Skip to main content

Book Launch: Arah Langkah oleh Fiersa Besari

MAKASSAR – Sepenggal kisah cinta antara dirinya dan wanita yang bernama Mia tertuang mesra berbalut drama romantisme yang menyayat hati. Itulah yang coba ditawarkan oleh Fiersa Besari, penulis sekaligus pecinta mendaki gunung, dalam launching buku terbarunya yang berjudul “Arah Langkah”. Disemarakkan oleh puluhan fansnya yang sangat antusias, peluncuran bukunya kali ini berlangsung di Chapel Fort Rotterdam, Jumat 4 Mei 2018, dari pukul 14.00-15.30 WITA.

Dimoderatori oleh penulis asal Makassar, Ibe S. Palogai, peserta yang hadir tersulap dengan berbagai untaian kata-kata romantis Fiersa Besari berpadu dengan cerita asal-usul pembuatan bukunya ini. “Saya menutup studio rekaman, menjual alat band untuk memutuskan pergi. Menemukan pengalaman di tempat baru. Hal yang tidak saya dapatkan di tempat saya sakit hati," ujarnya sambil tersenyum.

Fiersa Besari juga bercerita tentang proses penciptaan buku ini. “Buku ini dibuat dengan memanipulasi emosi saya sendiri. Kita tidak perlu sakit hati untuk menulis, ataupun harus marah untuk kemudian mengkritik, karena yang kita perlukan adalah meditasi," ucapnya. Saat ditanya mengenai kiat seorang Fiersa Besari untuk terus menghidupkan kenangan di pikirannya, dia berujar “Bagi saya inspirasi itu dari lagu dan wangi-wangian. Dua hal itu sebagai mesin waktu tercepat untuk memanggil kenangan”, ujarnya sambil diiringi tepuk tangan peserta. “Ketika di perjalanan jangan lupa bikin kerangka untuk tetap mengembalikan waktu."

Mengangkat sosok seorang Mia, yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya, dianggap Fiersa sebagai bagian kenangan bahwa dirinya dan Mia pernah ada. “Sosok Mia adalah titik nol dari perjalanan buku ini. Awalnya saat izin, dia menolak untuk dicantumkan nama aslinya di bukunya, tapi setahun setelahnya sebelum buku ini diterbitkan dia akhirnya menyetujui untuk dicantumkan nama aslinya. Pas mau izin ke suaminya, eh gak bisa karena dia block gue," ujarnya sambil tertawa.

Perkembangan peminat dunia literasi dari kacamata seorang Fiersa pun tidak luput menjadi bahan pertanyaan dari peserta. Dia pun berujar “Kami punya Komunitas Pecandu Buku. Setiap hari saya melihat orang-orang senang membaca dan mengulas buku. Sehingga saya cukup optimis ke depannya semakin banyak orang yang membaca buku. Setiap orang punya cup of tea-nya masing-masing, tidak perlu memaksakan untuk membaca buku tertentu, yang terpenting kalian tetap membaca."

Tidak lupa Fiersa juga berbagi cara untuk memanajemen waktunya dengan baik. “Tidur itu kemewahan bagi saya. Begadang seharian, pas pagi mengorbankan diri. Gue gak bisa seperti itu. Ya cukup berlaku adil terhadap diri kita sendiri," ucapnya. Fiersa juga turut menjawab salah satu pertanyaan peserta tentang apakah tulisannya menggambarkan sosoknya yang sering patah hati. “Nggak kok, gak sesering itu patah hati. Ya bagi saya, setiap cerita itu harus disusupi dengan hal berat agar pemikiran kita dapat berkorelasi."

Fiersa kemudian memberikan closing statement yang ditujukan untuk semua para generasi muda yang bermimpi untuk menjadi penulis terkenal. “Perjalananmu bukan hanya pemuas batin semata, tetapi ada yang bisa kalian berikan ke orang lain. Maka tetaplah membaca. Karena orang-orang yang membacalah yang akan tetap menulis, dan orang yang menulislah yang akan membawa Indonesia lebih baik ke depannya," tutupnya sambil diiringi tepuk tangan peserta.

 

Kontributor: Muh. Haris

Time