Skip to main content

Butet Manurung: Saya Mencintai Kutukan Ini

Butet Manurung: Saya Mencintai Kutukan Ini

sokola rimba with butet manurung

”Kenapa wajah mereka sedih kalau ingin berangkat kerja, bukankah mereka telah mencapai cita-citanya?”

Suatu ketika, Butet Manurung mengajak anak rimba ke kota, Jakarta. Ketika melewati jembatan penyebrangan, anak-anak ini kebingungan, sambil berputar-putar hingga ditabrak oleh para penyebrang yang berjalan terburu-buru. Butet berhenti sejenak, sebelum melanjutkan dengan cerita mengenai pertanyaan anak-anak rimba itu “Kenapa orang-orang itu berjalan terburu-buru?” Ia menjawab “mereka ingin pergi bekerja.” Pertanyaan itu berlanjut “lalu kenapa wajah mereka sedih kalau ingin berangkat kerja, bukankah mereka telah mencapai cita-citanya?”

Pertanyaan anak rimba yang diceritakan oleh Butet sungguh sederhana, namun berhasil membuat kita merenungi kembali tentang keterburu-buruan, tentang hal-hal yang sedang kita kerjakan. Pertanyaan tersebut membuat peserta program Screening and Discussion: Sokola Rimba with Butet Manurung, tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala sebagai renungan bagi diri sendiri.

Pagi di hari ketiga rangkaian Makassar International Writers Festival (MIWF) dibuka dengan program Screening and Discussion: Sokola Rimba bersama Butet Manurung. Salah satu program kerja sama MIWF dengan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh). Bertempat di Minihall Fisipol, Menara Iqra Lt.5 Unismuh, Makassar, Jumat, 28 Juni 2019.

Sesi diskusi dibuka dengan pemutaran film Sokola Rimba yang diproduksi oleh Miles Film dan disutradarai oleh Riri Riza. Peserta yang hadir sangat menikmati pemutaran film, ada yang tertawa menyaksikan kelucan-kelucuan kecil dalam film, ada juga yang tidak mampu menahan rasa haru.

Butet Manurung dikenal sebagai penggagas dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing di Indonesia, di MIWF ini mencoba membagikan pengalamannya merintis dan mengajar di Sokola Rimba. Ia mendirikan Sokola Rimba untuk memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi masyarakat pedalaman di Indonesia.

Peserta sangat antusias. Ketika memasuki sesi tanya jawab, banyak sekali peserta yang penasaran dengan hal-hal yang selama ini diperjuangkan oleh Butet Manurung. Salah seorang peserta menanyakan “Apa yang membuat Kak Butet tetap komitmen menjalankan Sokola?”

Perempuan bernama lengkap Saur Marlina Manurung ini membuktikan dedikasinya pada bidang pendidikan khususnya bagi anak-anak rimba yang jauh dari akses pendidikan. “Ini seperti kutukan bagi saya,” kata perempuan yang waktu kecilnya  selalu bermimpi untuk bekerja di hutan atau outdoor. Bagi saya ini adalah hobi, dan saya mencintai apa yang saya lakukan,tambahnya sebagai jawaban atas pertanyaan dari peserta.

Diskusi yang dipandu Mawar Lestari ini berlangsung asyik, banyak sekali hal-hal inspiratif yang dibagikan oleh Butet Manurung pada sesi program ini. Peserta tampak sangat puas dan sumringah, meskipun waktu sangat terbatas. Pada sesi penutupan, beberapa peserta menyempatkan berfoto bersama dan meminta tandatangan. (*)

Abd.Wahab