Skip to main content

Children’s Literature: Books Exhibition and Presentation Bersama Yayasan Litara

Children’s Literature: Books Exhibition and Presentation Bersama Yayasan Litara

Salah satu kegiatan seru dari rangkaian MIWF 2018 di Fort Rotterdam adalah diskusi mengenai literasi anak. Di hari kedua ini, Tim dari Yayasan Litara menggawangi kegiatan Childern’s Literature: Books Exhibition and Presentation yang dilaksanakan di Taman Baca. Tak tanggung-tanggung empat perwakilan dari Yayasan Litara turut hadir:Sofie Dewayani, Evelyn Ghozali, Eva Nukman dan Riama M Sihombing.

Sofie Dewayani, selaku Ketua Yayasan Litara mengungkapkan bahwa Yayasan Litara merupakan organisasi non-profit dengan tujuan utama ingin membantu meningkatkan minat membaca anak, khususnya bentuk-bentuk narasi visual dan juga meningkatkan kecakapan literasi anak yang selama ini masih belum begitu berkembang di Indonesia. Oleh karena itu, Yayasan Litara yang memiliki visi untuk meningkatkan pemahaman literasi anak nusantara ini, senantiasa memproduksi buku-buku cerita anak bergambar yang berkualitas.

Demi mencapai tujuan ini, Eka Nukman menjelaskan beberapa jenis kegiatan yang selama ini dilakukan oleh Yayasan Litara. Salah satunya misalnya memproduksi buku-buku cerita anak dengan latar belakang daerah dan budaya melalui program Bianglala Nusantara. Hingga saat ini, terdapat 15 jenis buku yang termasuk dalam kelompok ini antara lain cerita Aku Ingin Pulang, Mandala, dan Misteri di Pasar Terapung. Selain itu, Yayasan Litara juga memiliki program special bernama Room to Read Accelerator™ Project. Beberapa jenis buku yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah Krauk! Krauk!, Golden Coat dan Widi’s Birthday Cake.

Menurut Eva Nukman, karena buku-buku cerita bergambar produksi Yayasan Litara memiliki tujuan akhir membuat anak-anak yang membacanya bahagia, maka dalam proses pembuatannya harus memperhatikan bahasa yang digunakan, yakni harus sesuai dengan umur anak, ilustrasinya pun dibuat sehingga dapat menarik minat anak untuk membaca. Selain itu, Eva juga berharap kegiatan yang dilakukan Yayasan Litara dapat membuat para guru terutama di daerah tertarik untuk lebih banyak mengajak murid-muridnya berkegiatan menggunakan buku. Demi menghasilkan buku anak yang berkualitas, Yayasan Litara memiliki satu tahapan yang tidak biasa, yakni sebelum penerbitan buku, dilakukan kegiatan field testing terlebih dahulu.

“Field testing ini bukanlah bertujuan untuk melihat apakah sebuah buku akan laku di pasaran atau tidak, namun lebih untuk mengecek kualitas buku, melihat apakah plot, naskah maupun ilustrasi sudah baik, serta untuk melihat apakah pilihan kata maupun plot sudah sesuai untuk kalangan anak-anak,” jeas Eva.

Kegiatan lain yang juga sering dilakukan oleh Yayasan Litara adalah melakukan workshop penerjemahan untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia. Melalui kegiatan ini, maka akan menambah khasanah buku cerita anak bergambar di Indonesia, sementara di sisi lain juga dapat membantu melatih kemampuan penerjemah.

Buku-buku cerita anak bergambar dari Yayasan Litara sudah terbukti berkualitas. Hal ini terlihat dari sudah banyaknya penghargaan yang telah diraih. Evelyn Ghozali, penulis yang juga merupakan ilustrator ini menjelaskan bahwa buku dari Yayasan Litara telah memenangkan penghargaan grand prized dan tujuh runner up prize di tahun 2015 dan 2016 dari Samsung KidsTime Authors’ Award, satu buku berhasil masuk dalam Shortlisted in 2013 Singtel Asia’s Childern’s Picture Book Competition dan satu lagi masuk dalam nominasi dalam Nami Concour Childerns Book Content pada tahun 2014.

Terakhir Riama M Sihombing memberikan gambaran mengenai proses produksi sebuah buku cerita anak bergambar. Menurutnya proses ini bisa berlangsung selama 6-9 bulan. Dimana proses ini terdiri dari tahapan:

  1. Penulis membuat cerita
  2. Cerita diolah dan didiskusikan dengan editor
  3. Naskah cerita diberikan ke illustrator dan disini illustrator melakukan diskusi dengan penulis/editor
  4. Dibuat story board untuk melihat keseluruhan cerita dari awal hingga akhir
  5. Dibuat dummy, yakni buku kecil yang merepresentasikan buku asli untuk melihat konsentasi tulisan, warna dan gambar
  6. Dilakukan field testing untuk mendapatkan masukan dari target pembaca yaitu anak-anak

Setelah semua tahapan ini, barulah sebuah buku cerita anak bergambar dicetak. Menurut Riama, semua tahapan ini sangatlah penting untuk menghasilkan sebuah karya yang berkualitas.

 

Kontributor: Harlystiarini.

Time