Skip to main content

A Cup of Poetry: Menghabiskan Senja dengan Ciuman Penghabisan (Day 1)

A Cup of Poetry: Menghabiskan Senja dengan Ciuman Penghabisan (Day 1)

Makassar — Matahari mulai bersembunyi manja di balik awan penaung Fort Rotterdam. Taman Rasa kian ramai dikelilingi muda-mudi Makassar, merapat mendengarkan arahan dari Ibe S. Palongai yang memandu special program: A Cup of Poetry. Pengunjung Makassar International Writer Festival 2018 menikmati bait-bait puisi yang dibacakan secara terbuka pada Rabu (2/5) pukul 5 sore.

Ibe S Palongai, lulusan sastra Indonesia Universitas Hassanudin, membacakan puisi pertama di hadapan peserta yang duduk melingkar. Ia memancing keberanian peserta untuk unjuk puisi di depan melalui pembacaan puisi tentang perang di Layar Tubuh. Rahman Banjani merupakan penyair pertama yang berani untuk membacakan puisi buatannya sendiri.

“Yang tak pernah bisa membaca garis wajahmu, mencium wangi tubuhmu, melantunkan 99 kali namamu. Maka, atas nama cinta kujawab, Laa Ilaa haa Ilallah, Laa ilaa haa Illallah!” merupakan potongan puisi yang dibacakan oleh Rahman dengan penuh penekanan. Puisi dengan judul Atas Nama Cinta tersebut mendapat respon meriah dari audiens.

Puisi lain yang mendapat tepukan meriah adalah ketika Faisal Oddang, penulis muda paling berpengaruh di Makassar.

“Boleh. Boleh kau cium aku selama apa pun yang kau inginkan. Tetapi hanya satu kali untuk selamanya, atau tidak sama sekali. Tiba-tiba aku memikirkan cara bunuh diri dengan cara berciuman,” ungkap Faisal selama membacakan puisinya yang berjudul Ciuman Penghabisan.

Antusiasme penonton yang tinggi ditunjukkan dari tingginya keterlibatan dan kesukarelaan peserta untuk maju dan membacakan puisi ke depan. Selain memberikan kesempatan bagi penyair muda untuk membacakan puisi karyanya, peserta juga diperbolehkan untuk membacakan puisi karya orang lain. Angin pinggiran pantai Makassar yang berembus di sore hari, lingkungan muda-mudi sesama pecinta sastra ditambah dengan kopi ujung yang dihidangkan menyempurnakan suasana.

Bebeerapa audiens mengaku memang tidak begitu memahami konten puisi yang dibacakan. “Nggak ngerti juga sih, maksudnya apa, aku bukan anak puisi,” ungkap Rahmat Alam, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang tetap nongkrong di halaman Taman Rasa untuk suasana dan kenyamanan situasinya.

Semua orang dapat menikmati puisi di MIWF. Entah itu untuk sastranya, suasananya, atau mungkin kopi gratisnya.

 

Kontributor: Nisrina Hanifah

Time