Skip to main content

Ruang Bersama: Relax, It's Just a Religion

Ruang Bersama: Relax, It's Just a Religion

Sastra dan Seni: Membuka Interpretasi atas Agama

Makassar— Rabu (3/05), peserta di dalam ruangan Chapel di Fort Rotterdam fokus mendengarkan program Ruang Bersama: Relax, Its Just a Religion. Program yang dipandu oleh Olin Monteiro tersebut membahas mengenai Agama, isu sensitif yang sedang hangat sangat ini. Menyesuaikan dengan tema, penulis yang mengangkat seputar isu agama dalam novelnya diundang untuk hadir dalam program ini. Penulis tersebut antara lain Hikmat Darmawan, penulis Tuhan Tak Sembunyi, Feby Indirani, penulis dari Not Virgin Mary, serta Fatma Aydemir, penulis dari Jerman yang bukunya berjudul Ellbogen.

“Buku itu seharusnya dapat menjadi penggerak atau movement,” ungkap Hikmat Darmawan. Ia bercerita mengenai kegiatannya dalam melakukan kampanye untuk mengajak masyarakat ‘menyantaikan’ agama. Masyarakat sekarang ini cenderung memberatkan isu agama. Untuk itu, menurut Hikmat, relaksasi bergama diperlukan demi menenangkan baik pihak yang agamanya tegang, maupun yang tegang dalam beragam.

Feby Indriani yang baru meluncurkan bukunya, setuju dengan pentingnya mengampanyekan relaksasi beragama. “Sekarang ini, mengekspresikan suatu dan lain hal yang berkaitan dengan agama akan dihujat atau dianggap sebagai penistaan agama. Kita seolah main kucing-kucingan dengan kelompok (yang menganggap agama) keras ini,” jelas Feby.

Salah seorang peserta mengungkapkan pendapatnya, bahwa topik agama menjadi berat karena agama merupakan prinsip hidup. Menanggapai pertanyaan dari peserta tersebut, Feby mengungkapkan konsep hubungan antara sastra dan agama. Konten sastra yang berisi agama terbuka bagi masyarakat untuk dapat diinterpretasi dengan hal yang berbeda. Karena itu, dalam tulisannya, Feby kerap menuliskan dalam bentuk magical Islam. “Seperti babi masuk Islam, atau malaikat yang mau cuti. Aku menekankan kosep surealis, dengan menghubungkan kehidupan sehari-hari dalam bentuk cerita sehingga dianggap sebagai dongeng oleh pembaca. Dengan ini orang bebas menginterpretasi secara terbuka,” lanjut Feby.

Dalam program ini pun Fatma mengulas seputar novel yang ia tulis. Seorang perempuan muslim Jerman, ia kisahkan, yang berusaha mencari jati diri agamanya dengan berpulang ke daerah asalah keluarganya, Turki. Sesampai di sana, sayangnya, gadis tokoh utama tersebut tidak menemukan ‘Islam’ yang ia harapkan. Masyarakat Turki padahal lebih bebas terhadap perempuan yang berhijab dibanding Jerman. Polemik dan kontraksi tersebutlah yang menjadi fokus Fatma dalam novel Ellbogennya.

Di akhir, Hikmat menambahkan bahwa selama ini masyarakat terlalu harfian dalam berpikir. Sastra mengajak masyarakat untuk berpikir dengan cara yang lebih metaforik. “Pada akhirnya, konten apa pun yang dibahas, karya tersebut pastilah bermanfaat selama ditulis untuk kebaikan kemanusiaan,” tutup Hikmat.

 

Kontributor: Nisrina Hanifah

Time