Skip to main content

Era Digital, Mengontrol Anak Melalui Bacaan dan Teater

Era Digital, Mengontrol Anak Melalui Bacaan dan Teater

When the Children Says "More Art Activities and Books, Please…"

Anak-anak kecanduan gadget bukan karena kemajuan teknologi, tetapi kurangnya perhatian dari orang tua.

Era digital bergerak begitu cepat, membuat beberapa orang tuat termasuk orang tua yang beprofesi sebagai penulis atau pegiat literasi mengakalinya melalui teater.

Melalui Makassar International Writers Festival (MIWF) dengan agenda Talkshow: When The Children Says "more are activities and books,” Jumat, 28 Juni 2019, di Taman Baca, Fort Rotterdam, penulis cerita anak Wikan Rahman dan pegiat literasi Hernita, membagikan tipsnya.

Di bawah pohon Palm, duduk bersila di atas rerumputan hijau, sejumlah remaja, orang tua dan anak-anak, memperhatikan dengan saksama. "Apapun yang dibaca oleh anak itu baik," ungkap Wikan, disertai senyum merekah dan tawa pelan dari anak-anak.

Menurut Wikan, tugas orangtua menyaring apa yang anak-anak dapatkan diluar. Anak-anak kecanduan gadget, bagi dia bukan karena kemajuan teknologi, tetapi karena kurangnya perhatian dari orang tua. "Kita tidak harus punya sesuatu yang besar, walaupun kecil kita harus memulai saja," papar Wikan.

Sejak kecil, Wikan mengaku sudah tertarik mendongeng. "Saya merasa tidak berbakat dalam dunia musik, jadi menggeluti dunia teater,” ungkapnya. Ia menulis di umur 35 tahun. Pengenalan terhadap buku itu perlu.

Setelah menceritakan minatnya, Wikan kembali menyebutkan menulis buku anak agar perlu dibuat sebaik mungkin, agar dapat dimengerti dan pesannya sampai.

"Buku pertama saya juga tidak sukses, karena bahasanya sangat sulit dimengerti untuk anak-anak. Maka, saya ikut workshop cara menulis buku anak. Tantangan menulis buku anak adalah bagaimana menyampaikan gagasan dengan kalimat sesingkat mungkin," jelasnya.

Sementara, Hernita menyebutkan, ada program teater anak kecil yang digalakkan. Proses pembuatan teater anak kecil itu pun banyak mendapat dukungan dari teman-teman, hingga berhasil membuat pentas setelah 1 bulan latihan.

 "Kita tidak pernah tahu kapan waktu terakhir kita bermain. Yang paling menyenangkan saya adalah gampang untuk mengontrol anak saya serta teman-teman anak saya. Semua tempat adalah tempat bermain," ujar Hernita.

Menurut Hernita, peran keluarga sangat penting, karena keluarga adalah rumah pertama bagi anak. Sangat penting mengedukasi orangtua.

"Itulah mengapa forum seperti ini penting. Anak-anak bukan hanya milik orangtuanya. Kita harus membangun opini, serta setiap orang dewasa berkewajiban mempertanggungjawabkan anak-anak. Jangan takut salah, lebih baik melakukan, daripada menyesal karena tidak melakukan," tandasnya.

 Acara ini ditutup dengan penampilan teater yang para pemain anak kecil. Mereka menyanyikan lagu Laskar Pelangi, Indonesia tanah Air beta, sambil menari dan membacakan beberapa puisi, dan berteater. (*)

Rahmi Djafar