Skip to main content

World Literature: French Poetry and Society oleh Benedicte Gorrillot

World Literature: French Poetry and Society oleh Benedicte Gorrillot

Program Goes to Campus hari kedua kembali dilaksanakan di Universitas Hasanuddin Makassar, sebagai rangkaian dari kegiatan Makassar International Writers Festival 2018. Mengangkat tema World Literature: French Poetry and Society, MIWF mengundang Bénédicte Gorrillot, Associated Professor di Bidang French Contemporary Literature dan Latin Poetry, Universitas Valenciennes, Prancis. Acara ini dipandu oleh Irma Nurul Husnah Chotimah, Dosen Jurusan Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin. Kegiatan yang bertempat di Ruang Senat, Gedung Rektorat UNHAS ini cukup mendapat sambutan baik khususnya dari mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa yang hadir, sebagian besar mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Prancis.

Dalam kesempatan ini, Gorrillot memberikan kuliah umum yang memaparkan hasil risetnya yang mengangkat tema “How Contemporary French Poetry Introduces to Contemporary Society in France”. Menurut Gorrillot literatur merupakan peta yang dapat membantu kita untuk lebih memahami bidang kemanusiaan dan membantu penulis untuk memperkaya perspektif penulis terhadap bidang kehidupan masyarakat dan kemanusiaan.

Banyak sekali contoh puisi Prancis yang dibagikan oleh Gorrillot untuk memberikan gambaran mengenai teori yang Ia jelaskan. Puisi tersebut antara lain dari penyair Francis Ponge, Jean-Pierre Verheggen, Jean-Marie Gleize, dan Christian Prigent.

Salah satu puisi yang banyak menarik perhatian audiens adalah puisi Francis Ponge berjudul Le Savon.(Soap).

If I rub my hands with it, soap foams, exults...

The more complaisant it makes them, supple,

smooth, docile, the more it slobbers, the more

its rage becomes voluminous, pearly...

Magic stone!

The more it forms with air and water

clusters of scented grapes

explosive...

Water, air and soap

overlap, play

at leapfrog, form

combinations less chemical than

physical, gymnastical, acrobatical...

Rhetorical?

Salah satu peserta bernama Firza, mahasiswa Sastra Prancis UNHAS  menanyakan kepada Gorrillot tentang bagaimana sebuah puisi seperti Le Savon ini bisa diartikan sehingga pembaca bisa mendapatkan makna yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh penyair. Hal ini ditanggapi oleh Gorrillot bahwa tidak ada cara untuk mengartikan puisi ini dan pada akhirnya makna tersebut kembali lagi pada pembaca itu sendiri. Bagaimanapun menurut Gorrillot, dari benda dan kata sesederhana sabun banyak sekali makna yang bisa digali dan dikembangkan. Hal ini dikarenakan setiap kata, tak hanya sabun, namun juga kata lainnya memiliki makna yang tak terbatas.

Audiens lain, Sofyan, mengungkapkan rasa penasarannya terhadap bagaimana posisi puisi dalam kehidupan masyarakat Prancis. Sayangnya, menurut Gorrillot sastra di Prancis sesungguhnya memiliki sangat sedikit bahkan bisa dikatakan tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Prancis. Hal ini disebabkan karena sampai saat ini, sastra hanya dinikmati oleh sedikit golongan (minoritas). Namun demikian, jika berbicara dari sudut pandang kelompok minoritas ini, maka puisi dianggap sebagai salah satu media yang dapat membantu mereka berpikir dan mengeksplorasi sesuatu hal.

Kondisi ini jugalah yang menjadi salah satu pemicu Gorrillot memulai risetnya ini. Ia berharap 50 tahun, bahkan 100 tahun mendatang, penyair-penyair Prancis bisa menjadi lebih terkenal secara umum.

 

Kontributor: Harlystiarini

Time