Skip to main content

Alih Bahasa Melahirkan Karya Baru

Alih Bahasa Melahirkan Karya Baru

Alih Bahasa Melahirkan Karya Baru

Pentingnya konsultasi dengan penulis saat menerjemahkan karya mereka.

“Mengapa Kita Perlu Menerjemahkan?” John McGlynn  melontarkan pertanyaan  ini kepada peserta Workshop Penerjemahaan yang dilaksanakan di Museum Kota Makassar, pada hari pertama Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018. Selain John dari Yayasan Lontar, ada Ronny Agustinus dari Penerbit Marjin Kiri yang juga berbagi pengalamannya di dunia penerjemahan.

Sejak pagi, pekarangan museum sudah ramai oleh peserta. Mereka berasal dari berbagai profesi, ada mahasiswa, dosen, penerjemah, dan penulis. Aisyah, seorang penerjemah lepas mengungkapkan bahwa ia menjadi penerjemah karena ingin membuat lebih banyak orang mengerti tentang sebuah karya, baik itu karya sastra maupun karya dalam bentuk lainnya.

John yang telah berpengalaman selama puluhan tahun dalam dunia penerjemahan memberi anggukan setuju atas penyataan Aisyah tersebut. “Pada dasarnya, apa yang Anda sebutkan merupakan inti utama mengapa kita melakukan penerjemahan.” Menurut John, tahapan pertama untuk menjadi penerjemah adalah memahami mengapa kita perlu menerjemahkan suatu karya.

John sendiri mengawali ketertarikannya untuk menjadi penerjemah dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, karena menemukan kenyataan bahwa saat itu masih sangat sedikit, bahkan bisa dikatakan tidak ada buku-buku sastra Indonesia yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris.  Hal ini juga yang kemudian menjadi pemicu pendirian Yayasan Lontar bersama beberapa sastrawan Indonesia.

Menurut John, dalam proses alih bahasa seorang penerjemah tentu akan menghasilkan sebuah karya baru, tapi karya terjemahan tersebut tidak boleh kehilangan makna dari karya aslinya. Hal senada diungkapkan Ronny, menurutnya dalam proses menerjemahkan karya, yang dibutuhkan bukanlah semata-mata kemampuan berbahasa asing.  Terutama dalam menerjemahkan karya sastra, diperlukan skill dan pemahaman yang mendalam terhadap karya yang akan diterjemahkan tersebut.

Ronny juga menggarisbawahi, pentingnya berkonsultasi dengan penulis saat menerjemahkan sebuah karya. “Konsultasi dengan penulis akan sangat membantu penerjemah memahami karya dan bisa juga menjadi kesempatan untuk berdiskusi mengenai makna tulisan yang mungkin masih membingungkan.”

Setelah menerjemahkan, kata John, mintalah orang lain untuk membaca hasil terjemahan tersebut. Lalu beranilah untuk menerima pertanyaan maupun masukan demi menghasilkan karya terjemahan yang baik. Berbeda dengan John, Ronny justru memilih membaca karya tersebut dengan bersuara sesuai ritme tulisan, dengan begitu ia bisa mengecek apakah makna terjemahan tersebut sudah sesuai atau belum.

Terkait profesi penerjemah di Indonesia, hal yang masih disayangkan menurut John adalah penghasilannya. Hingga saat ini,  para penerjemah bisa dikatakan belum mendapatkan penghasilan yang sesuai beban pekerjaan mereka. Ronny menambahkan bahwa hingga saat ini, di Indonesia ruang-ruang untuk melakukan kritik sastra, termasuk sastra terjemahan, masih sangat kurang jika dibandingkan dengan luar negeri.  Sehingga media untuk mengamati kualitas terjemahan suatu karya hampir tidak ada.

Selama 2 jam acara berlangsung sangat interaktif, dimana pertanyaan maupun tanggapan peserta cukup beragam.

|HARLYSTIA RINI

 

 

 

Time