Skip to main content

MIWF Goes To Campus: 20 Years of Reform

MIWF Goes To Campus: 20 Years of Reform

Sastra Wahana Pemersatu Bangsa

“Sastra dapat menyatukan Indonesia. Melalui sastra, kita dapat memahami perbedaan budaya, adat istiadat, berinteraksi secara personal, sosial, maupun komunal dengan orang lain,” ujar Melani Budianta dalam kegiatan MIWF Goes to Campus bertajuk 20 Years of Reform: Challenges After 20 Years of Indonesia’s Political Reform from In/Outside Perspective di Ruang Mini Hall Fisipol lantai 5 Menara Iqra Unismuh Makassar pada Kamis, 3 Mei 2018. Perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, 16 Mei 1954 itu menjelaskan bahwa melalui sastra, pembaca dapat mengalami dan melakukan refleksi kembali tentang sejarah masa lalu.

“Sayangnya, kita tidak belajar dari masa lalu,” lanjutnya. Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu bercerita tentang krisis multidimensional yang pernah melanda bangsa Indonesia di masa reformasi Mei 1998. Saat itu terjadi tragedi kemanusiaan yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Bayangkan saja, ratusan perempuan etnis China diperkosa, penjarahan terjadi di mana-mana, kerusuhan massa. Namun, tentu ada berkah di balik bencana. Dari tragedi Reformasi 1998 itu, muncullah gerakan Komnas Perempuan. Lahirlah pula para penulis perempuan. Sebut saja, Ayu Utami, Dewi Lestari, Lily Yulianti Farid, Shinta Febriany, dan masih banyak lagi nama lainnya.

Acara yang dimoderatori oleh Olin Monteiro dan merupakan rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 itu juga menghadirkan Dewi Ria Utari. Mantan jurnalis sekaligus penulis produktif itu menceritakan pengalamannya selama menjadi jurnalis dan menekuni dunia sastra. “Keinginan untuk menulis fiksi muncul saat saya bekerja di Tempo,” ujarnya. Dorongan untuk mengeksplorasi tema-tema di luar bidang jurnalistik membuatnya menulis cerpen. Beruntung, cerpen perdananya langsung dimuat di Kompas. Saat itu redaktur sastra dipegang oleh Bre Redana. Ia juga bertutur bahwa pada tahun 2010, kumpulan cerpennya Kekasih Marionette yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Juli 2009 berhasil masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award ke-10, tahun 2010 untuk kategori prosa. Saat masih aktif sebagai jurnalis, perempuan pemilik situs https://dewiriautari.id ini mengaku terus melakukan eksplorasi dan klarifikasi story maupun diksi, flowchart, dan hal-hal terkait bidang pemberitaan serta topik lainnya, terlebih menghadapi situasi ulang-alik dari media sosial ke media cetak, dan sebaliknya. Dalam berkarya, ia mengaku terpengaruh oleh karya-karya Danarto, Seno Gumira Ajidarma, dan Budi Darma.

Lain halnya dengan Jan Cornall. Penyanyi, penulis, sekaligus komedian Australia ini menyatakan bahwa dirinya sering berkolaborasi dengan para musisi di Yogyakarta dan sastrawan di Semarang, salah satunya Triyanto Triwikromo. Itu adalah salah satu strategi dirinya di dalam bersinergi dan berkolaborasi terkait sastra. Perempuan yang pernah menjadi salah satu peserta undangan di Ubud Writers & Readers Festival 2004 ini mengaku kalau ia pernah ke Bali pada tahun 2002. Namun, saat itu, dirinya belum tahu kalau ternyata Bali itu adalah bagian dari Indonesia. Wanita kelahiran Melbourne, Australia, 17 Agustus 1950 ini juga berkisah bahwa dirinya pernah mengunjungi beberapa kota dan daerah di Indonesia, mulai dari pulau Jawa, Bali, dan Sumatera, serta berbagai kota seperti: Sidoharjo, Salatiga, Semarang, Bandung, Lampung, dan sebagainya. Perempuan yang pernah menggubah musik Failing in Love Again (1979) ini mengakui kalau dirinya jatuh cinta dengan Indonesia. “Saya menyukai masyarakat Indonesia. Mereka spontan bila berkegiatan. Saat ada ide, langsung diwujudkan. Hal ini berbeda dengan di Australia. Bila ada kegiatan, harus meminta dana dari pemerintah Australia,“ tuturnya ramah.

Mahfud Ikhwan juga hadir memeriahkan suasana. Di hadapan sekitar seratus hadirin, ia bercerita tentang perjalanan hidupnya. Diakuinya, sebagai anak pelosok desa, ia tidak mengenal dan tidak tahu sastra saat remaja. "Di usia 17 tahun, saya tidak dapat membedakan antara kumpulan cerpen dan novel. Tadinya, saya pikir dalam kumcer itu antarceritanya bersambung, ternyata tidak," tuturnya sambil tersenyum. Peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 atas novel Dawuk itu juga menuturkan kalau dirinya masuk ke dunia sastra karena gagal masuk teknik. Takdirlah yang membawanya memasuki belantara sastra Indonesia. Pemenang lomba novel Dewan Kesenian Jakarta 2004 itu mengaku pula kalau dirinya lahir dari krisis. Anak miskin yang semakin dimiskinkan oleh situasi. Penulis Kambing dan Hujan itu juga bercerita tentang kegagalan dirinya saat menuliskan novel perdananya. Usai ditulis selama sepuluh tahun, novel itu gagal sebagai barang dagangan.

Diskusi interaktif menyemarakkan suasana. Hadirin yang terdiri dari mahasiswa, dosen, akademisi, praktisi, dan kalangan profesional itu tampak serius memperhatikan petuah bijak dari para pembicara. Tak terasa, 90 menit telah berlalu. Para peserta segera berswafoto bersama tokoh idolanya.

Kontributor: dr. Dito Anurogo, M.Sc.,

Time