Skip to main content

Book Launch: Pembangkangan di Meja No.8

Book Launch: Pembangkangan di Meja No.8

Tahun ini MIWF 2018 kembali mengadakan program book launch dari berbagai penulis, penerbit, dan latar belakang yang berbeda - beda. Jamil Massa, salah seorang penulis dan mantan jurnalis asal Gorontalo termasuk satu dari sekian penulis yang ikut meluncurkan bukunya yang berjudul "Pembangkangan di Meja No.8.

Alumni mahasiswa jurusan komunikasi Universitas Hasanuddin itu mengungkapkan bahwa buku yang ia luncurkan kali ini adalah buku kumpulan cerpen pertamanya. "Akhir-akhir ini Saya tertarik dengan judul yang memasukkan angka," setelah ditanyakan kenapa mengambil angka delapan. Salah satu alasan, menurutnya adalah karena angka 8 memiliki keunikan tersendiri karena bentuknya yang tidak putus.

Lebih jauh, buku Pembangkangan di Meja No. 8 sebagian besar berisi tentang lokalitas dari cerita-cerita yang berasal dari Gorontalo. Menurut Jamil Massa lokalitas dalam definisinya adalah masalah - masalah yang dihadapi dalam sebuah kelompok atau daerah tertentu.

Mengutip judul buku Sapardi Djoko Damono, "Alih Wahana" yang dilakukan Jamil Massa dari melahirkan karya kumpulan puisi menjadi kumpulan cerpen menimbulkan pertanyaan dari Arkil Akis selaku moderator, apakah Jamil Massa ingin dikenal sebagai sebagai penulis puisi atau penulis cerpen.

"Untuk menjawab pertanyaan seperti itu sebenarnya berbahaya juga. Karena pada akhirnya yang menentukan kita dikenal sebagai apa adalah pembaca. Tapi kalua saya harus menjawabnya, saya ingin dikenal sebagai manusia," ungkapnya.

"Menulis puisi adalah cara saya bermain-main dengan wahana permainan. (sedangkan) Saya menulis cerpen dengan semangat bermain-main." Dari beberapa bab yang disusun dalam buku "Pembangkangan di Meja No.8" salah satu bab yang berjudul "Ganda" terinspirasi dari status media sosial.

"Media sosial adalah sebuah alat. Permasalahannya adalah bagaimana kita mengelolanya. Pintar atau tidaknya seorang individu tergantung pada bagaimana kalian memanfaatkannya (media social)."

Di sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya tentang bagaimana sulitnya merealisasikan ide dan gagasannya menjadi sebuah karya. Tentang pengelompokan karya fiksi dan non-fiksi.

"Menulis fiksi adalah cara saya hadir di tempat sebenarnya yang belum saya kunjungi," jawab Jamil Massa. Ia kemudian menambahkan "Namun tidak berarti kita tidak butuh melakukan riset.”

Program Book Launch yang dilaksanakan di Fort Rotterdam itu berlangsung satu jam lebih dengan dihadiri lebih dari 20 peserta. Selain Jamil Massa, beberapa penulis yang juga ikut meluncurkan bukunya  dalam event MIWF tahun ini adalah Fiersa Besari, Faisal Oddang, Maman Suherman dan Lala Bohang.

Kontributor: Reyhan Ismail

Time