Skip to main content

Bersahabat Dengan Bencana

Bersahabat Dengan Bencana

Pengetahuan dan pemahaman menyeluruh tentang mitigasi bencana adalah krusial dan dibutuhkan untuk Indonesia.

“Gempa yang besar belum tentu memberikan dampak yang banyak. Pun sebaliknya, gempa yang kecil belum tentu memberikan dampak yang sedikit. Ada banyak perisitwa yang telah membuktikan hal ini,” ungkap Kazuhisa Matsui, dari Perusahaan Matsui Glocal LLC Japan saat diskusi tentang “Less, Disaster, Resilience”, Kamis, 27 Juni 2019 di Ruang La Galigo, Fort Rotterdam Makassar.

Makassar International Writers Festival (MIWF) melihat bahwa perbincangan soal bencana ini hal yang penting dan perlu dilakukan. Seperti Jepang, Indonesia juga bisa dibilang ‘serumah’ dengan bencana. Matsui mengatakan mitigasi adalah hal yang sangat penting untuk menghadapi bencana. Mitigasi harus terukur.

“Dengan memahami mitigasi, berarti kita bisa mengetahui potensi gempa itu secara ilmiah, terutama kondisi geografi dan topografi dari wilayah itu harus diketahui,” ujarnya.

Selain Matsui, ada Neni Muhidin, Pegiat Pustaka Mini Nemu Buku Palu; Jurnalis Metro TV, Fira Basuki; dan Ilda, jurnalis dari Kota Mataram. Diskusi dipandu Maman Suherman yang mengungkapkan bahwa data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sekitar 500 gempa yang terjadi di Indonesia setiap bulannya. Karenanya mitigasi bencana yang tepat diperlukan.

Neni, penulis puisi Nalentora mengkritisi pemerintah yang belum siap menghadapi bencana. Dengan kondisi itu seharusnya ada dokumen rencana mitigasi yang harus diperbaharui dan disimulasikan, “Indonesia ini belum ada mitigasi,” ungkap penulis asal Palu, Sulawesi Tengah ini.

Perlunya mitigasi bencana agar pemerintah bisa lebih siap. Ilda, satu jurnalis dari Kota Mataram, bercerita tentang kondisi Lombok pascagempa. Menurutnya, mitigasi menciptakan pengetahuan terhadap kondisi alam dan yang akan dilakukan jika terjadi bencana.

“Mitigasi memang ada,dan para warga sadar akan gempa. Namun, ketika gempa terjadi maka semua akan panik. Pengetahuan yang kurang juga membuat pemikiran dikait-kaitkan dengan kepercayaan,” ungkapnya.

Fira yang sering menjadi volunteer di berbagai daerah, juga berbagi pengalaman. Saat bencana terjadi, bantuan akan datang dari berbagai penjuru. Sayangnya, seringkali bantuan jadi tidak efektif karena ketidaktahuan akan kebutuhan masyarakat di daerah bencana.

“Memberikan bantuan tidak hanya sekadar memberikan bantuan, akan tetapi harus melihat kebutuhan yang diperlukan,” ungkapnya.

Lanjut Fira, misalnya mi instan, pakaian, itu ternyata tak efektif. Lebih efektif ketika nasi bungkus yang diberikan. Bukan hanya itu, pemulihan pascabencana juga harus dilakukan.

Saat sesi tanya jawab, Rani, peserta diskusi yang pernah ikut liputan di Palu saat bencana juga berbagai pengalaman. Menurut wartawan Kompas ini, potret yang terjadi di lapangan adalah potret di mana masyarakat harus antre, untuk mendapatkan bantuan, khususnya bantuan pangan. Apesnya, bantuan logistik yang tak seberapa ini harus dibayar dengan proses antre yang cukup lama. Bahkan untuk mendapatkan bantuan, tak jarang mereka harus berurusan administrasi. “Padahal ini urusan kemanusiaan.”

Sebagai penutup diskusi, Maman selaku moderator mengatakan bahwa literasi dan mitigasi bencana di Indonesia masih sangat rendah. Padahal pengetahuan dan pemahaman yang menyeluruh tentang mitigasi bencana adalah hal yang krusial dan dibutuhkan untuk Indonesia. Semoga kita lebih siap dan lebih bersahabat saat bencana. (*)

Dwi Magfirah Jasal