Skip to main content

Memakai Mata, Otak, dan Hati di MIWF

""

Memakai Mata, Otak, dan Hati di MIWF

Oleh: Jamil Massa

* Catatan tentang keikutsertaan Pertukaran Penyair Indonesia Timur-UK sebagai rangkaian dari Makassar International Writers Festival 2019.

“MIWF (Makassar International Writers Festival) 2019 adalah MIWF paling istimewa dalam hidup saya.”
Itulah kalimat yang terpikirkan saat saya hendak memulai tulisan ini. Namun, setelah dipikir lagi, kalimat itu sepertinya tidak sepenuhnya tepat. Kalimat yang lebih tepat adalah: “MIWF selalu istimewa. Setiap tahun!” 
MIWF bermula dari gagasan kecil penulis Lily Yulianti Farid, yang disahuti sutradara Riri Riza, dan ditubuhkan melalui Rumata’ Artspace, rumah budaya yang kemudian mereka kelola bersama. 

Sejak pertama kali digelar pada 2011, festival ini telah menghadirkan ratusan penulis, seniman, peneliti, intelektual, dan budayawan dari berbagai bangsa dan negara, setiap tahun. Saya merasa beruntung, selama sembilan kali penyelenggaraan, saya menghadiri MIWF sebanyak lima kali. Sekali sebagai pengunjung dan empat kali sebagai partisipan aktif.

MIWF selalu istimewa. Setiap tahun. MIWF 2019 menjadi istimewa karena di tahun ini saya mengikutinya sebagai bagian dari program kerja sama dua festival, MIWF sendiri dan Contains Strong Language Festival yang akan digelar di Hull, United Kingdom, akhir September nanti. Program tersebut bernama UK-Indonesia Indigenous Language Poetry Exchange Programme, dan disokong penuh oleh British Council, Komite Buku Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, BBC dan Wrecking Ball Press.

Program ini mempertemukan enam penyair, tiga dari UK (United Kingdom) dan tiga dari Indonesia Timur, yang mewakili bahasa ibu mereka masing-masing. Tema bahasa ibu atau bahasa asli ini diambil sehubungan dengan pencanangan tahun 2019 sebagai tahun bahasa asli oleh Unesco.

Satu pertanyaan dari Lily Yulianti Farid saat mewawancarai saya untuk program ini adalah apakah saya memiliki jiwa kepemimpinan? Terus terang ini mengagetkan dan sedikit membuat saya gugup. Saya jarang sekali, bahkan mungkin tak pernah, mendapatkan pertanyaan ini setiap kali saya mengirim aplikasi untuk program-program di bidang kepenulisan. Lily kemudian menegaskan bahwa pertanyaan tersebut penting untuk saya jawab mengingat dalam beberapa kesempatan saya akan mendapatkan tugas menjadi pemandu. Bakat kepemimpinan diperlukan untuk menjaga grup yang nantinya akan terbentuk dari tiga orang penyair Indonesia Timur dan penyair UK tidak kocar-kacir.

Di hari pertama MIWF, Rabu (26/6/2019), kami diperkenalkan dan saling berkenalan. Dua penyair lain dari Indonesia adalah Mario F. Lawi dari Kupang yang berbahasa Sabu, dan Irma Agryanti dari Lombok yang berbahasa Sasak. Keduanya adalah penyair yang sudah saya kenal cukup lama, baik secara pribadi maupun karya-karyanya.
Penyair-penyair UK terdiri atas William Letford dari Stirlingshire yang berbahasa Skotlandia, Roseanne Watt dari kepulauan Shetland yang berbahasa Shetland, dan Rufus Mufasa yang berbahasa Welsh dari Cardiff.
Agenda pertama, yang dimulai tepat setelah perkenalan, adalah diskusi bersama Agustinus Wibowo, seorang penulis cerita perjalanan. Agustinus menceritakan Indonesia dari sudut pandangnya sebagai seorang sojourner, dan terutama sebagai minoritas. Tentang bagaimana kepribadiannya dibentuk sejak kecil sebagai seorang keturunan Tionghoa yang mengalami berbagai macam diskriminasi.

Bermula sejak 1965, selepas meletusnya prahara politik yang melibatkan perseteruan antara militer angkatan darat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), etnis Tionghoa kerap dikait-kaitkan dengan Republik Rakyat Cina (RRC) yang berhaluan komunis. Selama 32 tahun mereka diawasi; dilarang menjadi pegawai negeri, tentara, atau polisi, serta dipersulit mendapatkan dokumen-dokumen kependudukan.

Bertahun-tahun Agustinus merasa terbelah, pertama sebagai seorang Indonesia, dan kemudian sebagai seorang Tionghoa. Ketika akhirnya mendapatkan kesempatan studi ke RRC, ia berpikir, mungkin di tanah leluhurnya semua akan terasa lebih baik. Namun, setiba di sana ia malah merasa makin terbelah. Pemerintah setempat tetap memperlakukannya sebagai orang asing, dan dia pun sebaliknya, melihat RRC sebagai tempat yang asing baginya. Dia masih tetap berpikir, makan, dan memilih menu makan dengan cara yang sangat Indonesia. 

Tak ingin terjebak lebih lama, ia kemudian mantap meyakini keindonesiaannya, tanpa embel-embel entitas yang lain. Tak ada lagi Agustinus Wibowo si peranakan Tionghoa, yang ada adalah Agustinus Wibowo, asli Indonesia. Ia kemudian meneguhkan identitas ini dengan membiasakan diri mengenakan peci dan sarung, dua perangkat busana yang biasa dikenakan kaum laki-laki Indonesia, ke mana pun, terutama ke kampus. Sebuah fashion statement yang di hari-hari pertama telah menunjukkan hasil luar biasa: ujung sarungnya tersangkut roda sepeda, ia terjungkal, dan orang-orang yang melihat kejadian itu menganggapnya gila.

Di sore hari, kami berenam plus Athina Dinda dari British Council, terlibat dalam sebuah diskusi kecil di lobi hotel. Seharusnya hari itu kami dijadwalkan mengikuti peluncuran sejumlah buku puisi dan kegiatan A Cup of Poetry, tapi Dinda mengabarkan perubahan rencana. Kami perlu mengakrabkan diri setelah seharian masih terlihat kaku. Teman-teman dari UK mungkin juga butuh waktu untuk meredakan jetlag. 

Diskusi dimulai dengan pertanyaan Billy mengenai arti kata-kata yang tercetak di kaus Mario. 

“Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan. Sebelum pada akhirnya kita menyerah.”

Itu adalah potongan puisi Derai-Derai Cemara dari Chairil Anwar. Maka kemudian kami membahas Chairil dan angkatan 45, serta bagaimana keduanya memberi pengaruh dalam gaya puisi bebas para penyair Indonesia sampai hari ini. percakapan kami lalu berkisar di sekitar perpuisian, baik Inggris maupun Indonesia, pengalaman kreatif, sampai bagaimana karakter utama bahasa ibu masing-masing.

Malamnya adalah pembukaan festival. Kami membacakan puisi masing-masing. Rufus tampak enerjik dengan sejumlah puisinya. Pada puisinya yang terakhir ia mengajak serta para pagandrang atau musisi lokal yang sebelumnya mengiringi tari Pakkarena. Sungguh ajaib, kolaborasi spontan itu berlangsung harmonis meskipun Rufus dan kelompok musisi tersebut baru saja bertemu. Penampilan ini mendapatkan tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Hari kedua kami awali dengan diskusi kecil bersama Avianti Armand dan dipandu Lily Yulianti Farid. Avianti adalah salah satu penyair kontemporer terbaik Indonesia yang telah menghasilkan tiga buku puisi. Dua di antaranya, Perempuan yang Dihapus Namanya dan Museum Masa Kecil memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori buku puisi terbaik tahun 2011 dan 2018.

Dalam Perempuan yang Dihapus Namanya, Avianti berupaya mengingat sosok-sosok perempuan yang sebetulnya punya peran penting, tetapi seolah menjadi anonim dalam Al-Kitab. Menurutnya, pendapat yang menyebut sejarah senantiasa dituliskan dalam dominasi kaum lelaki adalah benar belaka. Puisi baginya dapat menjadi sebuah gugatan atas narasi-narasi besar yang melingkupi kehidupan umat manusia, medium untuk menggemakan suara-suara sayup yang diredam derap kaki sejarah yang patriarkis.

Esok harinya kami menghabiskan lebih banyak waktu di hotel. Dimulai dengan diskusi kecil bersama Avianti Armand, salah satu penyair kontemporer terbaik Indonesia yang telah menghasilkan tiga buku puisi. Dua di antaranya, berjudul Perempuan yang Dihapus Namanya dan Museum Masa Kecil.

Avianti mengungkapkan ketidaksetujuannya akan dikotomi penyair laki-laki dan penyair perempuan. Kehadiran labelisasi semacam itu, dalam kesusastraan Indonesia, seharusnya digugat. Terutama yang paling mengganggu adalah lekatnya istilah penyair perempuan untuk perempuan yang menulis puisi. Sementara di sisi seberang, publik sastra Indonesia nyaris tak pernah menyebut istilah ‘penyair lelaki’. Hal ini menurutnya adalah sebuah ketimpangan yang kerap bertahan dalam benak para penulis dan pembaca puisi di Indonesia. 

Selepas diskusi kecil itu, kami beranjak menuju sebuah diskusi yang lebih besar. Diskusi di Universitas Islam (UIN) Alauddin Makassar yang mengambil tema “Minority/Majority-Managing the Harmony”. William Letford dan Mario F. Lawi mendapat tempat sebagai panelis, duduk bersama penyair Joko Pinurbo dan cerpenis Maria Pankratia. Kepada Rufus, saya berbisik kalau diskusi ini unik, digelar di sebuah universitas Islam sementara para panelisnya tak ada satu pun yang beragama Islam.

Joko Pinurbo, yang duduk di atas panggung, cukup jauh dari saya dan Rufus, agaknya menyadari pula soal ini. Maka ketika  moderator, Rosman Tami, bertanya kepadanya soal apa itu Minoritas dan Mayoritas dia menjawab, dia sama sekali tak percaya pada dua kata tersebut. Dengan agak berkelakar, Jokpin, begitulah penyair ini akrab dipanggil, mengatakan, apabila konsep mayoritas dan minoritas itu benar-benar nyata, dia mungkin tak akan pernah mendapat kehormatan menjadi pembicara pada diskusi panel tersebut. 

“Nyatanya, orang-orang Islam yang dianggap mayoritas, tidak keberatan mendengarkan ceramah dari seorang Katolik yang minoritas seperti saya. Kalau mayoritas dan minoritas itu jadi pegangan banyak orang, tidak mungkin saya berani bikin buku puisi. Laku pula,” ujarnya.

Namun, Jokpin tidak menampik bahwa sedang ada masalah akut dalam bagaimana orang-orang beragama dan bergaul hari ini. Orang gampang tersinggung, mudah meledak, dan kehilangan selera humor, bahkan ketika sedang membicarakan hal-hal sepele. Perbuatan baik dan ilmu seseorang kadang-kadang menjadi kurang penting dibanding agamanya. Dia merespons fenomena ini dengan sebuah puisi. Dia mengutip lalu menyindir pertanyaan orang-orang mabuk agama yang kehilangan pijakan, terutama kala berdebat. 

“Apa agamamu? Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu,” begitu kata Jokpin dalam puisinya yang berjudul Buku Latihan Tidur itu.

Jokpin bercerita bahwa dia pernah berada dalam situasi yang aneh, tetapi layak dikenang sebagai bukti dahulu orang-orang Indonesia pernah sangat mementingkan pengembangan kerja otak ketimbang pengembangan ketegangan urat leher. Dia dahulu pernah belajar di sebuah sekolah Katolik di mana semua siswanya, kecuali Jokpin sendiri, beragama Islam. “Ini aneh,” ujarnya, “Saya menjadi minoritas di sekolah Katolik.”

Maria, Mario dan Billy punya pandangan yang tak jauh berbeda. Ketiganya melihat keanekaraman ras, bahasa, budaya, agama, dan pandangan hidup yang dimiliki masyarakat Indonesia sebagai sebuah anugerah. Dari keanekaragaman ini, selama bisa diharmonisasi, akan menghasilkan energi yang luar biasa. Bukan hanya untuk orang Indonesia sendiri, melainkan juga untuk dunia secara keseluruhan.

Sorenya kami menikmati udara Losari yang hangat di sebuah restoran di bibir pantai, tepat menghadap derek-derek raksasa yang menurunkan peti-peti kemas dari kapal yang sedang sandar. Diskusi kecil kami kali ini melibatkan Aan Mansyur, penyair dengan banyak karya yang populer di kalangan anak-anak millenial pengguna Instagram dan Twitter. Ia juga adalah kurator MIWF sekaligus satu dari tiga kurator program yang khusus memilih penyair-penyair dari Indonesia Timur. Dua lagi adalah Lily dan Shinta Febriany.

Aan mengungkapkan keterbelahannya sebagai anak yang bercakap dalam bahasa Bugis; pelajar yang menulis dalam bahasa Indonesia; dan mahasiswa yang harus berpikir dalam bahasa Inggris. Tiga bahasa dan pendekatan yang berbeda itulah yang menurutnya banyak memengaruhi puisi-puisinya. 

Aan mencontohkan betapa sulit merumuskan kata kerja yang konseptual dalam bahasa Bugis, sebagai gantinya, penutur Bugis mesti dibantu kata benda untuk mengkongkretkan sebuah aktivitas. Misalnya, tak ada kata ‘melihat’ dalam bahasa Bugis, sebagai gantinya orang Bugis menggunakan frasa ‘memakai mata’, seolah mata adalah benda yang dapat dilepas-pasang. Sama halnya dengan kata ‘mendengar’, orang Bugis lebih memilih menyebut aktivitas tersebut sebagai: ‘memasang telinga’.

Aan kemudian mengolah falsafah kebahasaan ini menjadi kekuatan dalam diksi-diksi puisinya. Alih-alih ‘Aku mencintaimu’, ia lebih sering mengatakan ‘aku meletakkanmu dalam cintaku’.

Malamnya, kami bergabung dengan riuhnya di MIWF yang berpusat di Fort Rotterdam, sebuah benteng peninggalan kolonial Belanda yang terpacak di bagian pesisir kota. Jokpin kembali hadir membacakan puisi. Sebelumnya, sebuah puisinya berjudul Baju Bulan dibacakan dengan gerak tubuh dan bahasa isyarat oleh Kelompok Seni Empat Titik. Sebuah kelompok kesenian yang anggotanya adalah para difabel wicara.

Besok paginya kami kembali berkumpul dan membuat diskusi kecil seusai sarapan. Tema yang kami bahas masih seputar Bahasa Ibu. Billy mengajukan sebuah pertanyaan menarik: “Menurut kalian, terdengar seperti hewan apa bahasa ibu kalian? Hewan apa bahasamu?”

Billy sendiri menganggap, bahasa Skotlandia yang dia tuturkan terdengar seperti burung merpati. Roseanne merasa bahasa Sheatland mirip suara puffin. Irma mengatakan kata-kata dalam logat Lombok banyak memepetkan huruf ‘e’ di akhir kalimat. “Mirip anjing laut,” kata Billy. Sebagian besar dari kami setuju.

Bahasa Sabu yang dituturkan Mario mirip kucing. Dan bahasa Gorontalo menurut saya mirip burung hantu, terutama karena bunyi /o/ yang dominan. Saya tidak ingat, seperti hewan apa bahasa Welsh-nya Rufus. Atau mungkin dia memang tidak pernah bilang. Barangkali dia menganggap Welsh tidak mirip dengan bunyi hewan apapun.

Sore hari kami kembali ke Rotterdam, mengikuti sebuah program bertajuk “Do You Speak Poetry?”. Penyair muda Makassar, Rahmat Hidayat Mustamin, bersama penyair Malaysia, Wani Ardy, sebagai host acara ini menantang hadirin untuk bertanya jawab secara puitik. Mengagumkan, kami semua, yang merasa penyair maupun bukan, berhasil melakukan tantangan ini.

Billy mendapati satu kata menarik yang dilontarkan seorang peserta, yaitu kata ‘Kura-kura’. Satu lagi jenis hewan yang kami libatkan dalam program ini.

Keesokan pagi, kami berangkat lebih jauh lagi ke Kabupaten Gowa, menuju kebun eksotik yang dikelola Darmawan Denassa. Sang pemilik menyebutnya sebagai ‘Rumah Hijau Denassa’.

Di Rumah Hijau inilah, Darmawan menangkarkan setidaknya puluhan jenis tumbuhan endemik Sulawesi. Beberapa hampir punah, seperti pohon Tambarak dan pohon Maja. Tumbuhan yang disebut terakhir lebih dikenal orang Indonesia dalam buku sejarah, sebagai pohon berbuah pahit yang tanpa sengaja digigit Raden Wijaya di Hutan Tasik. Dari nama dan rasanya, sang Pangeran menamakan sebagian areal hutan Tasik tersebut sebagai Majapahit. Areal yang kemudian berkembang menjadi dusun, lalu menjadi kampung, lalu menjadi Kotaraja, dan akhirnya menjadi salah satu kerajaan terbesar yang mencapai puncak kejayaan di Nusantara pada abad ke-XIV. 

Darmawan meniatkan rumah hijaunya bukan hanya sebagai tempat penangkaran pohon, melainkan juga cerita-cerita di baliknya. Cerita-cerita yang kaya folklor dan mitos. Ia ingin agar kaum muda dari mana pun dapat datang ke kebun itu dan mengobati keterbelahan mereka sendiri. Mencegah mereka dari penyakit lupa akar budaya sendiri.
Menjelang tengah hari, Darmawan kemudian mengajak kami menangkap lele di tengah sebuah areal persawahan. Semacam simulasi tentang bagaimana masyarakat setempat bertahan hidup dalam kultur agraria. 

Hal penting yang bisa kami petik dari sengatan panas dan balutan lumpur yang hampir mencapai lutut adalah, betapa berharganya sepiring makanan, dan betapa tak mudah kerja-kerja para petani dalam rangka memastikan milyaran mulut umat manusia di atas bumi tetap bisa mengunyah.

Billy dan Roseanne menangkap masing-masing dua, Dinda menangkap satu, saya nyaris menangkap kaki Dinda, sementara Rufus dan Irma tak dapat apa-apa.

Menjelang siang kami pulang, dan di sore hari kami menaiki sebuah Pinisi yang berlayar hingga hampir mencapai pulau Samalona. Perlahan, sebelum orang-orang yang berkerumun di pinggiran pantai Losari mulai terlihat mengecil, kami berganti-gantian membaca puisi masing-masing, sembari menahan aroma tak sedap yang menguar dari laut. Sebuah penelitian menyebut bau busuk itu akibat endapan yang tak terurai setelah sebagian perairan Losari diuruk dan terkepung pulau-pulau palsu demi kepentingan proyek Center Point of Indonesia.

Beberapa kali kami berpapasan dengan perahu-perahu dan kapal lain, tapi jumlahnya tak seberapa dibanding sampah-sampah industri dan rumah tangga yang mengambang menuju kepulauan Spermonde. Menurut Lily, reklamasi dan sampah menjadi isu yang cukup menggelisahkan warga Makassar. Untuk itu MIWF tahun ini mengusung niat menjadi festival dengan predikat Zero Waste, terutama plastic waste, jenis sampah yang paling bandel dalam urusan menguraikan diri.

Saya pikir kegelisahan Lily dan warga Makassar lainnya adalah sesuatu yang benar-benar patut digelisahkan. Reklamasi membuat wajah Losari mirip anak gadis bersolek menor tak karuan. Beton-beton bangkit dari laut seperti mayat hidup bangkit dari kubur dalam serial The Walking Dead. Dan yang mengiris perasaan adalah mengetahui betapa masyarakat sekitar, yang menggantungkan hidup pada penangkapan ikan, kehilangan mata pencaharian.
Malamnya adalah malam penutupan. MIWF, setidaknya memperlihatkan usaha kerasnya dalam mengedukasi warga soal penggunaan sampah berlebihan. Bahwa MIWF, sebagai sebuah festival yang berakar dari kegemaran membaca dan menulis juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan yang sustainable dan bebas sampah. Seolah ingin menyampaikan bahwa, untuk meraih pengetahuan dan pencerahan, tidak cukup hanya dengan membaca, kau juga harus memiliki rasa peduli pada lingkungan dan semua makhluk yang berbagai ruang hidup yang sama denganmu.

Dan terutama, untuk menikmati MIWF, kau tidak hanya harus memakai matamu, melainkan juga otak dan hatimu.
Setiap malam, seorang gadis kecil bernama Aira melaporkan berapa kilogram sampah terkumpul dan dipungut dalam sehari, lengkap dengan perincian jenisnya. Sampah-sampah tersebut dimasukkan dan dipadatkan ke dalam botol-botol plastik, sehingga apa yang semula terlihat sebagai dosa para pemalas itu berubah menjadi material yang bagus untuk membuat rumah. Dan kelompok Zero Waste di MIWF memang benar-benar memaksudkannya sebagai pengganti batu bata. Untuk meyakinkan para pengunjung, Aira mengumumkan hasil operasi bersih-bersih timnya dengan berdiri di atas tumpukan bata ekologis tersebut. Tak lupa, sambil menyindir kelakuan kakak-kakak yang malas buang sampah dan puntung rokok. Saya ikut tersindir.

Di malam penutupan MIWF, saya tidak sempat mendengar berapa hasil akhir kerja-kerja pengumpulan sampah ini. Namun saya pikir, kalau itu bisa untuk mendirikan sebuah perpustakaan kecil mungkin menarik juga.*

Time