Skip to main content

General Lecture A Story of An Environmental Activist with Suzy Hutomo

Kreatifitas dan Inovasi, Hal yang Dibutuhkan seorang Aktivis

Makassar— Peserta yang menghadiri General Lecture: A Story of An Environmental Activist sangat antusias, mereka bahkan datang 30 menit sebelum acara dimulai. Selama program yang berlangsung di Ruang 225 FKM Universitas Hasanuddin tersebut, Suzy Hutomo, chairman dari The Body Shop, ditemani oleh Sudirman Nasir, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat yang berperan sebagai moderator. Sebagai pebisnis dan aktivis lingkungan hidup, Suzy menyontohkan kecintaannya pada lingkungan dengan menolak meminum air dari kemasan plastik. Program yang berlangsung meriah.

“Kata kuncinya adalah sustainability atau keberlanjutan. Hubungan kita dengan bumi adalah taking for granted, kita memanfaatkan semena-mena. Setiap hal yang kita lakukan berdampak pada keberlangsungan bumi untuk masa depan,” ujar Suzy yang menekankan soal keberlangsungan ekosistem. Ia menyontohkan konsep keberlanjutan ini dengan makanan yang kita makan, daging sapi misalnya. Sapi mengeluarkan metana yang mempercepat pemanasan global. Inilah yang disebut sebagai keberlanjutan.

Suzy menceritakan awal kecintaannya pada lingkungan. Ia dulu sering bermain dengan alam. Selain itu, ia dihantui oleh rasa bersalah apabila tidak berbuat sesuatu sebagai tempat hidup anak dan cucunya. “Kalau kita nggak melakukan apa-apa untuk lingkungan, nanti bagaimana anak-anak saya mau hidup?” terangnya. Mahasiswa dan kalangan umum yang hadir dibuat merenung dan berpikir.

Anak-anak sangat rentan terkena penyakit akibat ketidakpedulian masyarakat akan lingkungan hidup. Cat rumah pada ruangan yang cerah, misalnya, masih mengandung timbal (Pb). Sayangnya, cat yang cerah ini kerap dipakai di taman kanak-kanak. Timbal ini, untuk jangka panjang, dapat menyebabkan kanker dan menurunkan intellectual development dari anak-anak.

Di sisi lain, bisnis punya peran yang penting dalam membawa perubahan lingkungan. “The Body Shop juga ikut peduli dengan lingkungan. Botol dari kemasan The Body Shop, contohnya, dapat didaur ulang. Konsumen pun dapat mengumpulkan botol dan menukarkannya dengan poin atau kemasan yang baru,” Ucap Suzy sambil memaparkan data tahun 2016, di mana The body Shop berhasil mengumpulkan 1,2 million botol yang dikembalikan oleh konsumen untuk didaur ulang. Toko the Body Shop di beberapa Mall juga mengikuti kampanye Earth Hour dengan ikut mematikan lampu.

“Produk The Body Shop dikemas menggunakan recycle bag yang bahannya telah sertified dan menggunakan soya-ink yang ramah lingkungan,” Suzy menanggapi tanggapan salah satu peserta yang khawatir terhadap keseimbangan antara kepedulian lingkungan dan bisnis. Dengan yakin Suzy menjawab bahwa eksternal cost memang harus dihitung. “Kadang, barang-barang seperti plastik contohnya, memang dijual teralu murah. Kita harus tahu dan bijak juga dalam mengonsumsi produk,” sarannya.

Brand image juga penting untuk memberikan makna pada konsumen.Hal itulah yang menyebabkan The Body Shop disukai oleh konsumen akibat citranya sebagai produk ramah lingkungan.

Lebih lanjut, Suzy juga menjelaskan tips menjadi seoran aktivis pemula. “Harus jadi pribadi yang kreatif dan inovatif, tapi juga dilakukan dengan gembira,” ungkapnya. Suzy membuat produk sikat gigi dari bambu sebagai bentuk kepedulian terhadap sikat gigi yang selama ini terbuat dari plastik, sehingga gagang sikatnya dapat digunakan sebagai kompos ketika dibuang. Inilah bentuk proses kreatif Suzy.

Wanita yang saat ini berdomisili di Bali ini masih sangat aktif mengajak orang untuk peduli lingkungan. Melalui Instagram, vlog di YouTube serta website, Suzy memopulerkan kampanyenya yang bertajuk ‘Sustainable Suzy’ . Salah satu isi websitenya adalah tips-tips aplikatif yang dapat diterapkan sebagai aktivis.

“Jadilah warga negara yang aktif, manfaatkan suaramu untuk jadi aktivis. Ayo menjadi pengaruh bagi lingkungan sekitarmu dimulai dari hal-hal yang kecil. Berpartisilasilah!” seru Suzy.  

Peserta yang menghadiri program terdiri dari mahsiswa rumpun kesehatan, kalangan umum, juga, aktivis lingkungan Makassar. Seluruhnya keluar dari ruangan program dengan mata berbinar seolah habis tersihir inspirasi.

Kontributor: Nisrina Hanifah

Time