Skip to main content

Creative Writing Workshop with Basabasi: Menulis Prosa Kini Bukan Lagi Basabasi! MIWF 2018 Memberi Bukti

Creative Writing Workshop with Basabasi: Menulis Prosa Kini Bukan Lagi Basabasi! MIWF 2018 Memberi Bukti

“Saya menulis untuk diri sendiri,’’ ungkap Reza Nufa saat program workshop kepenulisan kreatif bersama Basabasi publisher di Museum Kota lantai 2. Program itu merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) ke-8 yang diselenggarakan 2–5 Mei 2018. Ia mengungkapkan bahwa dirinya termasuk golongan penulis tipe kedua yang memiliki karakteristik; meledak-ledak, situasional, dan tidak tertata. “Kalau penulis tipe pertama itu bercirikan struktural atau formal,” lanjutnya, ‘’itu bukan tipe saya.’’ Ia sangat menghargai ide dan lintasan wahyu dengan cara segera menuliskannya, tak peduli sedang ngapain, karena hal itu takkan datang dua kali. Pernah saat mandi, terlintas ide unik, ia bergegas mengambil handuk, mengakhiri mandi, lalu segera mengeksekusi ide tersebut menjadi tulisan.

Pria pencinta pecel lele itu juga mengungkapkan delapan tip menulis prosa di hadapan sekitar dua puluhan peserta. Pertama, mulailah dari kegelisahan, dengan gagasan. Karya sastra ideal itu dapat menularkan kegelisahan atau mengusik benak pembacanya. Karya seperti ini tentu lahir dari penulis berwawasan luas. “Orang-orang yang tidak memiliki kegelisahan di dalam hidup, tidak pantas dijuluki penulis atau sastrawan profesional,’’ ujarnya tegas.

Kedua, membaca dengan cerdik. Lakukan riset mendalam melalui pemilihan dan pemilahan buku. ‘’Tidak perlu terobsesi untuk membaca semuanya,’’ nasihatnya kepada hadirin. Dari tumpukan buku tersebut, perhatikan poin-poin menarik sebagai bahan tulisan. Jadi, mirip semangkuk sup buah, cukup dipilih mana yang menjadi fokus atau kesukaannya. Buku-buku pilihan itu menjadi modal awal untuk merumuskan kerangka tulisan atau sinopsis karya. “Jangan takut tersesat selama terus mencari,’’ tulisnya sebagai memorabilia di buku salah satu peserta, Dito Anurogo.

Ketiga, tentukan segmentasi pembaca. Tentunya tulisan kita akan berbeda bila pembacanya sekelas Albert Einstein atau Mario Teguh. Jangan sampai terobsesi agar seluruh dunia terpengaruh dengan tulisan kita. “Itu mustahil!” ujarnya bersemangat. Keempat, mencari tandem atau rival untuk mengapresiasi alias “membantai” karya kita. Kehadiran pesaing itu penting. Berkat kritikan atau caciannya, karya kita malah akan semakin dicari publik. Biarlah masyarakat yang menilai karya kita sampah atau bukan.

Lelaki kelahiran Bogor, 18 November 1989 ini juga menjelaskan pentingnya ambiguitas sebagai strategi kelima. “Realitas itu ambigu, paradoksal, ironis, sehingga menarik untuk ditulis,’’ ucapnya. Ending cerita hendaklah jangan terlalu jelas. Biarkan menggantung, agar pembaca penasaran. “Mereka akhirnya menikah lalu hidup berbahagia selamanya” merupakan contoh ending yang sangat tidak dianjurkan.

Kiat menulis prosa keenam adalah tidak ada figuran. Maksud “tokoh figuran” adalah tokoh yang sekadar numpang lewat di dalam cerita. Jadi ia tidak memiliki peran. Semua manusia pastilah menganggap dirinya tokoh utama di dalam kehidupannya. Begitu pula di dalam cerpen atau novel, penulis perlu merumuskan karakter ketokohan yang kuat. Yang perlu diingat, tokoh utama pastilah memiliki kepentingan, impian, cita-cita, atau ambisi. Nah, hal-hal seperti itulah yang perlu eksplorasi secara mendalam. Kalau perlu, buatlah tokoh-tokoh yang berpandangan atau berperilaku ekstrem, sehingga pembaca menjadi ‘’terguncang’’. Caranya mudah. Identitas sang Tokoh dapat lebih dipertajam, diperluas, dan diperlebar, sesuai konteks peristiwa yang sedang dialaminya.

Rahasia menulis prosa ketujuh adalah menciptakan berbagai analogi, metafora, dan ungkapan yang baru dan segar. Kebaruan inilah yang membedakan karya sastra dengan karya ilmiah. Sebagai pungkasan, pria pembenci toilet duduk itu menyarankan agar para peserta menjadikan menulis sebagai hobi. Hal ini merupakan tip kedelapan dalam menulis prosa. Reza Nufa juga mengungkapkan bahwa seseorang itu disebut penulis atau sastrawan karena ia mampu menajamkan realitas dan memberikan makna pada kehidupan, melalui karya berupa tulisan.

“Kita selalu memberi makna pada hidup dan kehidupan kita, sesederhana apapun itu. Setiap diri kita pasti memiliki peran tersendiri, sekecil apapun itu,‘’ ujar moderator Tia Setiadi,  menutup sesi tanya-jawab sekaligus menutup acara. Usai ditutup, beberapa peserta melanjutkan berdiskusi ringan serta berfoto bersama pembicara dan moderator.

Kegiatan yang berlangsung dari 13.30 - 15.00 WITA ini berlangsung seru, tertib,  dan terkendali. Terlihat dari antusiasme para peserta yang memberondong pembicara dengan berbagai pertanyaan. Cerpen “Dua Pemabuk Mengazani Mayat” karya Reza Nufa yang dibagi-bagikan ke semua peserta dalam bentuk print out, ternyata mampu membuat mereka betah duduk berlama-lama hingga acara selesai. 

Kontributor: dr. Dito Anurogo, M.Sc.,

Time