Skip to main content

Book Discussion: Cinta Paling Rumit oleh Boy Chandra

Book Discussion: Cinta Paling Rumit oleh Boy Chandra

Sharing Session & Book Discussion: Cinta Paling Rumit digelar di gedung Chapel, Fort Rotterdam dengan pembicara Boy Candra sebagai penulis buku Cinta Paling Rumit. Dimoderatori oleh Rachmi Chaer yang ternyata juga adalah seorang penggemar Uda Boy, sesi sharing berlangsung sangat seru dan interaktif. Antusiasme peserta sesi begitu terlihat dari aktifnya mereka bertanya dan penuhnya ruangan hingga banyak dari mereka yang terpaksa harus duduk di lantai.

Beberapa peserta Sharing Session & Book Discussion bahkan ada yang datang dari luar kota seperti Kota Sorowako, Luwu Timur, dan Kendari demi bertemu dan berdiskusi langsung dengan Boy Candra.

Boy Candra adalah penulis dengan genre romansa yang memang menyasar pembaca usia muda. Ia sendiri mengakui bahwa target pembaca bukunya adalah mereka yang berada di rentang usia antara 13 hingga 25 tahun. Ia telah menulis belasan buku sepanjang karirnya sebagai penulis dan buku Cinta Paling Rumit ini adalah bukunya yang ke-13.

Meskipun ia dikenal sebagai penulis cerita-cerita galau, namun, dalam Book Discussion ini ia mengaku awalnya ia menulis komedi karena terinspirasi dari Raditya Dika. “Awalnya saya menulis komedi, tapi ternyata saya tidak lucu,” kata Boy Candra dengan nada bercanda.

Dalam Sharing Session & Book Discussion ini Boy Candra sempat menyinggung soal pembajakan buku yang merugikan penerbit. Menurutnya, pembajakan dapat mematikan industri penerbitan dan hal itu tidak baik untuk peradaban. “Kualitas peradaban kita akan semakin jauh tertinggal karena industri penerbitan mengalami kemunduran dan tidak ada lagi buku-buku berkualitas bagus untuk dibaca,” tuturnya.

Salah satu peserta perempuan yang berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia melontarkan pertanyaan tentang tantangan apa yang dihadapi Boy sebagai penulis di era moderen, yang kemudian dijawab olehnya lewat beberapa poin seperti:

Penulis harus siap sukses dan gagal dalam waktu yang sama

Menerbitkan buku baru awal, tantangan sebenarnya adalah mempromosikan buku tersebut agar laku di pasaran. Dan sudah pasti ada kemungkinan gagal.

Pembajakan

Ia mengulang penjelasannya tentang pembajakan buku yang mampu mematikan industri penerbitan, dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi penulis dan penerbit untuk bersama-sama melawan pembajakan.

Menjaga konsistensi

Menulis buku adalah perkara konsistensi dan melawan kemalasan diri sendiri. Acara ditutup dengan foto bersama dan pesan dari Boy Candra untuk para penggemarnya yang juga berniat menjadi penulis.

“Jangan menghindari kritik karena kritik membantu kita untuk berproses menjadi lebih baik lagi.”

 

Kontributor: N Firmansyah

Time