Skip to main content

Big Ideas with Perahu Pustaka & Theater Polyglot

Bagaimana Menggerakkan Komunitas Literasi?

 

Setiap tahun, MIWF selalu berusaha menghadirkan program dengan tema mengembangkan sebuah ide sehingga dapat menjadi sebuah karya yang berkontribusi terhadap masyarakat. Tahun ini, salah satu program tersebut adalah Program Big Ideas: Creating Storytelling Program for Community Library yang menghadirkan Ridwan Alimuddin dari Komunitas Perahu Pustaka dan Sue Gills dari komunitas Theater Polygot Australia dan dipandu oleh Rahmat HM, penulis yang juga salah satu aktivis dalam komunitas Floating School di Pangkep.

Melalui program ini, kedua pembicara menceritakan bagaimana asal mula terbentuknya komunitas mereka, kendala-kendala yang dihadapi serta bagaimana mempertahankan “spirit” untuk tetap konsisten dalam perjalanannya.

Ridwan Alimuddin menceritakan bahwa komunitas Perahu Pustaka sudah berdiri sejak Maret 2015 dan diinisiasi oleh Nirwan Ahmad Arsuka dan Anwar Jimpe Rahman, penulis dan juga aktivis literasi yang menganggap sangat perlu adanya perpustakaan bergerak yang dapat menjangkau daerah-daerah yang bisa dibilang kesulitan mengakses sumber bacaan sendiri di Sul-Sel.

“Karena daerah Mandar adalah daerah maritim maka dipilihlah perahu sebagai media penggeraknya,” ujar Ridwan yang mengaku sudah 20 tahun bergerak di komunitas literasi.

Saat ini perpustakaan Perahu Pustaka yang dikelola oleh Ridwan ini telah memiliki kurang lebih 10 ribu buku yang disimpan di sebuah perpustakaan di Mandar, 3 buah perahu dan 2 mobil APV. Perpustakaan Perahu Pustaka ini didesain sedemikian rupa sehingga memiliki banyak spot-spot menarik sehingga bisa sekaligus berfungsi sebagai obyek wisata literasi. Terkait kendala, menurut Ridwan yang paling utama adalah ketersediaan sumber daya manusia, karena menurutnya sebuah komunitas untuk bisa berjalan dengan baik dalam jangka waktu yang panjang perlu dukungan SDM yang ahli di bidang tertentu, misalnya dibidang akunting, bisnis, dsb. Hal ini dibenarkan oleh Sue Gills, yang mengungkapkan bahwa di Polygot hal yang terpenting adalah partisipasi. Bagaimanapun, semua program yang dibuat tidak akan dapat berjalan dengan baik jika tidak melibatkan orang-orang, dewasa maupun anak-anak, dengan kemampuannya masing-masing. Sue menceritakan bahwa di Polygot anak-anak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan diri dan berimajinasi melalui permainan, membuat karya seni dengan tangan dan melakonkannya bersama-sama.

Hal yang menarik pada acara ini adalah di akhir sesi, Sue mengajak peserta yang hadir untuk bermain dengan kertas dank rayon. Dimana setiap peserta diberi tugas untuk menggambar kucing dengan mata tertutup. Setelah selesai, banyak sekali tanggapan dari peserta. Sebagian besar mengungkapkan, bahwa saat menggambar dengan mata tertutup Ia merasakan rasa takut salah dan yakin bahwa gambarnya pastilah tidak bagus. Sue mengiyakan hal ini. Menurutnya hal inilah yang terjadi pada orang dewasa, dimana saat Ia ditugaskan menggambar dengan mata tertutup, Ia merasa segala hal yang Ia tahu dan dapat memandunya lepas dari kendalinya. Hal ini berbeda dengan anak-anak, dimana mereka bisa bebas mengekspresikan pikirannya tanpa perlu terbatasi oleh aturan tertentu. Pemahaman terkait proses ini, menurut Sue sangatlah penting, namun, orang dewasa sering melupakan hal ini. Mereka lupa bagaimana rasanya menjadi anak kecil.

 

Kontributor: Harlystiarini

Time