Skip to main content

Workshop Travel Writing by Windy Ariestanty

Workshop Travel Writing by Windy Ariestanty

Makassar, 2 Mei 2018, Windy Ariestanty mengisi kelas Travel Writing Writing Workshop yang bertempat di gedung Chapel, Fort Rotterdam, Makassar.

Windy Ariestanty adalah travel writer yang merangkap sebagai founder dan CEO Iwashere, aplikasi travel yang memungkinkan pengguna untuk bercerita ataupun mendengarkan cerita perjalanan dari pengguna lain. Windy telah menulis beberapa buku bertema traveling di antaranya adalah The Journeys, The Journeys 2, dan Life Traveler. Pada Travel Writing Workshop ini Windy membagikan sejumlah langkah penting dalam penulisan perjalanan, terutama strategi yang perlu dimiliki oleh seorang penulis perjalanan.

Dalam workshop tersebut, Windy membagikan bagaimana menulis narasi yang menarik untuk pembaca, langkah penting dalam membuat tulisan atau cerita perjalanan, dan strategi yang harus dimiliki penulis cerita perjalanan agar memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar jalan-jalan. Beberapa hal yang patut diperhatikan seperti:

  • Menulis cerita berdasarkan interaksi dengan penduduk lokal
  • Membuat storyline
  • Membuat goal
  • Menentukan karakter
  • Menyaring dan memilih dialog yang akan dimasukkan ke dalam cerita
  • Menggunakan teknik show and tell (memilih pengalaman yang dapat membangun cerita)
  • Melakukan riset, dan
  • Menulis ulang.

Windy selalu menekankan bahwa narasi bisa dijadikan sebagai bentuk perlawanan. “Perlawanan tidak selalu tentang mengangkat senjata, tetapi terus bernarasi tentang apa yang benar,” sebutnya.

Lagipula, lanjutnya, cerita perjalanan bukan tentang cerita destinasi yang eksotis, tetapi tentang nilai-nilai yang tersembunyi di tempat-tempat yang dikunjungi tersebut. Dalam menulis cerita perjalanan, Windy memang berfokus pada nilai-nilai sejarah yang ada di setiap tempat yang dikunjunginya seperti mengapa orang-orang di Kamboja mengonsumsi serangga untuk bertahan hidup. Cara ini juga membuat panca indera semakin sensitif untuk bereksplorasi dan mendukung cerita yang lebih nyata.

Di akhir workshop, Windy mengingatkan bahwa menulis cerita harus dilandasi dengan tujuan untuk menghibur, bukan untuk menggugah pembaca. Ia menyarankan agar menulis kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami, padat, singkat, namun jelas dan efektif.

“Sebuah tempat diciptakan bukan untuk menyamankan kita (pendatang) tapi untuk menyamankan penduduk lokal. Karena itu, setiap melakukan traveling, lakukanlah: travel, protect, respect, write, repeat.” 

 

Kontributor: N.Firmansyah

Time