Skip to main content

Talk Show: Napak Tilas 20(00) Tahun Saman

Talk Show: Napak Tilas 20(00) Tahun Saman

Adalah Saman, Novel masterpiece karya Ayu Utami yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada April 1998. Novel ini menjadi pemenang sayembara penulisan novel IKJ tahun 1998. Hingga tahun 2018, novel ini sudah dicetak lebih dari 30 kali dalam multibahasa seperti Jepang, Hungaria, Inggris, dan sebagainya.

Terjemahan "Saman" dalam bahasa Inggris dilakukan oleh Pamela Allen, melalui diskursus dengan pengarang. Novel terjemahan itu diterbitkan oleh penerbit Equinox yang berbasis di Jakarta, dijual di toko buku, baik secara fisik maupun online. Penerjemahan itu melalui proses yang panjang. Sejak tahun 2000, proses penerjemahan sudah berjalan. Proses itu dibantu Eddin Khoo, sebagian didanai Australian Society of Authors. "Novel terjemahan itu sempat dicetak ulang  saat kegiatan Frankfurt Book Fair tahun 2015," kata Christopher A. Woodrich selaku pembedah Novel "Saman" dalam acara Talkshow "20 Years of Saman, 20 Years of Reformation" di museum I La Galigo, Fort Rotterdam, Rabu 2 Mei 2018. Diskusi sastrawi ini adalah salah satu acara dari rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) yang berlangsung 2-5 Mei 2018 di Makassar.

Novel "Saman" memiliki berbagai keunikan, salah satunya adalah alur polifonik. Polifonik adalah metode di mana novel ditulis dengan empat orang "aku", tapi dengan gaya bahasa yang berbeda, satu sama lain. Narasinya yang nonlinear menjadikan "Saman" semakin menakjubkan. Bayangkan saja, beberapa peristiwa terungkap secara detail dan tak terduga, seperti: peristiwa gaib saat Saman masih kecil, masa kecil Laila, Cok, Shakuntala, dan Yasmin, relasi Laila dengan Sihar, kehidupan Cok sebagai seorang penari yang sangat membenci ayahnya, transformasi Saman dari pastor menjadi aktivis buruh, hingga harus eksodus meninggalkan Indonesia.

Berbicara Saman, tentunya tak dapat dipisahkan dari konstelasi sejarah yang mendasari peristiwa sekaligus tragedi di masa itu. Christopher A Woodrich selaku pembedah Novel "Saman" mengungkapkan bahwa beberapa kisah dan peristiwa di "Saman" memiliki benang merah dengan cerita di Alkitab, seperti ikrar kesetiaan Ruth kepada Naomi. Peneliti independen dari International Indonesia Forum (IIF) itu juga mengungkapkan realita bahwa Shakuntala adalah bagian dari epos Hindu, yakni wiracarita Mahabharata. Shakuntala adalah ibu dari Raja Bharata sekaligus permaisuri Raja Duswanta, leluhur Pandawa dan Kurawa.

Pembahasan novel "Saman" juga tak dapat dilepaskan dari konstelasi sejarah Indonesia masa lalu, yakni era penjajahan Belanda, tewasnya peragawati Dice Budimulyono di tahun 1980an, tewasnya pahlawan buruh Marsinah pada 8 Mei 1993, tragedi hilangnya para aktivis di era reformasi di bulan Mei tahun 1998.

Christopher juga mengemukakan latar belakang penulisan "Saman". Selaku peneliti, pengamat, sekaligus pelapor, Ayu Utami menuliskan "Saman" dalam bentuk polifonik (banyak suara), menggunakan beragam teknik yakni: naratif realis, naratif analogis, catatan harian, surat, dan surat elektronik (email). Penulisan "Saman" memerlukan durasi waktu sekitar 7-8 bulan. Awalnya, novel ini hanya disebarluaskan untuk kalangan terbatas. Beruntungnya, Kepustakaan Populer Gramedia akhirnya mengakuisisi novel ini sehingga berhasil terbit dan meledak hingga terjual lebih dari seratus ribu eksemplar di tahun 2005.

Saat ditanya proses kreatif di balik kepenulisan dan kesuksesan novelnya, Ayu Utami dengan rendah hati menjelaskan bahwa sebenarnya menulis karya kreatif itu berbeda dengan menulis skripsi atau karya ilmiah lainnya. "Kalau menulis skripsi kan harus tahu benar apa isinya. Nah, kalau menulis karya kreatif, kita tidak harus tahu betul apa yang dituliskan. Karya itu menjadi jelas bersama proses menulis," jelasnya sembari tersenyum. Jadi, jangan membayangkan tahu dahulu. Coba langsung tuliskan saja terlebih dahulu.

Tentu saja ada pelbagai image atau gambar yang muncul di kepala saat berproses. Itu wajar saja. Hal itu justru membantu kita menyelesaikan naskah. Penting pula untuk terus memperkaya diri dengan cara mendengarkan orang lain, suara-suara alam, musik, atau menonton film. 

Meledaknya novel "Saman" ini tentunya tak lepas dari kontroversi penulisnya. Christopher mengungkapkan bahwa pernah muncul tuduhan bahwa Ayu Utami bukan pengarang novel Saman, melainkan Goenawan Mohammad. Padahal Goenawan Mohammad sendiri telah membantah anggapan itu dengan mengatakan, "Andai saja saya bisa menulis prosa seperti itu."

Selaku ketua koordinator IIF, Christopher menjelaskan anggapan itu dapat muncul karena Ayu Utami dan Goenawan Mohammad merupakan anggota komunitas Utan Kayu. Ayu pernah belajar kepada Goenawan Mohammad. Beberapa kritikus menyatakan bahwa gaya bahasa Saman mirip dengan gaya bahasa Goenawan Mohammad. Ahli lain berpendapat bahwa tidak ada perempuan yang berani memaparkan seks secara terang-terangan. Terlebih di masa itu, seks merupakan hal yang sangat tabu dan sensitif untuk dikemukakan secara eksplisit.

Fenomena menarik semacam itulah yang melahirkan istilah "Sastra Wangi". Di tahun 1998 sastra Indonesia memang mengalami penurunan. Tidak ada satupun novel karya sastrawan Indonesia yang diterbitkan. Hanya novel-novel terjemahan yang diterbitkan di masa itu. Nah, saat itulah "Saman" terbit. "Kehadiran Saman seolah menjawab kebutuhan masyarakat yang memang saat itu sudah muak dengan pemerintahan Orde Baru. Seperti gempa, kehadiran Saman seolah mewakili perubahan zaman," tutur Ayu Utami.

Setelah itu, dunia pernovelan di Indonesia kembali membaik. Perlu diketahui, sebelumnya novel di Indonesia didominasi oleh laki-laki dari daerah agraris. Tiba-tiba saja bermunculan novel-novel karya perempuan dari kota. Setelah Saman, menjamurlah para novelis wanita. Sebutlah misalnya Dinar Rahayu (penulis novel Ode Untuk Leopold Von Sacher-Masoch tahun 2002), Djenar Maesa Ayu (penulis Nayla, Mereka Bilang Saya Monyet! Satu Perempuan 14 Laki-Laki), Ayu Utami (penulis Saman, Larung, Bilangan Fu). Itulah yang melatarbelakangi fenomena Sastra Wangi.

Berbicara Saman, ada fakta lain yang unik namun juga mengagetkan. Perempuan kelahiran Bogor, 21 November 1968 itu mengungkapkan bahwa dirinya letih dengan sopan-santun bahasa yang menyesatkan. "Bayangkan saja, saat kecil saya tahu istilah Gong Li. Kependekan dari "Bagong Liar" alias "Babi Gila". Kemudian atas nama sopan-santun, orang menyebutnya WTS, Wanita Tuna Susila. Bagaimana mungkin seseorang merasa sopan santun dalam berbahasa, padahal di waktu yang sama dia juga menghina orang lain?" ujarnya berapi-api. Pernah pula ia menjumpai terjemahan "orgasme" di dalam Kamus karya W.J.S. Poerwadarminta adalah "kemarahan". Ini adalah sopan-santun yang gila sehingga kita tersesat. Bahasa itu harus dibebaskan supaya bisa dipakai.

Diskusi sore yang berlangsung selama 90 menit itu berlangsung dengan lancar. Tampak peserta memadati ruangan. Saat Ayu Utami memberikan penjelasan, suasana hening. Semua hadirin terlihat serius menyimak kata demi kata yang disampaikan. Tak satupun peserta berbicara. Semua betah duduk hingga acara selesai.

Menariknya, usai berlangsung sesi tanya-jawab, para peserta berjubel antre untuk berfoto bersama Ayu Utami. Beberapa juga tampak antusias berfoto bersama Christopher A Woodrich. Pesona Saman rupanya memang telah merasuki relung jiwa para peserta.

 

Kontributor: dr. Dito Anurogo, M.Sc.,

Time