnya. Peristiwa itu terekam dalam ingatan M. Irfan Ramly. Saat itu usianya baru 10 tahun. Ia bersama dua saudara dan ibunya yang sedang hamil 6 bulan harus mengungsi.

Irfan kini bekerja sebagai penulis skenario film. Kisah yang dia tuturkan mengawali diskusi Kamis pagi itu (18 Mei 2017) di Museum I Lagaligo, Fort Rotterdam, Kota Makassar. Irfan merupakan salah satu pembicara  yang berbagi cerita. Ia menandai 19 Januari 1999 sebagai awal terjadinya konflik Ambon.

Pada masa-masa konflik, ayahnya menyuruh tidur menggunakan baju tebal dan kaos kaki. Sepatu diletakkan di dekat mereka. Itu agar mereka selalu siap pergi kapan saja. Berminggu-minggu Irfan tidak sekolah. Berminggu-minggu menunggu kapan pergi. Suatu subuh, pukul setengah 4 kira-kira, ayahnya membangunkannya untuk pergi. Mereka ke Galunggung. Mengungsi.

Selama dua hingga tiga tahun Irfan dan keluarganya hidup di lingkungan yang semuanya adalah muslim. Ketika konflik berlangsung, semua orang dipaksa berpihak, Kristen atau Islam. “Tidak ada itu kalau ada orang yang bilang ‘saya tidak terlibat konflik Ambon.’ Semua orang terlibat!” kata Irfan. Suaranya tegas dengan  nada suara yang sama sepanjang diskusi pukul 10.00-12.00 Wita.

Akhir 1990-an juga terjadi peristiwa pengganyangan China di Kota Makassar. Andi Burhamzah, sutradara yang akrab disapa Anca, sedang mempersiapkan produksi sebuah film yang menceritakan peristiwa pengganyangan itu.

Ide itu berawal ketika Anca dan temannya yang keturunan Tionghoa, Yandi Lauren,  yang juga partnernya membuat film bercerita soal kejadian yang memulai peristiwa pengganyangan China. Seorang keturunan Tionghoa membunuh seorang anak dari keluarga muslim. Orang Tionghoa itu dipercayai sudah gila.

Anca berusaha menggali lebih dalam perihal peristiwa itu. Dia bertanya kepada keluarga Yandi. “Tidak ada yang menjawab,” kata Anca. “Seperti ada api yang dipelihara di dada mereka, api yang siap meledak kapan saja.” Respon keluarga Yandi membuat Anca berpikir bahwa konflik itu belum selesai. Tidak akan pernah selesai kalau tidak pernah dibicarakan.

Rumah dan sejumlah fasilitas umum dibakar. Berbeda dengan yang terjadi di Maluku dan di Makassar, konflik di Banggai Laut melibatkan orang-orang dari dua desa yang berasal dari satu suku. Erni Aladjai, seorang penulis menceritakannya sebagai pembicara ketiga. Isu politik (perebutan kekuasaan) menjadi pemicu konflik antar dua desa di Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Konflik terjadi ketika pemerintah akan melakukan pemindahan wilayah kecamatan.

“Perkelahian (atau konflik) di Banggai,” Erni bercerita, “bisa saja terjadi di satu kompleks perumahan. Bisa saja terjadi antara mereka yang tinggal di lingkungan yang sama.”

Erni Aladjai memanfaatkan kesempatan sebagai penerima hibah perdamaian 2016, bersama teman-temannya menyelenggarakan program residensi. Program Residensi Paupe namanya. Paupe merupakan seni tutur budaya Banggai yang berisikan syair-syair perdamaian. Budaya ini (seolah) hilang ketika konflik berlangsung. Padahal para penuturnya masih hidup.

Ide residensi itu adalah mempertemukan anak-anak dari dua desa yang berkonflik. Umumnya mereka berusia 15-18 dan berasal dari sebuah desa yang tidak mengalami konflik. Mereka mempelajari kembali seni tutur Paupe.

Ketiga-tiganya terjadi dalam kurun waktu bersamaan, akhir ’90-an. Ada apa dengan ketiga peristiwa konflik itu? Pertanyaan tersebut diajukan oleh Debra di sesi diskusi.

Mendiskusikan konflik Ambon, menurut Irfan, tidak bisa tanpa mengikut sertakan konflik Poso, Fakfak, dan lainnya. Di Maluku, konflik agama telah berpotensi meletus sejak lama. Pada zaman kolonial, sekolah pertama didirikan dekat gereja. “Pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Kristen dipenjara. Karena dianggap pro terhadap Belanda,” sambung Irfan.

Pasca konflik, sentiman agama masih terasa. Fakultas Hukum Universitas Pattimura, tempat Irfan mengambil studi, menerima setiap tahun 100 mahasiswa. “Tidak lebih dari 20 mahasiswa yang beragama Islam yang diterima. Saya beruntung karena banyak berteman dengan mahasiswa yang bergama Kristen.”

Sebelum konflik agama, isu Buton-Bugis-Makassar (BBM) mengemuka dengan argumen yang menyertainya adalah “Pendatang lebih sukses”. “Padahal orang Ambon itu gengsian,” kata Irfan. “Sebelum konflik, pekerjaan paling rendah menurut orang Ambon adalah sopir angkot.” Warga sudah ‘didesain’ berkonflik, menurut Irfan.

“Terminologi ‘teror konflik’ bukan hanya soal minoritas. Melainkan juga harga barang-barang,” lanjut penulis naskah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku itu.

Tahun 2011 terjadi kerusuhan di Ambon di tiga titik. Ketika itu beredar anggapan kalau Ambon harus menjadi wilayah untouchable. “Seolah-olah Ambon ini adalah wilayah berkebutuhan khusus,” sambung Irfan. Namun beberapa stasiun televisi mengabarkan kerusuhan itu dengan mengatakan konflik Ambon terulang. Banyak pihak bekerja untuk menepis berita itu. Mereka menolak berita itu.

“Konflik Ambon tidak bisa dipisahkan dari Jakarta,” lanjutnya lagi. “Temuan-temuan Tim Pencari Fakta, sampai saat ini, tidak pernah dibuka.” Itu adalah bentuk pembiaran. Dan itu dilakukan di banyak tempat. “Jakarta punya tanggung jawab.”

Anca menduga mungkin di setiap tempat dipelihara konfliknya. Peristiwa pengganyangan China di Kota Makassar sudah pernah terjadi pada 1965. “Mungkin betul-betul dipelihara,” kata Anca. “Karena orang-orang China di sini lebih kaya.” Salah satu fakta lain, terjadi kericuhan yang melibatkan orang Tionghoa ketika Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan.

Irfan mengamati film-film perihal China tidak pernah ditonton oleh orang China sendiri. Sentimen China itu masih bertahan. Shinta Febriany, penyair dan sutradara teater, yang menjadi moderator diskusi, menambahkan dengan cerita dari penampilan teater Cha Bao Kan. Teater yang berlangsung tiga hari lalu di Societeit de Harmonie itu tidak menarik penonton dari orang China. Sangat sedikit orang China yang datang menonton.

Menanggapi pertanyaan Debra, Erni mengansumsikan kalau konflik di Banggai Laut merupakan fenomena ketok tular. Energi kekerasan di daerah konflik lain menyebar. Sebab, hanya satu televisi di tiap desa waktu itu. Sehingga, isu konflik secara nasional tidak sampai ke sana.

Para pembicara menyaksikan konflik yang berlangsung. Lalu, bagaimana mereka, secara personal, berupaya mengobati rasa trauma atau perasaan lain di dalam diri sendiri?

“Mustahil jika dikatakan kita tidak marah, tidak sebal,” tanggapan Irfan. “Rumah dibakar, keluarga dibunuh.”

Irfan mengenang masa kecil sebelum konflik. Dia memiliki sebuah mainan yang populer ketika itu, sebuah mobil tamiya. Ketika harus meninggalkan rumah, ibunya menyuruh untuk meninggalkan saja mainan itu. “Bayangkan, seorang anak kecil terpisah dari mainan kesukaannya.”

Mobil tamiya itu dia tinggalkan bersama rumah dan barang-barang lainnya. Dia dan warga lainnya dipaksa menerima kenyataan. Ketika kembali dari pengungsian, Irfan menemukan rumah dan mobil tamiya itu hangus terbakar. Hanya ingatan yang tidak bisa dibakar.

Terjadi gelombang eksodus besar ke Baubau pasca konflik Ambon. Tapi banyak juga memilih tinggal.

Rumah tetangganya tiba-tiba kosong. Anca tidak menyadari itu sebelumnya. Dia, yang masih kanak-kanak ketika itu, bermain di dalam rumah. Berlangsungnya konflik membuat dia tidak bisa bersekolah. Justru menyenangkan bagi anak-anak, kata Anca. Namun karena konflik, dia tidak menemukan teman, dan tidak mengetahui ke mana mereka pergi. “Saya tidak menginginkan anak saya nanti mengalami dan merasakan hal serupa.”

Setelah konflik, Irfan banyak berteman dengan orang-orang beragama Kristen. Ibunya khawatir. “Bagaimana kalau nanti kamu di sana terjebak dan tidak bisa pulang,” cerita Irfan meniru perkataan ibunya. Ketakutan itu masih bermukim. Hidup bersama memori kolektif: banyak orang yang terbakar ketika konflik berlangsung karena mereka terjebak.

Satu hal yang tidak pernah dilakukan di Indonesia pasca konflik adalah pemetaan korban. Menurut Irfan, itu perlu dilakukan. Karena trauma yang dialami setiap korban berbeda-beda.

Pelaku pembakaran sejumlah fasilitas umum di desanya tidak pernah diketahui. Termasuk rumah sakit, cerita Erni. Karena itu, penduduk desa tetangga, yang terluka dan memerlukan pengobatan, harus menempuh perjalanan lebih lama ke kabupaten menggunakan perahu.

Erni menemukan bahwa sebelum konflik ruang bertemu warga dua desa itu hilang. Pasar lintas desa dan pentas seni antar desa tidak ada lagi. Sebagai resolusi, Erni dan teman-temannya menemui pemerintah desa. Mereka mengusulkan pasar lintas desa dan pentas seni antar desa diselenggarakan lagi. Karena ruang seperti itu bisa mempertemukan warga dan mereka bisa saling bertukar cerita. Sehingga, potensi konflik besar bisa dikurangi.

Ketika kerusuhan 2011 di Ambon, yang berada paling depan kerumunan melempar batu adalah anak-anak. Mereka beralasan ingin juga merasakan bagaimana konflik dulu. Ketika hendak membuat film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, banyak orang mengatakan kalau itu bisa mengorek luka lama.

Film itu harus tetap diproduksi, menurut Irfan. Sebab peristiwa konflik Ambon harus dibicarakan dengan formula yang tepat. Film Beta Maluku hendak menyampaikan kepada warga Ambon khususnya, kalau mereka adalah orang-orang yang mampu bertahan sejauh ini menghadapi konflik dan perbedaan.

Melalui film yang akan dia produksi, Anca ingin menunjukkan bagaimana anak-anak menyaksikan konflik. Gagasannya, dua anak kecil menyaksikan peristiwa pengganyangan China. “Kita pernah ada di situasi itu.” Film, pasar, pentas seni adalah ruang budaya di antara beragam bentuk lainnya. “Ruang budaya,” kata Erni “(adalah) resolusi (bagi konflik).”

Setiap orang, tutur Irfan, harus bertemu dan membicarakan konflik itu dengan terbuka. Hal pertama, kita harus mengakui perbedaan itu ada. Irfan mengilustrasikan,  “Saya memaafkanmu. Kau memaafkan saya. Sini kita cerita.” #MIWF2017 (Accang/Imhe-Tim Media MIWF)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *