Skip to main content

Book Launch: Konsepsi Semesta Manusia dalam Konteks Realitas

Book Launch: Konsepsi Semesta Manusia dalam Konteks Realitas

 

MAKASSAR – Hari terakhir rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) Sabtu, 5 Mei 2018, diramaikan dengan program rilis buku oleh Penulis Nirwan A. Arsuka yang berjudul “Semesta Manusia”. Dengan dipandu oleh Alwy Rachman, kegiatan yang dihadiri oleh puluhan peserta ini berlangsung di Gedung K1 Fort Rotterdam Makassar pukul 16.00-17.30 WITA. Nirwan berbagi banyak cerita mengenai latar belakang pembuatan bukunya sekaligus menyampaikan sudut pandangnya mengenai alam, manusia, budaya, agama hingga perkembangan dunia literasi Indonesia.

Alwy Rachman memulai percakapan hangat sore itu dengan menuangkan impresinya terhadap buku "Semesta Manusia" karya Nirwan ini. "Buku ini bisa dibaca dimana saja. Buku ini membahas persoalan peradaban dari masa ke masa. Menjelaskan bahwa kadang-kadang kita sebagai manusia menganiaya dirinya sendiri yang menunjukkan kapasitas-kapasitas purbanya untuk saling menyerang,” ujarnya mengawali.

Kemudian Nirwan A. Arsuka bercerita lebih jauh mengenai bukunya ini. "Empat puluh persen isi buku ini dibuat oleh saya, sisanya 60% dari penerbit, editor, maupun orang-orang yang menyumbangkan idenya. Buku ini juga sebagai peringatan atas apa yang sudah saya kerjakan", ungkapnya. Dia juga mengungkapkan bahwa banyak tulisan dari Pramoedya Ananta Noer yang menjadi inspirasi dari isi buku ini. "Saya terinspirasi dari buku Tetralogi Pram, mengenai akal bumi yang mengubah, bahkan mengangkat manusia. Meski baru seumur jagung, lewat waktu sudah saya dapatkan ilmu dan teknologi sebagai berkah,” ujarnya.

Dalam buku ini, Nirwan menggambarkan nalar manusia dan alam semesta. "Yang berubah dari proses penalaran adalah penguatan metode ilmiah dan konsepsi terhadap bumi. Alam semesta di luar jangkauan, namun bisa membesar, bukan hanya mengubah bumi tapi alam semesta,” ungkapnya. Keputusan Nirwan untuk bergelut di dunia sastra menurutnya karena dipicu sebuah dorongan besar. "Dorongan terbesar datang dari sastra karena dengan sastra kita mendapat ruang untuk menjelajah sampai ke ujung,” tambahnya kemudian.

Nirwan juga menceritakan salah satu bagian isi dari bukunya yang menyangkut tentang sudut pandangnya mengenai ilmu, teknologi dan sastra. "Ilmu dan teknologi tidak mengenal asal-usul, tapi adalah sebuah karya yang harus diserap seutuhnya. Panduan sastra bukan hanya dari teori, satu-satunya jadi bukti kredibilitas karyanya adalah koherensi internal dari karya tersebut, dia tidak membutuhkan hakim dari luar,” ungkapnya detail.

Menurut Nirwan, sastra harus mampun ditempatkan sebagai sebuah komponen untuk membangun peradaban modern. "Orang menulis bukan hanya untuk menggambarkan dunia, tetapi juga untuk mengubahnya. Dan hanya di sastra modern kita bisa menemukan manusia secara utuh, bukan lagi hanya satu dimensi. Menggambarkan realitas manusia dengan menjadikan alam semesta sebagai berkah potensial untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Saat sesi tanya jawab berlangsung, seorang peserta bertanya perihal perspektif berpikir Nirwan mengenai peranan manusia dan semesta. "Secara faktual, pandangan yang berkembang manusia hanya memiliki peran yang kecil dalam masyarakat sehingga lebih mudah dikontrol. Akhirnya, mereka seolah hanya menerima nasib dan memaknai hidupnya secara sederhana. Mestinya perkembangan teknologi menuntut semakin besarnya peran manusia, kalau tidak kita akan hanyut,” jawabnya.

 

Tidak lupa, Nirwan juga menitipkan amanah kepada semua penulis. "Kita perlu merangsang para penulis untuk terus mengembangkan metafora, diksi dan bahasanya. Bukan dasarnya hanya secara naif tetapi dengan agenda yang jelas", ujarnya sambil diiringi tepuk tangan.

 

Kontributor: Muh. Haris

Time