Skip to main content

Dunia Sastra Tak Kenal Minoritas/Mayoritas

Dunia Sastra Tak Kenal Minoritas/Mayoritas

“Agamamu apa? Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu.”

Joko Pinurbo mengawali materinya dengan membacakan  sebuah puisi “Durahman”.

Jokpin- sapaan akrab Joko Pinurbo, menjadi salah satu pembicara dalam panel diskusi Minority/ Majority Managing the Harmony, salah satu program di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019.

Berbicara tentang minoritas/ mayoritas, Jokpin memposisikan dirinya menjadi seorang minoritas dalam hal agama (Katolik), tetapi sebagai orang Sukabumi, Jawa Barat, dia memposisikan dirinya sebagai masyarakat mayoritas.

Dengan raut wajah yang senang, Jokpin mengatakan bahwa dia sangat beruntung telah dicobloskan ke dalam dunia sastra, karena tak mengenal mayoritas dan minoritas. Menurutnya, kedua kata tersebut hilang ketika dalam dunia sastra.

Mengutip sebuah kalimat dari bukunya yang juga berkaitan dengan minoritas dan mayoritas, “Agamamu apa? Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu”, ujarnya.

Puluhan mahasiswa dan dosen memenuhi ruangan diskusi yang berlangsung Kamis, 27 Juni 2019 di LT Fakultas Adab & Humaniora Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Diskusi yang dipandu Rosman Tami ini juga menghadirkan penyair asal Kupang, Mario F. Lawi; Maria Pankratia; serta penyair asal Inggris William Letford.

Beberapa audiens yang hadir terpaksa harus mengikuti jalannya diskusi dengan berdiri, lantaran kapasitas ruangan yang tak terlalu besar sedangkan peserta sangat banyak.

Mario juga memulai pembahasannya dengan sebuah puisi. Berbicara mengenai minoritas dan mayoritas, Mario mengatakan mayoritas identik dengan kekuasaan. Namun, Mario menyangga hal tersebut dengan mengambil contoh diskusi panel yang sedang berlangsung dimana pemateri sebagai minoritas dan peserta diskusi menjadi mayoritas. Namun, hal itu tidak mengambarkan mayoritas sebagai hal yang berkuasa, tetapi narasumber yang bisa dibilang sebagai minoritas dalam ruangan tersebut menjadi orang yang memegang kendali dalam ruangan itu.

Dari contoh yang diberikan Mario bisa disimpulkan bahwa minoritas dan mayoritas tidak selalu berbicara tentang angka. Tak mau kalah dari dua penyair sebelumnya, William juga membacakan sebuah puisi, yang membahas mengenai minoritas dan mayoritas.

Koordinator Yayasan Klub Buku Petra Ruteng, Maria bercerita mengenai minoritas yang dialami oleh anak-anak yang ada di Nusa Tenggara Timur dimana mereka mengalami minoritas literasi, yang dulunya setiap tanggal 17 ada kiriman buku dan langsung bisa diterima melalui pos. Setelah adanya aturan yang dibuat pemerintah mengenai pembatasan pengiriman yang hanya maksimal 10 kilogram dan harus disortir terlebih dahulu dari pihak pemerintah.

Kita mungkin semua perlu sepakat dengan Jokpin yang mengatakan bahwa diskusi tentang minoritas/ mayoritas ini tidak bisa diremehkan. (*)

Wahyuni