Skip to main content

Residensi Penulis, Penggalian Data Mendalam di Negeri Asing

Residensi Penulis, Penggalian Data Mendalam di Negeri Asing

MAKASSAR - Residensi penulis yang merupakan program pemerintah membawa sebuah pengalaman tak terlupakan bagi pesertanya, khususnya dalam proses pengumpulan data serta perluasan jaringan di berbagai kalangan.

Hal itu terungkap dalam program saling berbagi, Serunya Residensi Penulis yang digelar Makassar International Writers Festival (MIWF) di Museum I La Galigo, Jumat (4/5/2018) dalam suasana yang nyaman di ruang sejuk. Perbincangan menghadirkan dua alumnus Residensi Penulis Debby L Goyardi dan Faisal Oddang, dengan dipandu oleh moderator Dewi Noviami.

Berbicara di hadapan peserta dengan layar yang menampilkan fotonya, Faisal Oddang membagikan pengalamannya sebagai peserta pertama Residensi Penulis yang dimulai pada 2016. Menurut penuturannya, ia terseret oleh rasa penasaran yang begitu tinggi terhadap kisah di balik Naskah I La Galigo yang merupakan karya Colliq Pujie, sastrawan asal Bugis.

"Rasa penasaran itulah yang membawa saya ke Belanda melalui residensi penulis," ujar Faisal yang langsung disambut tepuk tangan oleh 15 peserta yang mengikuti program tersebut. Selain itu, hal yang ditemukan di sana adalah soal perpustakaan di Leiden (Belanda), tempat di mana Faisal bisa menghabiskan waktu di sana hingga larut, dan tentu saja tak sebanding dengan perpustakaan di Indonesia.

Dia juga membagikan tips untuk calon peserta, salah satunya adalah hal terpenting adalah menyiapkan perencanaan yang matang, ini demi mengantisipasi pengeluaran yang tak diinginkan saat berkunjung ke sana. Satu hal yang menjadi kendala dalam naskah I La Galigo, masih menurut Faisal Oddang adalah naskah harus melalui prosedur yang panjang karena ada beberapa yang teramsuk dalam koleksi khusus.

"Saya harus mengirimkan surat ke penanggungjawab via email. Sangat susah. Mereka mewawancarai saya, yang berakhir dengan kegagalan saya mendapatkan naskah itu. Akhirnya saya menggunakan jalur
pertemanan, baru lah kemudian naskah tersebut bisa diberikan. Saat itu naskah I La Galigo itu akan di digitalisasi, proses digitalisasi tersebut terpaksa harus ditunda karena Saya menginginkannya," seloroh Faisal disambut tawa dan gumaman kagum dari peserta.

Dia juga menceritakan naskah itu sudah sangat lapuk, kertasnya sudah sangat tipis, sehingga mudah robek.

"Hasil akhir (output) dari residensi ini setelah mengirimkan proposal, harusnya menjadi buku, fiksi ataupun non fiksi. Pengumpulan data itu membutuhkan waktu yang lama, di sela-sela waktu itu saya habiskan dengan menulis puisi dan novel," tambahnya.

Lain halnya dengan Debby L. Govardi. Debby menyebutkan dirinya mendapat kesempatan ke Inggris. "Salah satu hal yang menarik adalah pusat pelatihan penulis (writers center) di Inggris," ujar Debby.

"Saya selama residensi menimba ilmu dari berbagai tokoh di Cambridge. Professor Nicola yang merupakan guru besar Sastra anak. Mereka kuat karena didukung oleh komunitas-komumitas sendiri, untuk relawan yang berkunjung ke berbagai tempat," ujarnya.

Sementara itu, Novi dari Komite Buku Nasional menyebutkan pihaknya lebih memperhatikan wilayah Timur Indonesia terutama perempuan. Anggaran untuk residensi menulis itu sekitar Rp1,5 miliar, baik untuk ke luar
negeri maupun di dalam negeri untuk ke luar dan dalam negeri, banyak ke Belanda.

"Syarat mengikuti residensi penulis adalah punya buku dan ini memang baru mulai pada 2016, yang merupakan dana dari Kemendikbud. Daya baca untuk memahami buku, itulah yang menyebabkan berita palsu (hoax) berkembang di mana-mana. Dan itu membutuhkan pendampingan daya baca yang masif," ujarnya.

"Tidak ada tempat orang belajar menulis kreatif di Indonesia, padahal butuh workshop untuk menulis. Sekarang ini ada banyak komunitas, pegiat untuk regenerasi. Usaha ke luar untuk memberi pandangan lebih luas dengan opsi yang lain,"

Sementara Rosida Rosalina dari Ikatan penerbit Indonesia yang saat itu hadir sebagai peserta diskusi menyebutkan pihaknya sama-sama membangkitkan kembali penerbitan buku Indonesia.

"Apalagi sejak 2015 Indonesia sudah masuk Frankfrut nyata pemerintah memberi perhatian,"

Kontributor: (Rahmi Djafar)

Time