Skip to main content

Ruang Bersama: Fatimah

Makassar, 4 Mei 2018 – pada pukul 14:00-15:30 digelar sesi Ruang Bersama: Fatimah bersama tiga pembicara sekaligus yaitu Huub de Jonge, John McGlynn, dan Mary S. Zurbuchen yang dimoderatori oleh pendiri Rumata’ Art Space, Lily Yulianti Farid.

Huub de Jonge adalah Antropolog yang konsen terhadap Madura terutama dalam hal kebudayaan di sana. John McGlynn (pernah menulis menggunakan nama samaran Willem Samuels) adalah seorang penerjemah asal Amerika yang sudah puluhan tahun tinggal di Indonesia. Di sesi Ruang Bersama: Fatimah ini, John mewakili Lontar Foundation selaku penerbit buku Fatimah yang diterjemahkan oleh Mary S. Zurbuchen, seorang guru bahasa yang pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1972 untuk mengajar bahasa Inggris di Bali. Sebelum Fatimah, Mary pernah menerbitkan buku berjudul The Language of Balinese Shadow Theater.

McGlynn mengaku telah menerbitkan lebih dari 200 buku lewat Lontar Foundation, namun buku Fatimah ini adalah buku pertama yang konsentrasi membahas mengenai identitas Indonesia-Arab dan perjalanan komunitas Hadhrami dalam membentuk identitas etnis dan kulturalnya.

Buku Fatimah secara umum membahas kembali fenomena yang terjadi sekitar tahun 1930-an yang kembali terjadi di masa sekarang, kaitannya dengan tren islami yang ada di masyarakat.

Ketika ditanya mengapa mengapa Mary S. Zurbuchen dan John McGlynn memilih Fatimah memutuskan untuk menerbitkan buku tersebut, Mary mengatakan bahwa Fatimah adalah seorang tokoh sentral yang mewakili suara perempuan pada saat itu sedangkan John berpendapat bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar agama maupun pemerintah di dalam nama Fatimah.

I decided to publish the book because there is something bigger than about religion and the government from that name,” kata John McGlynn.

Mary S. Zurbuchen yang menerjemahkan buku Fatimah karya asli Hoesin Bafagih ini mengaku menemui banyak kesulitan dalam proses penerjemahannya, terutama di bagian pemilihan kata sebab ada kata yang harus ditambah dan dikurangi untuk menyelaraskan arti buku yang cenderung menggunakan bahasa Melayu.

Di awal sesi, Mary menyempatkan diri untuk membacakan beberapa paragraf bukunya kepada para peserta yang memenuhi ruangan di gedung I La Galigo, Fort Rotterdam. Peserta sesi Ruang Bersama pun diikuti oleh peserta dari luar daerah dan luar negeri seperti dari kota Surabaya dan dari Inggris Raya.

Sesi ditutup dengan foto bersama dan pengumuman oleh Mary dan John bahwa pembeli buku Fatimah akan mendapatkan potongan harga sebesar 30% selama kegiatan MIWF 2018 berlangsung.

 

Kontributor: N. Firmansyah

Time