Skip to main content

Forum Bersama: Cerita Konflik dalam Klise Karya

Forum Bersama: Cerita Konflik dalam Klise Karya

MAKASSAR – Dua penulis wanita Alana Hunt dan Leila S. Choduri turut meramaikan rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 di Museum I La Galigo, Rabu, 2 Mei 2018. Melalui program Ruang Bersama dengan topik “Conversation About Conflict" kedua penulis ini berbagi pengalaman dan pandangan mengenai penyelesaian konflik melalui penciptaan karyanya masing-masing.

Alana Hunt, penulis yang juga dikenal sebagai seniman yang sangat konsen terhadap konflik di Kashmir, bercerita tentang salah satu kejadian kekerasan yang terjadi disana. “Saya melihat seorang pemuda meninggal dunia akibat terkena tabung gas air mata oleh tentara India. Kasus kekerasan demi kekerasan yang terjadi sampai mengakibatkan 118 jiwa meninggal dunia," ujarnya.

Lebih lanjut, Alana Hunt menjelaskan bahwa jatuhnya korban lantas tidak serta merta memunculkan pemberitaan mengenai konflik tersebut. “Saat kembali ke Australia saya mengetahui fakta bahwa tidak ada pemberitaan sama sekali mengenai konflik di Kashmir tahun 2010.” Hal ini yang kemudian mendorong Alana Hunt untuk turut andil dalam menyebarkan konflik Kashmir ke berbagai belahan dunia.

“Melalui Cups of Nun Chai ini, saya mencoba mengambil foto dan mewawancarai orang-orang secara detail mengenai konflik di Kashmir ini dan menerbitkannya melalui sebuah karya. Dan karya ini akhirnya berhasil menciptakan kepedulian dan kesadaran orang-orang terhadap konflik di Kashmir”, ujarnya. Alana Hunt juga mengungkapkan bahwa keberadaan sosial media sangat bermanfaat. “Sosial media membuat sosialisasi untuk karya seperti Cups of Nun Chai ini menjadi lebih mudah,” sambungnya.

Tidak kalah antusias, Leila S.Choduri turut menceritakan bagaimana proses pembuatan novel terbarunya yang berjudul “Laut Bercerita” yang dibuat melalui riset selama panjang dan kajian atas kejadian-kejadian represif di Indonesia. “Jadi, buku ini berasal dari berbagai telaah atas kejadian-kejadian represif seperti kejadian tahun 1965 maupun era reformasi tahun 1998. Setelah karya selesai, maka baru kita bisa melihat seberapa besar efeknya bagi masyarakat”, tuturnya.

 Leila, yang juga mantan redaktur senior Tempo turut menambahkan bahwa menulis sebuah novel harus dibangun dari pemahaman karakter tokoh. “Kita menulis sesuatu dimulai dengan membangun karakter tokoh yang kuat. Bukan hanya sebatas kronological, tapi juga tentang what you feel, what you hear dan what you smell,” sambungnya.

Saat sesi tanya jawab, Suhri, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar melontarkan pertanyaan apakah ada intimidasi dari proses mengerjakan tulisan mengingat kedua penulis ini mengangkat sebuah isu konflik yang notabene sangat sensitif. “Tidak ada ancaman yang saya alami karena sebagian tulisan di Cups of Nun Chai ini diterbitkan di Australia, justru kalau di Kashmir mungkin saya tidak akan berani,” jawabnya.

Senada dengan Alana Hunt, Leila S. Choduri juga mengutarakan bahwa tidak ada proses intimidasi yang selama ini dialami. “Karena ini kan juga sudah zaman reformasi. Tidak ada lagi yang merasa terancam. Malah justru sentilan dalam sebuah karya akan menjadi sebuah dorongan untuk mengungkap kasus-kasus HAM yang belum selesai,” tutupnya.

 

Kontributor: Muh. Haris

Time