Skip to main content

In Conversation with Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

In Conversation with Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Makassar, 5 Mei 2018 – Program In Conversation yang digelar di gedung Chapel, Fort Rotterdam menampilkan dua pembicara lintas generasi, Linda Christanty, yang tak lain merupakan salah satu orang yang berpengaruh di dunia literasi, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, penulis muda Indonesia yang sangat menjanjikan dengan tulisan-tulisannya yang sangat segar dan beberapa kali memenangkan penghargaan di bidang menulis.

Linda Christanty yang sudah berkali-kali memenangkan penghargaan atas karya fiksi dan nonfiksinya, sekarang bekerja sebagai seorang wartawan sedangkan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie adalah penulis hebat yang masih terus menggali ide untuk menulis karya-karya terbarunya dari berbagai sudut pandang yang baru, unik, dan segar.

Pada sesi In Conversation yang berlangsung antara pukul 4 sore hingga 5.30 tersebut, Linda fokus membahas satu buku karya Ziggy yang dinobatkan sebagai karya terbaik oleh Dewan Kesenian Jakarta berjudul Semua Ikan di Langit.

Di awal sesi, Linda sempat menyinggung nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang sangat unik. Rupanya, kata Ziggy, nama tersebut oleh ayahnya terinspirasi dari David Bowie, penyanyi lawas yang sempat memopulerkan lagu Ziggy Stardust. Ziggy yang tidak terlalu senang namanya dibahas, tidak membahas lebih lanjut dan langsung mengalihkan pembahasan kembali ke topik awal yaitu buku Semua Ikan di Langit.

Karena gaya penulisan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang sangat unik di setiap bukunya, Linda penasaran dari mana ia terinspirasi tulisan-tulisannya yang unik tersebut. Ziggy menjawab, ia tidak punya penulis favorit atau tidak membaca karya penulis mana pun lebih banyak daripada yang lain, namun ia mengaku senang membaca buku berjudul Goosebumps dan Si Bandel ketika masih kecil.

Beberapa audiens yang berasal dari dalam dan luar negeri sempat menyambungkan soal isi buku Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dengan religi, dan Ziggy dengan mantap mengiyakan.

“Buku Semua Ikan di Langit sebenarnya adalah kritik saya untuk orang-orang beragama. Banyak orang-orang beragama yang melupakan aspek manusia dan hanya terfokus pada aspek ketuhanan, tetapi mungkin tidak ada yang menyadari hal tersebut dan lebih fokus pada keunikan pemilihan demografis dan fantasi di dalam buku itu,” jelas Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Pembahasan soal isi buku Ziggy pun semakin melebar, tidak hanya dari sisi keagamaan tetapi juga sempat menyerempet kehidupan LGBT yang masih kurang diterima di Indonesia. In Conversation kemudian ditutup oleh Linda Christanty dengan kalimat yang cukup menarik:

“Interpretasi orang dalam menikmati sebuah karya pastinya berbeda-beda, tergantung pada pengalaman mereka dan relasinya terhadap cerita yang sedang dibaca, juga seberapa banyak karya yang sudah mereka baca.”

 

Kontributor: N Firmansyah

Time