Skip to main content

Diskusi Panel: Sejarah dan Tradisi dalam Karya Sastra

Diskusi Panel: Sejarah dan Tradisi dalam Karya Sastra

MAKASSAR - Memasuki hari kedua, MIWF 2018 mengadakan program yang bekerja sama dengan beberapa Universitas. Salah satu program kerjasama yang berlangsung di hari kedua bertajuk Discussion Series : History and Tradition Literatur bekerjasama dengan Universitas Negeri Makassar dan dilaksanakan di Perpustakaan Universitas Negeri Makassar Gunung Sari. Program tersebut dihadiri oleh empat penulis: Faisal Oddang, Jamil Massa, Leonie Norrington dan Fatma Aydemir, dengan Feby Indirani sebagai moderator dan Farida selaku penerjemah dalam program Discussion Series.

History and Tradition in Literature bertujuan untuk mempertemukan penulis dan pembaca tentang bagaimana para penulis mentransformasikan aspek sejarah dan tradisi dalam proses menulis kreatif mereka. Empat penulis yang dihadirkan dalam diskusi kali ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

"Apa yang kita tulis yang kemudian jadi buku sebenarnya adalah sesuatu yang berasal (tidak terlepas) dari masa lalu, tradisi" ungkap Faisal Oddang. Penulis yang baru-baru ini meluncurkan buku Tiba Sebelum Berangkat juga mengingatkan kepada peserta diskusi untuk tidak melupakan lokalitas dan tradisi dalam menghasilkan sebuah karya. Mengingat karya fiksi sejarah sekarang di dominasi tulisan yang berpusat pada kebudayaan Jawa. Dengan hadirnya karya yang mengangkat budaya dan tradisi sebuah daerah setidaknya bisa menjadi penyeimbang dan menambah warna bacaan di Indonesia.

Jamil Massa sendiri mengakui bahwa beberapa diantara buku kumpulan puisinya juga berangkat dari tradisi dan mitologi cerita masyarakat Gorontalo. Dua diantara karya kumpulan puisi yang dimakdsud adalah Sayembara Tebu dan Pemanggil Air.

Dua penulis asing yang juga turut hadir dalam diskusi adalah Leonie Norrington dan Fatma Aydemir. Leonie Norrington adalah salah satu penulis yang cukup dekat dengan kaum minoritas aborigin kulit hitam di Australia bagian selatan. Dia mengungkapkan perlakuan rasis di sana masih sering terjadi. Orang-orang kulit putih sering beranggapan bahwa orang kulit hitam sering di identifikkan dengan seorang pemabuk dan hal-hal negatif lainnya. Dengan masalah seperti itu Leonni berinisiatif untuk menuliskan masalah tersebut menjadi sebuah buku yang sampai hari ini sudah mendapatkan banyak penghargaan.

Sedangkan Fatma Aydemir, dalam kesempatan bicaranya sedikit membeberkan gambaran  bukunya, Ellbogen. Penulis yang kerap menyuarakan hak-hak kaum minoritas, imigran dan perempuan dalam karyanya ini mengatakan buku tersebut bercerita tentang seorang anak perempuan berumur 17 tahun yang mengungkapkan kemarahannya karena berada ditengah-tengah antara identitas Turki dan Jerman serta bagaimana dia memperoleh perlakuan rasis dan kekerasan fisik di ditengah masyarakat.

Feby Indirani selaku moderator sempat menanyakan beberapa hal kepada dua penulis, salah satunya kepada Fatma Aydemir, mengenai perbedaan ekspresi nasionalisme di Jerman.

"Nasionalisme di Jerman sangat menghawatirkan. Dimana semua orang dipaksa harus seragam," tutur penulis berkewarganegaraan Jerman itu. Fatma Aydemir menambahkan bahwa pemikiran nasionalis seperti itulah yang menjadi penyebab perlakuan rasis di negaranya.

Seri diskusi berlangsung mulai dari pukul 10.30 dan kemudian selesai pukul 12.00. Dalam kesempatannya Jamil Massa menutup diskusi dengan mengajak para peserta untuk menganggap diri kita sendiri unik dalam proses penciptaan karyanya. Sedangkan Faisal Oddang menambahkan dalam proses berkarya, pembaca tidak sedikit yang melihat sebuah cerita dari banyak pintu dan perspektif yang berbeda.

 

Kontributor: Reyhan Ismail

Time