Rasa Melampaui Bahasa

Rasa Melampaui Bahasa

Setelah menampilkan Monolog Cut Nyak Dien pada malam kedua Makassar International Writers Festival, Sha Ine Febriyanti juga memberikan sanggar karya teater keesokan harinya. Pukul 3 sore dengan matahari yang masih menyengat, Sha Ine bersama timnya termasuk anaknya telah bersiap-siap. Sha Ine adalah seorang pekerja seni, aktris teater, film, dan sutradara yang memulai karirnya sebagai model.

Peserta workshop Sha Ine kebanyakan adalah mereka yang bergelut di bidang teater atau sastra, dan untuk menjadi peserta mereka harus mendaftarkan diri terlebih dahulu di website. Dengan bertempat di Museum Kota Makassar lantai 2, tanggal 4 Mei 2018, pukul 4 sore, Ine memulai kelas dengan meminta komentar peserta tentang penampilannya sekaligus pengalaman mereka dalam berkecimpung di dunia teater. Beberapa orang mengeluhkan kendala-kendala mereka selama menekuni teater dan kebanyakan mengagumi monolog Sha Ine.

Sha Ine pun menceritakan prosesnya selama melakoni Cut Nyak Dien. Tentang bagaimana dia harus berbulan-bulan berlatih dan meriset. Beliau juga bercerita bahwa sejak 2009 menekuni dunia teater, dia mesti berulang-ulang menjadi baru, dalam artian dia semacam harus belajar lagi setiap memulai lakon baru seperti tidak pernah bermain teater sebelumnya.

Ine juga menjawab salah satu pertanyaan peserta tentang bagaimana melepaskan karakter setelah selesai menampilkan satu tokoh. Biasanya di hari terakhir penampilannya dia mencoba berterima kasih dan meminta maaf kepada tokoh yang dia tampilkan. Meskipun beberapa orang merasa bahwa hal itu aneh namun itu adalah caranya untuk melepaskan karakter dalam dirinya. Dia juga berkata bahwa setiap orang memiliki cara sendiri untuk melepaskan karakter. Selain itu, kita harus bisa memerintahkan diri sendiri untuk kembali ke diri sendiri. Terpenting adalah kesadaran dan memang harus dilatih.

“Pengetahuan dan rasa harus digabung dengan medium tubuh dan alat,” kata Sha Ine ketika ada yang bertanya tentang bagaimana mengawinkan diri dengan tokoh yang akan ditampilkan. Lanjutnya lagi, kita harus mampu melakukan penyadaran ruang, belajar memproyeksi ruang, menyelaraskan diri dengan panggung, pengeras suara, pencahayaan dan alat-alat pendukung lainnya.

Setelah sesi berbagi, Sha Ine memulai materinya dengan menceritakan repertoarnya selama berkecimpung di dunia teater. Dia bercerita bahwa dia merasa beruntung berada di berbagai ruang tanpa harus terkungkung dalam satu komunitas yang hanya mencoba hal yang sama. Beliau juga menceritakan pengalamannya ketika akan nampil di negara Perancis dan memiliki waktu latihan selama seminggu. Di satu hari dalam seminggu itu, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang diundang khusus menonton proses latihan. Di akhir penampilan saat latihan itu, tiba-tiba saja Sha Ine kaget karena semua penontonnya yang berkebangsaan Perancis menangis menontonnya. Padahal saat itu, dia tampil menggunakan bahasa Indonesia dan tidak satupun penontonnya mengerti bahasa Indonesia. Di situ dia kemudian sadar bahwa rasa bisa melampaui bahasa dalam teater.

Sanggar karya teater Sha Ine berlangsung cukup lama dan pesertanya pun sangat antusias. Peserta sangat aktif bertanya dan merasa bahagia berkesempatan mengikuti sanggar karya ini. Meskipun beberapa kali terjadi pemadaman lampu tiba-tiba, namun hal itu tidak menyurutkan semangat peserta belajar tentang teater dari Sha Ine Febriyanti. Sanggar karya ini bahkan berlangsung lewat dari batas waktu yang telah ditentukan.

 

Kontributor: Weny Mukaddas

Time