Skip to main content

Grazioso, Harmonisasi Puisi Melalui Musik

Grazioso, Harmonisasi Puisi Melalui Musik

Seni memang dipenuhi harmoni. Seni tak dapat dipisahkan dari seni bersusastra dan seni suara. Salah satu bagian sastra adalah puisi, sedangkan komponen dari musik adalah melodi. Harmonisasi keduanya menjadi energi mahadahsyat yang mampu menggetarkan hati dan mengubah peradaban di muka bumi menjadi lebih baik dan beradab. Begitulah gambaran suasana diskusi santai bertajuk Singing Your Poetry yang dimoderatori oleh Ananda Sukarlan di Grazioso Music School, Jumat 4 Mei 2018. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 yang penyelenggaraannya bersinergi dengan beberapa kampus favorit dan berpusat di Fort Rotterdam, Makassar.

Jan Cornall bercerita tentang pengalaman pertamanya berkunjung di Bali di tahun 2002. Saat itu ia belum menyadari bahwa pulau Bali adalah bagian dari negara Indonesia. Namun sejak keikutsertaannya di dalam UWRF tahun 2004, ia menjadi lebih sering berkolaborasi dengan berbagai penyair dan seniman asli Indonesia. Kepiawaiannya dalam hal seni dan sastra membuatnya berkeliling ke sejumlah negara, seperti Indonesia, Jepang, Laos, Tibet, Bhutan, Kamboja, Vietnam, Hongkong, Amerika Serikat, Perancis, Nepal. Ia juga telah berkolaborasi dengan sastrawan Semarang, Triyanto Triwikromo, dalam kumpulan cerpen Seven Husbands and The Secret Prophet. Penyair yang sering diundang di berbagai festival penulis di Asia dan Australia ini dikenal dengan teknik meditative writing untuk eksplorasi karya kreatif. Ia mengaku jatuh cinta dengan Indonesia. Salah satu alasannya adalah karena spontanitas penduduknya di dalam berkegiatan. Hal itu berbeda dengan kondisi di Australia yang serba birokratis.

Hadir pula dramawan dan penyair Australia, Sandra Thibodeaux. Ia menceritakan proses kreativitasnya dalam menulis puisi dan menggubah drama. Kebanyakan puisinya bernuansa romantis. Peraih NT Literary Award ini mengakui bahwa dirinya memiliki pacar di Sumatera. Penulis empat buku puisi ini seringkali berbalas puisi dengan pacarnya itu. Karya dramanya yang fenomenal adalah Mr. Takahashi, The Age of Bones, The Lion Tamer, A Smoke Social.

Lain pula halnya dengan Sese Lawing. Ia berkisah tentang dirinya. Saat berdomisili di Jakarta, ia sempat bergabung dan berkolaborasi dengan beberapa grup band. Suatu saat, ia berniat jalan-jalan ke Makassar. Tujuannya sederhana, yakni pulang kampung. Namun malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Tiba-tiba saja terjadi bencana. Tanggul Situ Gintung jebol. Beberapa sahabatnya meninggal dunia. Hal itu membuatnya mudik ke Jeneponto.

Menyadari bahwa kampungnya seperti kampung mati, pegiat Sanggar Kummis Jakarta dan Kassa Jeneponto itu aktif menggencarkan festival lagu-lagu Makassar. ‘’Tadinya lagu Makassar identik dengan orang tua dan peminum tuak, namun sekarang generasi muda hingga anak-anak senang menyanyikannya,’’ ujarnya bersemangat. Ia kini telah menjadi trendsetter berkat perjuangannya dalam modernisasi dan revitalisasi lagu-lagu daerah Makassar.

Pencapaian lain alumnus STIE Ahmad Dahlan Jakarta Angkatan 2004 ini adalah melalui seni dan sastra, ia berhasil merehabilitasi pecandu narkoba dan mencerahkan masa depan anak-anak jalanan. Melalui sanggar seni yang didirikannya di Jeneponto, Sese Lawing berhasil membuktikan fungsi dan apresiasi lain dari seni serta sastra. ‘’Teruslah berkarya, karena waktu tak berhenti,’’ tulisnya di buku salah satu hadirin, Dito Anurogo.

Suasana diskusi santai menjadi cair saat Mohammad Istiqamah Djamad bertutur. Penyanyi grup Payung Teduh itu mengakui bahwa dirinya seorang naturalis. ‘’Apa yang saya dengar, saya nyanyikan,’’ ujarnya sembari tersenyum ramah. Pengalamannya di masa kecil begitu mendewasakan dirinya. Mulai dari bermain jangkrik, menanam padi, mencuri telur bebek, hingga pantat dipatuk ular air saat berenang di sungai. Saat ini, ia sedang menggarap proyek kemanusiaan, yakni mendirikan pabrik pengolahan sampah di pesisir laut dan program edukasi nelayan agar tidak ditipu oleh tengkulak. Ia juga terobsesi untuk membuat film tentang kehidupan nelayan di pesisir pantai.

Saat ditanya tentang rahasia sukses dalam berkarya, terutama musikalisasi puisi, Djamad mengungkapkan bahwa kita harus mengetahui puisi itu bercerita tentang apa. Hiduplah dalam puisi itu. Barulah membuat lagu yang tepat. ‘’Pemaknaan kalimat yang tepat akan menemukan melodi dan notasi yang tepat,’’ jelasnya.

Obrolan santai dan diskusi interaktif yang berlangsung sekitar dua jam itu menjadi seru ketika Ananda Sukarlan memainkan pianonya. Jari-jemarinya begitu piawai menari di atas tuts piano, membuat 30 hadirin betah duduk hingga acara usai.

Saat ditanya tentang rahasia suksesnya, pria kelahiran Jakarta, 10 Juni 1968 itu mengakui kalau membuat musik merupakan pelajaran seumur hidup. Sekadar diketahui, pianis legendaris asal Indonesia ini merupakan satu-satunya orang Indonesia yang namanya tercatat di buku ''2000 outstanding musicians of the 20th century'' dan ''The International Who's Who in Music'' yang diterbitkan oleh Cambridge. Hingga 2017, mahakaryanya telah mencapai 16 CD.

’This was a most wonderful event,’’ ujar Leonie Norrington, salah satu hadirin. Diskusi ini memang benar-benar merupakan realisasi nyata, sinergi dan kolaborasi yang begitu menggetarkan hati.

 

Kontributor: dr. Dito Anurogo, M.Sc.,

Time