Skip to main content

Book Launch: Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi

Book Launch: Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi

MAKASSAR – Penulis muda asal Makassar, Ibe S. Palogai, merilis buku keduanya yang berjudul “Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi” dalam rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 di Gedung DKM Fort Rotterdam, Kamis, 3 Mei 2018. Dipandu oleh moderator Shinta Febriany, Ibe menuturkan buku keduanya ini adalah karangan puisi yang menceritakan tentang sejarah perang Makassar dengan dielaborasikan secara imajinatif. “Saya mengendapkan diri selama 4 tahun untuk membuat buku ini. Ada dua peristiwa ikonik yang menjadi latar belakang buku ini yaitu konteks sejarah perang Makassar serta luapan imajinasi," tuturnya.

Ketika ditanya mengenai alasan mengangkat perang Makassar sebagai ide pembuatan puisinya, Ibe berujar “Di Makassar, orang-orang tampak seolah mempunyai wilayah teritori di sekelilingnya, yang ketika dilanggar praktis mereka seolah ingin berperang satu sama lain. Selain itu saya merasa lebih menarik membahas asal usul kedaerahan dan konflik yang terjadi di daerah," jawabnya. Selain itu, Ibe juga menjawab pertanyaan salah satu peserta tentang alasan menceritakan sejarah perang Makassar melalui sastra puisi. “Saya tertarik menggunakan medium puisi karena saya meyakini puisi mempunyai peluang untuk menawarkan metafora-metafora lain," ungkapnya.

Pemuda yang merupakan lulusan Universitas Hasanuddin ini juga menyelipkan beberapa petuah bijak yang dapat kita ambil dari karya puisi yang ada di dalam bukunya. “Kita belajar dari seseorang yang tidak ada apa-apanya menjadi pahlawan. Kita juga belajar dari perjalanan suatu kota atau kerajaan yang 10-50 tahun menjadi rumah raksasa." Dia juga mengungkapkan sisi kritis yang terkandung dari karyanya. “Yang alpa dari ilmu pengetahuan adalah kita tidak pernah belajar untuk menyikapi kekalahan. Yang terjadi adalah ketika kita kalah, mereka menganggap harga diri kita direbut." 

Terbitnya buku ini, menurut Ibe adalah gerbang untuk mengenal Makassar dari sisi lainnya. Hal itu pula yang membuat Ibe merasa banyak mengalami tantangan saat pembuatan buku ini. “Tantangannya adalah saya harus berpindah-pindah dari suatu wilayah untuk memperoleh informasi. Perbedaan pandangan dan pendapat mengenai informasi tertentu juga kadang menimbulkan perdebatan bagi saya saat membuat frase puisi," ujarnya.

Ibe kemudian menutup kegiatan dengan menyampaikan satu sudut pandangnya mengenai kebudayaan. “Satu-satunya yang tidak pernah berubah adalah rumah. Karena dengan rumah akan mengingatkan kita kembali tentang asal usul kebudayaan kita," ujarnya.

Kontributor: Muh. Haris

Time