Skip to main content

Talkshow: Story Telling for Instagram Users

Talkshow: Story Telling for Instagram Users

Makassar— Menuju hari kedua, Makassar International Festival (MIWF) berlangsung semakin meriah. Peserta sudah memenuhi pintu depan ruangan Chapel di Fort Rotterdam pada Kamis (3/04) sejak pukul setengah sebelas pagi, 30 menit sebelum program dimulai. Kehadiran Fiersa Besari, Syahid Muhammad, Ariana Octavia serta Nadhifa Allya Tsana yang mengisi talkshow berjudul Story Telling for Instagram Users tersebut berhasil menggaet lebih dari 100 peserta pada pagi itu.

“Awalnya aku iseng ngadain workshop karena banyak yang nanya gimana cara aku edit foto-foto yang ada di Instagram,” ungkap Ariana yang berhaasil mengadakan workshop sampai 40 batch. “Ternyata sebagian besar peserta workshop adalah ibu-ibu yang sibuk berjualan via online,” lanjutnya. Berbeda dengan perjalanan Syahid, penulis dari novel Kala, Egosentris dan Amor Fati. Followersnya mulai bertambah di media sosial Instagram setelah bukunya dipublikasi. “Sebenarnya aku juga nggak memaintain postingan Instagramku secara khusus,” ujar Syahid yang mengaku mulai belajar soft-branding setelah aktif bermedia sosial. Konten postingannya pun lebih fokus ke mental health, sejalan dengan tema yang ia angkat pada novel Egosentris. “Kesehatan mental masyarakat semakin mengkhawatirkan terutama sejak adanya media sosial,” katanya.

Ruangan yang sudah dilengkapi empat kipas angin dan jendela lebar yang menghembuskan angin tak mengurangi panasnya suasana yang ada di dalam ruangan, tapi tidak dalam artian sebenarnya. Hal ini terutama disebabkan oleh tema yang dibahas, yaitu seputar selebgram, topik yang disukai kalangan muda. Meskipun telah populer, penulis Nadhia Allya Tsana, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Rintik Sendu, berkata bahwa ia tidak terpengaruh oleh komentar warganet. “Sebagian besar dari mereka hanya tahu saja, tapi tidak membaca,” ujar Tsana sambil menjawab pertanyaan dari peserta terkait pengaruh psikologis warganet terhadap Selebgram.

Berbeda dengan Tsana, penulis yang baru akan meluncurkan buku barunya yng berjudul Arah Langkah, Fiersa Bersari, justru mengatakan sebaliknya. “Komentar dari warganet sangat mempengaruhi aku. Karena itu, aku berusaha mengontrol penggunaan media sosialku.” Fiersa juga mengomentari budaya kritik masyarakat Indonesia. Sebagai penulis, ia mengatakan, seharusnya kita berterima kasih pada orang yang mengkritik karya kita. “Ketika berkarya, pujian tak akan sebanding dengan kajian,” aku Fiersa di akhir sesi.

Tiga perempat peserta yang hadir dalam program ini adalah perempuan. Meskipun beberapa peserta tidak mendapat tempat duduk, suasana talkshow tetap dipenuhi canda dan gurau. Kehadiran Maman Suherman sebagai moderator semakin menceriakan situasi, terutama oleh puisi-puisi gombal bertema cinta yang membuat peserta tertawa. Program diakhiri dengan sesi foto serta book signing bersama keempat penulis.

 

Kontributor: Nisrina Hanifah

Time