Skip to main content

Book Launch: “Tiba Sebelum Berangkat”

Book Launch: “Tiba Sebelum Berangkat”

Sebuah buku yang menceritakan tentang potret Indonesia Timur 

Mengangkat kisah Bissu—sebutan untuk pendeta Bugis—Faisal Oddang mencoba menceritakan tentang Indonesia Timur dalam novelnya Tiba Sebelum Berangkat. Buku terbaru Faisal ini, salah satu buku yang dilauncing di Makassar International Writers Festival (MIWF), Rabu, 2 Mei 2018, di Gedung Dewan Kesenian Makassar. Dengan pembahas, Anwar Jimpe Rachman, peneliti dari Ininnawa.

Faisal mengungkapkan bahwa sebagai penulis yang lahir dan tumbuh jauh dari Kota Makassar, di Kabupaten Wajo yang berjarak sekitar 200 km dari Makassar. Berangkat dari persoalan yang agak personal berupa fragmen-fragmen masa lalu yang terjadi pada diri seseorang, Faisal mencoba menceritakan salah satu bagian sejarah Sulawesi Selatan.

“Selama ini kita selalu melihat sejarah secara Jawa-sentris. Inilah yang ingin saya hindari dan saya rasa perlu dilawan dengan narasi-narasi yang berprespektif  berbeda, yakni mengangkat sejarah dari Indonesia Bagian Timur,” ungkap Faisal.

Novel ini, kata Faisal,  ditulis awal 2016 untuk sebuah sayembara.  Namun, naskahnya tidak lolos ke babak selanjutnya. Faisal lalu memili menyerahkan ke penerbit. Di penerbit inilah, naskah novel didiskusikan, kemudian mengalami banyak penyesuaian. Terutama hal-hal  sensitif yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan kesalahpahaman oleh pihak tertentu, misalnya hal terkait pemaksaan masyarakat untuk memeluk agama Islam oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Hal ini yang membuat proses penyuntingan cukup lama, yakni sejak 2016 hingga Maret 2018.

Cerita utama dalam novel Tiba Sebelum Berangkat ini adalah sosok seorang Bissu, tokoh yang pada dasarnya terbelah, baik terbelah secara gender, terbelah secara orientasi seksual, dan terbelah secara orientasi sosial. Lewat karyanya kali ini, Faisal mencoba menceritakan tentang penderitaan Bissu. Dimana tokoh Bissu-nya bisu, ia ditangkap, disekap ditempat tersembunyi lalu lidahnya dipotong. Hasil pembacaan Jimpe, novel ini memberikan alur cerita yang pada awalnya membuat pembaca menebak-nebak akan seperti apa akhir ceritanya. Jimpe juga merasa bahwa kisah yang diangkat oleh Faisal ini memiliki aura “suram”, dalam artian bahwa keseluruhan cerita mengarah pada hal-hal yang menyedihkan, menyeramkan, bahkan terkesan jahat. Faisal mengakui hasil pembacaan Jimpe. Menurut Faisal,  semua plot dan adegan tersebut pada akhir cerita merupakan suatu hal yang memang diperlukan untuk membangun tokoh dan cerita.

Jimpe juga mengapresiasi tema besar yang diangkat oleh Faisal. Menurutnya, tema terkait orientasi seksual merupakan suatu hal yang masih jarang muncul ke permukaan. Selama ini, tema seperti ini masih menjadi bagian dari bisik-bisik dalam masyarakat dan hanya melalui tulisanlah tema ini bisa disuarakan. Pada kesempatan ini, Faisal juga mengungkapkan hal paling berat dalam proses penulisan karyanya kali ini adalah proses risetnya. Dimana ada beberapa dokumen sejarah yang tidak bisa diakses. Sehingga lebih banyak riset yang dilakukan dengan wawancara penduduk lokal di daerah Pangkep.  Faisal juga mengambil sumber riset dari hasil penelitian, baik bentuknya disertasi maupun disertasi yang telah ditransformasi menjadi buku.

Salah satu audiens mengungkapkan kekhawatirannya terkait novel ini, dimana ia takut tidak dapat begitu menikmati alur cerita karena tidak memahami latar belakang sejarah Indonesia Timur. Faisal mengungkapkan bahwa kondisi tersebut telah  diantisipasi dengan cara sebisa mungkin menghindari penggunaan istilah lokal, kecuali memang sulit untuk mendapatkan padanan kata yang tepat. Sehingga, pembaca akan bisa mengikuti cerita dalam novelnya setebal 212 halaman ini. |HARLYSTIARINI

Time