Skip to main content

Catatan Perjalanan ‘Lintas Laut’ di Perth

Catatan Perjalanan ‘Lintas Laut’ di Perth

Oleh: Erni Aladjai

Begitu keluar dari Bandara International Perth pada pukul empat pagi, saya sungguh bersyukur melihat Alberta Natasia—Penulis asal Surabaya, mahasiswa Phd di Edith Cowan University. Sehari sebelum berangkat ke Perth, saya meminta tolong Tasia menjemput saya di bandara, Kedatangan saya ke Perth untuk melakukan residensi selama dua pekan di sini, residensi lintas laut kerjasama Centre for Stories Australia Barat dan Makassar International Writers Festival untuk penulis perempuan.

Di bandara, Tasia memesan taksi daring, kami akan menuju kawasan Wembley, ke rumah Caroline Woods—Direktur Centre for Stories, sebab saya belum bisa masuk ke penginapan saya di Victoria Avenue, lantaran jam check in saya jam dua belas siang.

Tasia yang sudah tinggal setahun di Perth mengatakan pada saya, dulunya Perth adalah gurun sebelum menjadi kota seperti sekarang.

Pada pukul dua belas siang, dalam perjalanan menuju apartemen yang akan saya tinggali selama empat belas hari, Caroline Woods berkata, Perth adalah kota besar tetapi berpendududuk sedikit, jarang kita menemukan orang-orang bergerombol atau lalu lalang di jalan-jalan, tidak seperti Sidney yang ramai.

Perth bermandi matahari, cuaca menjelang akhir Februari ini panas. Hari pertama di Perth, Caroline mengajak saya melihat Centre for Stories—sebuah lembaga kebudayaan inklusif yang berlokasi di St Northbridge. Caroline Woods adalah direktur sekaligus pendiri Centre for Stories, dan bekerja dengan tujuh orang lainnya di sini termasuk putranya seorang penyair Australia Barat bernama Robert Woods.

Saya datang ke Centre for Stories dan berkenalan dengan Claudia Mancini—Produser dan Koordinator Program dan Logan Griffiths bagian Program and Communications Officer, ketika saya datang Jay Anderson penulis cerita pendek Australia Barat juga berada di sana dan sedang menulis.

Hari pertama di Perth, saya pergi berbelanja bebuahan dan sayuran untuk makanan saya di apartemen ditemani oleh Caroline—Caroline memberikan saya tas belanja dan memberi penjelasan jika di Perth orang tidak menggunakan kantong plastik, lalu saya berkata saya juga sudah dua tahun terakhir ini melakukan diet kantong plastik dan saya menceritakan padanya tentang Makassar International Writers Festival dengan properti festivalnya yang menggunakan bahan daur ulang dan merupakan Festival minim sampah, Caroline berkata; Wah itu sungguh bagus sekali. Setelah berbelanja saya kembali ke apartemen untuk istirahat. Hari kedua, Caroline mengajak saya mengunjungi Perth Literary and Ideas Festival, tema festivalnya kali ini adalah ‘Land, Money, Sex and Power’ dikuratori oleh Iain Grandage dan Sisonke Msimang. Perth Literary and Ideas Fetival berlangsung di lingkungan Western Australia University.

Di Festival saya dan Caroline mendatangi acara pembacaan puisi di taman terbuka ‘Tropical Groove’ di dalam lingkungan universitas, di sini sejumlah penyair yang datang dari beragam latar belakang akan membacakan puisi-puisinya, Patrick Gunasekera membacakan puisi-puisi yang mengeksplorasi seksualitas, Omar Sakr pun begitu, sementara David Stavanger mengolah isu kesehatan mental dalam puisi-puisinya, adapun Anne Marie Te Whiu mengolah ritme kehidupan suku Maori—Selandia Baru, setelah menyimak acara pembacaan puisi kami mendatangi acara obrolan buku penulis perempuan Australia Barat bernama Bindy Pritchard, Bindy mengobrolkan kumpulan cerpennnya  ‘Fabulous Lives’ yang mengolah kehidupan urban dan ‘domestic life’ dengan penuh humor.

Hari ketiga saya mengunjugi festival dan dikenalkan ke sejumlah dosen dan pengajar studi asia di Perth oleh Caroline, termasuk pasangan guru besar dan penulis buku; Ibu Krishna Sen dan suaminya David T Hill—yang kita sudah kenali mereka menulis buku tentang media massa Indonesia di era orde baru, buku buku budaya dan sinema Indonesia.

Di hari keempat, Caroline mengajak saya mendatangi obrolan buku Emili Paull—penulis lokal Australia Barat yang mengobrolkan buku kumpulan cerita pendeknya ‘ Well-Behaved Women.’ Lalu setelah itu kami mendatangi obrolan buku Intan Paramadhita, Intan membicarakan bukunya ‘The Wandering’ yang baru-baru ini diterjemahkan oleh Vintage Books. Intan membicarakan bahwa ‘Gentayangan’ sesungguhnya adalah metafora bagaimana kita melihat pergerakan manusia dari satu titik ke titik lain, melintasi batas-batas, khususnya keinginan perempuan untuk memiliki mobilitas yang merdeka.

Di hari ke lima, Logan Griffiths—staf di Centre for Stories mengajari saya rute jalan kaki dari apartemen saya menuju Centre for Stories. Pada sore harinya, Caroline mengajak saya bertemu dengan Catherine Noske, David Bourchier dan Tony Hughes. Catherine adalah editor umum di Jurnal Westerly—sebuah jurnal sastra dan kebudayaan di Universitas Australia Barat. David adalah dosen studi literatur asia, dia bercerita studi tentang sastra Indonesia sangat kecil peminatnya di Australia Barat dibandingkan dengan Korea, Jepang dan Cina yang memiliki banyak peminat. David berkata, bisa jadi hal ini karena kurangnya karya-karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa inggris sehingga tak banyak menjangkau pembaca Australia Barat.

Dan begitulah untuk sementara keseharian residensi saya; bertemu orang—penulis dan akademisi seraya mengobrol, pergi makan-makan dengan kawan baru, menulis di Centre for Stories dan kadang-kadang menulis di apartemen saya di Victoria Avenue dan pergi jalan kaki di sore hari untuk berolahraga ditemani suara burung gagak bekoak di atap-atap bangunan.