Skip to main content

Book Launch: Tiba Sebelum Berangkat, Sebuah Novel yang Bercerita Tentang Bissu

Book Launch: Tiba Sebelum Berangkat, Sebuah Novel yang Bercerita Tentang Bissu

Judul Buku                : Tiba Sebelum Berangkat

Penulis                      : Faisal Oddang

Tanggal Terbit            : 23 April 2018

Jumlah Halaman       : 212

Penerbit                     : Kepustakaan Populer Gramedia

Acara MIWF merupakan salah satu ajang yang dimanfaatkan oleh penulis untuk meluncurkan karya terbarunya. Salah satu penulis muda Sul-Sel yang turut serta dalam kemeriahan ini adalah Faisal Oddang. Pada kesempatan ini Ia meluncurkan novelnya yang berjudul “Tiba Sebelum Berangkat”. Novel bertema sejarah ini juga menghadirkan Anwar Jimpe Rahman sebagai moderator sekaligus pembahas.

Faisal Oddang mengungkapkan bahwa sebagai penulis yang lahir dan tumbuh di Wajo, sebuah Kota yang terlelak sekitar 200 kilometer dari Kota Makassar, novelnya ini berangkat dari persoalan yang agak personal berupa fragmen-fragmen masa lalu yang terjadi pada diri seseorang. Hal ini kemudian Ia kaitkan dengan sejarah yang ada di SulSel. “Selama ini kita selalu melihat sejarah dengan sudut pandang dari Pulau Jawa, atau Jawasentris. Inilah yang ingin saya hindari dan saya rasa perlu dilawan dengan narasi-narasi yang berprespektif  berbeda, yakni mengangkat sejarah dari Indonesia Bagian Timur,” jelasnya.

Novel ini, menurut cerita Faisal Ia tulis di awal tahun 2016 untuk sebuah sayembara. Namun kemudian naskahnya tidak bisa lolos ke babak selanjutnya. Naskah ini lalu diserahkan ke penerbit yang kemudian didiskusikan dan kemudian mengalami banyak penyesuaian. Banyak hal-hal yang sensitif yang dikhawatirkan dapat menjadi kesalahpahaman oleh pihak tertentu, misalnya hal terkait pemaksaan masyarakat untuk memeluk agama Islam pada masa DI/TII. Melalui proses inilah novel Faisal ini mengalami proses penyuntingan yang cukup lama, dari tahun 2016 hingga Maret 2018.

Cerita utama dalam Novel Tiba Sebelum Berangkat karya Faisal ini adalah Bissu, tokoh adat dari SulSel. Bissu adalah karakter yang pada dasarnya terbelah, baik terbelah secara gender, orientasi seksual, dan orientasi sosial. Dalam novel ini, Faisal menceritakan penderitaan Bissu dimana Ia adalah orang yang bisu, ditangkap, disekap, tersembunyi, dan lidahnya dipotong. Menurut Anwar Jimpe Rahman, novel Faisal ini memberikan alur cerita yang pada awalnya membuat pembaca menebak-nebak akan seperti apa akhir ceritanya. Anwar juga merasa bahwa kisah yang diangkat oleh Faisal ini memiliki aura “Suram”, dalam artian bahwa keseluruhan cerita mengarah pada hal-hal yang menyedihkan, menyeramkan, bahkan terkesan jahat. Faisal sendiri mengakui hal ini. Namun demikian, semua plot dan adegan tersebut pada akhir cerita merupakan suatu hal yang memang diperlukan untuk membangun tokoh dan cerita.

Anwar juga mengapresiasi tema besar yang diangkat oleh Faisal. Hal ini dikarenakan, menurutnya tema terkait orientasi seksual merupakan suatu hal yang masih jarang muncul ke permukaan. Selama ini, tema seperti ini masih menjadi bagian dari bisik-bisik di masyarakat dan hanya melalui tulisanlah tema ini bisa disuarakan.

Hal yang paling berat menurut Faisal selama proses penulisan novelnya adalah proses riset. Ia mengungkapkan bahwa ada beberapa dokumen sejarah yang tidak bisa Ia akses. Sehingga lebih banyak riset yang Ia lakukan adalah dengan wawancara dengan penduduk lokal di daerah Pangkep. Selain itu, Ia juga banyak mengambil sumber riset dari hasil penelitian baik bentuknya disertasi maupun disertasi yang telah ditransformasi menjadi buku.

Di sela-sela acara, salah satu audiens mengungkapkan kekhawatirannya terkait novel ini, yakni Ia takut tidak dapat begitu menikmati alur cerita karena Ia tidak memahami latar belakang sejarah Indonesia Timur. Namun, Faisal mengungkapkan bahwa kondisi tersebut telah Ia antisipasi dengan cara sebisa mungkin menghindari penggunaan istilah lokal, kecuali memang sulit untuk mendapatkan padanan kata yang tepat. Sehingga menurutnya, pembaca akan bisa mengikuti cerita dalam novelnya ini dengan baik.

 

Kontributor: Harlystiarini.

 

Time