Skip to main content

Talkshow: I Lagaligo Hari Ini

Talkshow: I Lagaligo Hari Ini

Kami berjuang tentang memori dan sejarah. Dan kami harap ini akan terwariskan ke generasi muda.

"Penemuan tulisan merupakan peradaban tertinggi dunia, dan kita(suku bugis) memiliki karya sastra Lagaligo," ungkap Prof Nurhayati Rahman. Bincang-bincang yang dilakukan di gedung K2 Fort Rotterdam pada Kamis 3 Mei 2018, pukul 16:00 Wita tersebut berlangsung seru. Cahaya matahari sore yang masuk melalui celah celah jendela serta terpaan angin dari kipas angin hitam diruangan menambah nyaman suasana diskusi, meskipun ruangan kecil dipenuhi oleh peserta diskusi. Prof Nurhayati Rahman dan Benedicte Gorillot selaku pemateri, serta Faisal Oddang selaku moderator.

Prof. Nurhayati Rahman yang merupakan guru besar Filologi Universitas Hasanuddin memaparkan mengenai naskah lagaligo yang merupakan warisan tradisi sastra. Naskah lagaligo terdiri dari 300.000 bait dan telah dinobatkan sebagai Memory of The World oleh UNESCO. Hampir semua naskah lagaligo membahas mengenai laut. "Perkawinan antara dewa di langit dan dewi dilaut melahirkan manusia ditengah, sehingga manusia harus menciptakan keseimbangan" ungkap Prof Nurhayati. Beliau mengungkapkan bahwa Naskah Lagaligo merupakan bukti bahwa orang bugis sudah kosmopolit dan sangat terbuka sejak dahulu. 
Prof Nurhayati menjelaskan perjalanannya memutuskan untuk terjun ke naskah ini berawal dari rasa penasarannya akan Naskah Lagaligo yang merupakan karya besar dunia tapi justru tidak terkenal di Indonesia. "karya sastra Lagaligo sudah sangat lengkap, namun sayangnya kita tidak bisa menjaga warisan" ungkap Prof Nurhayati.

Benedicte Gorrillot penulis buku-buku Perancis kontemporer dan sejak 2005 sudah menulis lebih dari enam puluh artikel tentang puisi-puisi karya penyair-penyair Perancis. Benedicte memaparkan perjuangan dalam usahanya untuk memperkenalkan budaya perancis kontemporer di Perancis. Ia mengajak  siswanya mengenai kontemporer dengan cara demonstrasi dan melalui puisi. Perjuangannya dimulai tahun 2003 dengan 9 orang murid, hingga saat ini ia telah memiliki 90 orang murid yang berjalan bersamanya untuk menyebarluaskan sastra kontemporer. Hal itu membangkitkan semangat untuk terus belajar mengenai karya ini. "Saya berjuang dengan karya sastra ini karena saya merasa ada konteks positif, dan hal itu juga menunjukkan identitasnya sebagai org eropa. 

"Apakah manuscriptnya hanya dituliskan oleh Lagaligo seorang dan apakah bahasa yang digunakan adalah bahasa bugis kuno?" ungkap salah satu peserta workshop. Prof Nurhayati memaparkan penyebaran karya sastra ini dilakukan secara lisan yang kemudian dibukukan di Sulawesi Selatan. Bahasa sastra Lagaligo sekitar 40 persen menggunakan bahasa bugis kuno. Dimana bahasa bugis kuno sebagian besar dipengaruhi oleh bahasa sansekerta.

Kontributor: Sry Novi Yanti Sofya
 

Time