Book Discussion: Laut Bercerita feat. Leila S. Chudori

Makassar – Leila S Chudori membuka rangkaian Makassar International Writer Festival melalui program Book Disscussion Dont Judge the Book by Its Movie: Laut Bercerita. Diskusi yang berlangsung pada Rabu, 2 Mei 2018 di lantai 2 Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin ini diisi dengan penayangan film pendek adaptasi dari novel Laut Bercerita serta video behind the scene selama proses shooting .

"Sudah 20 tahun berlalu sejak kejadian 1988 terjadi. Selama kunjungan ke beberapa universitas, mahasiswa mengaku banyak yang terkejut ketika membaca mengenai tragedi penculikan yang tak terbayangkan oleh generasi sekarang. Untuk itu novel ini berusaha untuk mengingatkan kembali pada masyarakat mengenai kelamnya pemerintahan pada masa Orde Baru,” ujar Leila S Chudoris. Faisal Oddang, penulis muda peraih cerpen terbaik Kompas yang berperan sebagai moderator diskusi, ikut menambahkan bahwa karya sastra dapat menjadikan sejarah sebagai tulang punggung bercerita. 

Mbak Leila, yang juga populer oleh karyanya Pulang (2015), pun sengaja memilih bentuk film dalam meluncurkan novel Laut Bercerita. “(antara) Buku dan film sebenarnya nggak berjarak. Medium film dipilih karena kita mau membuat suatu novelty sebagai pendamping peluncuran buku,” ungkap Leila selama sesi program. “Aku pun nggak banyak terlibat dalam proses pembuatan film, hanya bantu dengan menulis naskah saja,” tambahnya. 

Film yang disutradari oleh Pritagita Arianegara ini berdurasi selama 30 menit. Selain itu, pemain-pemain yang sudah matang pun bersedia untuk berkontribusi secara sukarela, seperti Reza Rahardian, yang berperan sebagai Biru Laut, Dian Sastro yang berperan sebagai Anjani serta Ayushita yang memerankan Asmara Jati.

“Diduga orang-orang yang hilang tersebut tenggelam di dasar laut, itulah yang menjadi inspirasi untuk nama tokoh 'Biru Laut’,” jawab Mbak Leila pada pertanyaan dari peserta mengenai filosofi dibalik nama tokoh di dalam novel Laut Bercerita. Nama Asmara Jati dan Anjani juga sengaja dipilih untuk menampilkan sosok tokoh perempuan yang kuat.

Buku dan film Laut Bercerita berfokus pada tragedi pelanggaran HAM yang pernah terjadi pada tahun 1998 silam. Salah seorang peserta diskusi dari kalangan mahasiswa mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sensitifnya isu tersebut, mengingat ketakutan untuk ditangkap tidak hilang. Untungnya, Mbak Leila menepis kekhawatiran tersebut.

“Sejauh ini syukurnya Saya masih aman-aman saja. Justru menurut Saya, topik yang sensitif sekarang ini adalah penulis yang mengangkat isu politik, terutama berkaitan dengan agama dan ras,” tepisnya.

Aula gedung tempat diskusi berlangsung tidak hanya dipenuhi oleh mahasiswa, beberapa dosen juga ikut aktif memberi tanggapan dan pertanyaan terkait dengan buku Laut Bercerita. Mbak Leila memberikan hadiah notes bercorak Laut Bercerita pada pemberi pertanyaan menarik. Gramedia Penerbit Utama juga menjual novel Laut Bercerita di pojok ruangan bagi peserta yang belum memiliki buku.

Laut Bercerita sebenarnya tidak berangkat dari naskah besar topik. Cerita yang ditawarkan murni berangkat dari sosok/ karakter. Faisal Oddang sendiri selaku moderator mengatakan bahwa Laut Bercerita bertutur dengan mengambil dua sudut pandang: Sudut pandang keluarga yang kehilangan dan aktivis yang dihilangkan. Apabila diberi kesempatan untuk membuat film layar lebar, Mbak Leila juga akan memfokuskan pada tema keluarga, sebab dinamika dan output yang berbeda dari keluarga sangat menarik untuk dibahas.

Acara diskusi buku selesai pada pukul 12.40, Mbak Leila memberikan waktu bagi penggemar yang meminta tanda tangan dan berfoto. Seluruh peserta keluar ruangan dengan kepala puas penuh inspirasi.

 

Kontributor: Nisrina Hanifah & Reyhan Ismail

 

Time