Meet The Publisher: Penerbit Buku Sebagai Suntikan Penyemangat Bagi Calon Penulis

MAKASSAR - Penulis merupakan sebuah profesi yang menjadi impian bagi sebagian orang. Namun, meniti karir untuk menjadi penulis bukan perkara mudah. Banyak rintangan yang harus diatasi, tidak hanya problematika yang datang dari dalam diri sendiri, tapi juga dari luar, termasuk rintangan yang mengharuskan sang penulis berurusan dengan penerbit.

Mengambil sebuah kutipan dari Film Cacher In The Rye, profesor sekaligus editor penulis menyebutkan bahwa “Hal pertama yang harus disiapkan oleh penulis adalah bagaimana mereka harus belajar menerima penolakan. Hal ini memang berarti bahwa tulisan yang dikirim ke penerbit akan langsung diterima. Tidak sedikit dari naskah yang ditolak dalam tahap ini, dan ini berlaku bagi penulis yang telah memiliki nama sekalipun.

Mengacu pada fakta inilah sehingga kemudian Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018, festival literasi yang tiap tahun diselenggarakan di Makassar melihatnya sebagai hal yang harus dibagikan kepada pencinta literasi, tentang bagaimana agar mereka bisa mengambil hati para penerbit.

Seperti tahun- tahun sebelumnya, MIWF kembali mendatangkan penerbit- penerbit, di antaranya Kata Depan, Marjin Kiri, Kespustakaan Populer Gramedia, Gramedia Pustaka Utama, Basabasi, Inninawa, Buku Kompas, Rumah Ripta, Kedai Buku Jenny, Media Kita, Gradien, Lontar dan Pabrikultur. Temu diskusi dengan penerbit-penerbit ini kemudian dipandu oleh Wawan Kurniawan, dengan bertempat di Gedung DKM, Fort Roterdam, Sabtu (5/5/2018).

"Ada yang membawa naskahnya?" Wawan memulai sesi dengan menanyakan kepada peserta yang datang. Sayangnya, tidak ada satupun yang membawa naskah. "Sayang sekali, padahal ini adalah kesempatan langka dan menarik sekali, harus memanfaatkan momen," ujar Wawan.

Sementara Odie dari GPU yang merupakan anak dari Penerbit Kompas Gramedia menyebutkan, pihaknya menerbikan berbagai jenis buku, baik fiksi, non fiksi dan dari berbagai genre dan semua umur. Termasuk terjemahan ataupun kumpulan puisi.  

"GPU sendiri mencetak buku per tahunnya sebanyak 1.000 judul buku, yang merupakan kombinasi baik fiksi maupun non fiksi. Misi kami, ya sama dengan MIWF," ujar Odie yang langsung mendapat sambutan tempuk tangan dari peserta.

Sementara Pradika Bestari mengatakan, meski masih satu anak perusahaan dengan GPU, KPG mencetak lebih sedikit dai GPU.

"KPG masih mencetak sekitar 100 judul buku per tahun. Kebanyakan jenis buku yang kami cetak adalah sains, sosial. Salah satu buku terbaru kami adalah karya Faisal Oddang Tiba Sebelum Berangkat dan Laut Bercerita karya Lhela S. Chudori," ujar dia.

Marjin kiri, penerbit dengan kantor yang berpusat di Serpong, Tangerang, mengatakan bahwa salah satu hal tekhnis yang mungkin dilupakan oleh calon penulis adalah penulisan kata pengantar saat mengirimkan karyanya.

"Jadi tulislah email dengan benar. Sebab jika mengirim via emailpun sudah salah, ya bagaimana dengan isinya?" ujarnya.

 Rini, salah seorang peserta bercerita, dirinya beberapa kali telah mencoba mengirim naskah, namun seringkali mengalami kebuntuan. Diadakannya program temu diskusi dengan para penerbit membuatnya kemudian bisa berkonsultasi langsung, khususnya pada proses pengiriman naskah untuk diseleksi kembali di penerbit.

 

Kontributor: Rahmi Djafar

Time