Skip to main content

Book Launch: Bhinneka Tunggal Cinta dan Bapakku Indonesia oleh Maman Suherman

Book Launch: Bhinneka Tunggal Cinta dan Bapakku Indonesia oleh Maman Suherman

MAKASSAR – Dalam rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 yang berlangsung pada Rabu, 2 Mei 2018 di Gedung K2 Fort Rotterdam, Maman Suherman merilis dua buku terbarunya: Bhinneka Tunggal Cinta dan Bapakku Indonesia. Dimoderatori oleh Irwan A.R., kegiatan yang berlangsung pukul 16.00 – 17.30 WITA ini dihadiri oleh berbagai kalangan dan para pecinta literasi dari berbagai daerah.

Menurut pria yang akrab disapa dengan panggilan Kang Maman, kedua buku bercerita tentang kehidupannya saat masih di Makassar dulu. Dia terinspirasi untuk berbagi pengalaman sekaligus menceritakan perbandingan antara Makassar tempo dulu dengan kondisi yang sekarang. “Buku ini berisi tentang kisah sedih, romantis, hingga cerita lucu yang pernah saya alami," ujarnya.

Salah satu hal yang diangkat dalam bukunya adalah cerita tentang asal usul keluarganya. “Jadi Bapak saya adalah orang Sunda, Mama saya orang Makassar. Dulu teman saya sering bilang “Makassar Jawa makan kutu, di Bandung saya dikatakan dari antah berantah, lalu saya ini darimana sebenarnya?" ujarnya sambil tertawa.

Selain itu, buku yang diterbitkan oleh Penerbit KPG tersebut turut menyinggung persoalan uang panaik. “Jadi dulu ada teman saya bilang “orang Makassar memang punya cinta? Bukannya wataknya kasar?” terus saya jawab orang Makassar itu romantis loh. Buktinya mereka membuat perahu La Galigo. Cuma sering terhambat karena uang panaik," ujarnya sambil tertawa. Kang Maman mengatakan, di bukunya ini terungkap mengenai kehidupan percintaannya. “Cinta pertama saya ada di Makassar. Namanya Raodhatul Jannah. Dulu saya hampir tiap hari lewat di rumahnya. Saya juga sering mengirimkannya puisi, salah satunya puisi saya yang terbit di koran. Sejak saat itu saya jadi semakin suka membuat puisi," tuturnya sambil tersenyum malu.

Dia juga tidak lupa menceritakan tentang sisi sedih dari perjalanan hidupnya. “Bapak saya meninggal tahun 1982, saya masuk kuliah tahun 1984, dan saya harus menghidupi biaya kuliah saya dari menulis”. Kang Maman juga berbagi cerita tentang nenek yang sangat dia cintai. “Dulu nenek saya setiap mendengar suara adzan pasti warungnya ditutup, semua pengusirnya diusir. Pernah di suatu hari saat sholat Dzuhur saya mengajarkan nenek saya membaca dan belajar bacaan salat, setelah itu dia salat sambil mengeraskan suaranya. Setelah selesai, dia bertanya ke saya “apakah bacaanku sudah benar?” Saya jawab, iya. Lalu nenek saya bilang “berarti saya sudah siap." Ternyata kata siap itu berarti siap untuk menghadap Allah, dan beberapa hari kemudian nenek saya terkena kanker serviks stadium 4 hingga akhirnya nenek saya meninggal di pangkuan saya," ujarnya sambil menitikkan air mata.

Saat seorang peserta bertanya mengenai tips Kang Maman agar tetap mengingat kenangan-kenangan dalam hidupnya, Kang Maman menuturkan bahwa penting untuk membuat sebuah catatan kecil. “Apapun yang berkenan pasti akan saya catat, bahkan kalau perlu saya berikan tagar sesuai topiknya sehingga bisa dicari dengan mudah. Contohnya di smartphone saya ini berisi tentang catatan kenangan hidup saya yang berharga”, ujarnya sambil menunjukkan daftar catatan di hpnya.

Di akhir diskusi, Kang Maman menutup kegiatan sore itu dengan sebuah petuah bijak. “Tanamkanlah rasa gelisah, gelisah untuk terus bertanya, agar kalian tetap dapat terus berkarya. Contohnya saya, karena sering bertanya maka rambut saya tidak tumbuh," tutupnya sambil tertawa.

 

Kontributor: Muh. Haris

Time