Skip to main content

Children's Literature Program: Dongeng Setelah Tidur

Sesi diskusi terkait literasi anak memang selalu menyenangkan dan seru. Seperti salah satu sesi diskusi di hari ketiga MIWF 2018 dengan tema “Reading with Childern”. Acara yang dipandu oleh Penulis Buku Semua Ikan di Langit, Ziggy Zezsyazeoviennazabriezkie ini, menghadirkan Penulis Fauzan Mukrim dan perwakilan dari Yayasan Litara, Eva Nukman dan Evelyn Ghozali.

Pada kesempatan ini, Fauzan Mukrim mengungkapkan bahwa Ia sedang mengerjakan sebuah buku anak yang diberi judul “Dongeng Setelah Tidur”. Judul ini cukup menarik perhatian, karena yang umum kita dengar adalah istilah dongeng sebelum tidur. Terkait hal ini, Fauzan mengungkapkan alasannya yakni Ia menulis cerita tersebut terkhusus untuk anaknya dan Ia tidak ingin membacakan cerita atau dongeng yang akan membuat anaknya tidur akan tidur dalam keadaan kepala penuh dengan pertanyaan.

Eva Nukman menanggapi hal ini dengan mengungkapkan bahwa jawaban untuk pernyataan Fauzan bisa iya bisa juga tidak. Karena menurutnya dongeng itu bisa ada dua bentuk yakni dongeng yang akan dibaca oleh anak itu sendiri dan dongeng yang diciptakan bersama oleh anak dan orang tua. Jadi jika dibuat bersama-sama, maka anak akan lebih bersemangat menantikan kelanjutan ceritanya keesokan harinya dan bukannya tidur dengan kepala penuh pertanyaan.

Hal lain yang menjadi perhatian bagi Fauzan adalah bagaimana menentukan suatu konten cerita sudah sesuai untuk anak atau tidak. Menurut Eva hal ini kembali ke peran orang tua dan guru yang harus bisa mendampingi dan memberi pemahaman kepada anak dalam memilih tema bacaan. Ia menceritakan pengalamannya sendiri di keluarganya, dimana Ia selaku orang tua selalu berusaha tahu lebih dahulu konten suatu buku sebelum buku tersebut dibaca oleh anak-anaknya. Hal ini Ia lakukan sehingga Ia dapat berdiskusi mengenai konten buku tersebut dengan anaknya, dengan demikian Ia bisa memberikan pemahaman apa yang sesuai dan tidak sesuai dengan norma yang dianut dalam keluarganya. Ia mengaku melakukan hal ini hingga anak-anaknya SMA.

Eva mengungkapkan bahwa memberi anak pemahaman terkait prinsip dan norma dan tak sekedar melarang-larang tanpa alasan sangatlah penting dalam proses pertumbuhan anak. Ini disebabkan karena di era seperti sekarang, anak akan sangat mudah terpapar berbagai jenis konten yang belum tentu sesuai dengan apa yang dianut oleh keluarga. Selain itu, Eva juga menekankan bahwa penting untuk diingat bahwa sebagai orang tua janganlah menjadikan pengalaman orang lain sebagai standar umum.

Terkait media yang sekarang semakin beragam, tidak lagi semata-mata konten fisik namun juga digital. Menurut Evelyn, bagi Yayasan Litara sendiri hal ini bukanlah poin utama. Yang terpenting adalah konten dari suatu buku bacaan. Apapun bentuknya jika konten tersebut bagus dan berkualitas, maka pasti akan dicari. Hal ini jugalah yang menjadi misi dari Litara, yakni menyediakan buku-buku literasi anak dengan konten yang tepat dan berkualitas dari segi tema dan ilustrasi.

Fauzan kemudian bercerita mengenai buku anak yang sedang Ia kerjakan. Buku Dongeng Setelah Tidur ini menurutnya Ia susun dari cerita-cerita yang Ia rasa tidak bisa Ia bacakan langsung pada anaknya. Ia mencontohkan salah satu ceritanya yairu cerita tentang ikan salmon yang harus melawan arus untuk bertelur, lalu mati. Melalui cerita ini, Fauzan ingin memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa ada anak yang setelah lahir tidak bisa bertemu dengan orang tuanya. Namun, di sisi lain, Fauzan juga merasa khawatir apakah tema yang Ia pilih terlalu berat untuk dipahami anak-anak, karena memberikan kesan "sedih".

Namun menurut Evelyn, tema tersebut sebenarnya tidak apa-apa, karena bagaimanapun anak juga perlu memahami konsep-konsep berat seperti kematian. Yang terpenting adalah bagaimana cara penulis maupun ilustrator dalam menyampaikan ceritanya. Memang semakin berat tema cerita maka akan semakin berat juga tantangan untuk menulis ceritanya.

 

Kontributor: Harlystiarini

Time