Skip to main content

Bertarung Dalam Sarung - Resensi Buku MIWF

Bertarung Dalam Sarung - Resensi Buku MIWF

Bertarung Dalam Sarung

“Tercipta sebagai sarung, tubuh ini sudah koyak sebelum dikena kawali dari gerak lincah dua manusia kebal. Kau bebal. Percuma saya berteriak atau bahkan memberontak. Kau tak akan mendengar dan peduli. Menyedihkan menjadi saksi dua pinggul lelaki kekar menegakkan siri’. Kau sengaja menjebak tubuh mereka di tubuh saya yang berongga,”

Paragraf pembuka salah satu cerita pendek (Cerpen) dalam kumpulan Bertarung Dalam Sarung milik Alfian Dippahatang ini, membuat saya terpesona.

Menggunakan majas personifikasi, sarung sebagai tokoh, mengungkapkan kegelisahan dan kekecewaannya dimana sering menjadi alat dan saksi dua orang lelaki saling tikam di dalam ruang berongganya. 

Berawal dari kisah cinta yang pupus, Pujie dan dijodohkan secara terpaksa oleh ibunya yang dipanggil dengan sebutan Indo, ternyata membuat Pujie melampiaskan apa yang dialaminya pada putrinya, Cenning. Dia memilih Tarung sebagai pria yang cocok mendampingi Cenning, dengan melihat garis keturunan. Tarung sebagai anak ulama. Di satu sisi, Cenning justru mencintai Bombang, tetapi ditolak Pujie karena dianggap sebagai anak yang mewarisi darah Manusia Merah di tahun 1965. 

Tak ada sedikit pun keraguan bahwa kesedihan Cenning akan reda. Perjodohan itu harus tetap dijalankan, hingga diputuskan penyelesaian kisah cinta Cenning, harus melalui pertarungan saling tikam dalam sarung.

Dalam cerita ini, Alfian membangun personifikasi berupa sarung yang menceritakan adat di masyarakat Bugis. Hal itu dapat terlihat pada kalimat “Semuanya di luar akal sehat. Kau tega menyuruh mereka saling tikam. Kau malas mencari cara yang lebih beradab dan seperti menganggap ini jalan terakhir menyelesaikan persoalan,” 

“Bombang dan Tarung mandi keringat dan terus membasahi tubuh saya demi memperjuangkan perasaan, yang puncaknya memperjuangkan harga diri. Tidak saya rasakan ada malu dalam duel lelaki Bugis ini. Keduanya buta adab, entah apakah yang diperjuangkannya dari adat?” 

Kedua lelaki itu terus berjuang agar tidak tumbang

Sarung menjadi suara atas gugatan terhadap salah satu cara menyelesaikan masalah. 

Alfian membangun cerita dengan menganggkat sejarah, budaya, serta kritikan dengan cara yang apik dan diksi yang mudah dipahami (selain dari bahasa lokal Makassar), tapi terdapat keterangan di akhir cerita yang memudahkan pembaca di luar Sulsel.

Akhir dari cerita ini memang tak terduga, apalagi Alfian bercerita dengan alur maju mundur, tetapi dengan tatanan plot yang mudah dipahami.

Pada cerita lain berjudul Ustad To Balo, Alfian mengangkat suku di pedalaman Kabupaten Barru. Perbedaan warna kulit (belang) menjadikan sang tokoh mendapat perlakuan berbeda oleh sebagian orang. 

Bukan Sayid, juga saya membacanya sebagai sebuah gugatan bertapa masih banyak orang yang juga masih mempersoalkan strata sosial yang sebenarnya justru dibangun oleh masyarakat itu sendiri. Padahal bukankah manusia di mata Tuhan sama, kecuali dari perbuatannya yang membedakan?

Tidak lupa juga isu lingkungan diselipkan Alfian pada cerita Orang-orang Dalam Menggelar Upacara. Sebuah penghormatan pada hutan yang menjadi sumber kehidupan dan upaya menjaga keseimbangan ekosistem alam diceritakan dalam cerpen ini, khususnya di Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. “Pantang bagimu menebang pohon sembarangan. Musibah bakal menimpa jika kau terbukti melanggar dan upacara adat akan digelar untuk menentukan masa depan,”

Secara keseluruhan, membaca kumpulan Cerpen ini, memberi banyak informasi tentang banyak hal yang terjadi dalam masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan. Buku ini berisi 19 cerita pendek, yang bagi saya banyak mengangkat soal mitos, takhayul, identitas kultural, sejarah, isu lingkungan, juga menggugat rasa kemanusiaan. 
Semuanya disuarakan dengan apik dan diksi sederhana oleh Alfian, ke dalam sebuah semesta cerita. Apalagi, banyak istilah atau bahasa lokal yang dimasukkan ke dalam cerita-cerita ini.

Judul: Bertarung Dalam Sarung 
Penulis: Alfian Dippahatang
Penyunting: Udji Kayang
Perancang Sampul: Harits Farhan
Penata Letak: Teguh Tri Erdyan 
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2019
ISBN:  978-602-481-100-6
Jumlah halaman: 146