Skip to main content

World Literature: Understanding People from The Other Side of The World

World Literature: Understanding People from The Other Side of The World

Sastra dan Seni: Penyembuh bagi Tragedi Fukushima

“Apa anda cinta tempat yang ada tinggali?”

Sebuah pertanyaan terlontar dari Ryoichi Wago, seorang penulis puisi berjudul Pebbles of Poetry yang berasal dari Jepang. Mahasiswa Universitas Hasanudin yang menghadiri MIWF Goes to Campus dalam program World Literature: Understanding People From Other Parts of The World dengan kompak menjawab iya. Kampung halaman serta dearah tempat tinggal seketika menjadi topik pembahasan yang sendu di Aula Rektorat lantai 2 pada Jumat (4/05) pagi itu.

“Masyarakat korban tragedi Fukushima yang terjadi pada 2011 lalu itu butuh terapi untuk menyembuhkan trauma. Mereka meminta bantuan psikolog, kelas terapi mental juga dibuka, bahkan sampai ada omongan kalau mereka ‘nggak mau menikah sama perempuan dari Fukushima karena takut terkena radiasi’,” papar Ibu Lily Yulianti Farid, pendiri MIWF, sambil membuka program yang dimoderatori oleh ibu Meta Sekar Puji Astuti, dosen Sasta Jepang di Universitas Hassanuddin.

Tujuh tahun merupakan waktu yang singkat untuk penyembuhan hati. Masyarakat Fukushima korban dari tragedi gempa bumi berkekuatan 7,3 serta meledaknya reaktor nuklir di sana masih dilampau trauma dan luka di hati. Masyarakat sangat terpengaruh terutama dari sisi psikologis, cerita ibu Lily. Banyak masyarakat yang memutuskan untuk tidak kembali ke Fukushima karena takut terkena radiasi. Masyarakat yang dievakuasi pun sangat putus asa. Kebalikannya, kalangan mahasiswa, pasca tragedi, justru semakin semangat belajar keras dengan semangat untuk memperbaiki kampung halaman.

“Namun pada akhirnya mereka sedih, banyak mahasiswa yang drop out dan sakit, tidak sanggup untuk lanjut belajar mendengar bahwa mereka tak lagi dapat kembali ke kampung halaman di Fukushima” Ryoichi Wago menjelaskan dalam bahasa Jepang, yang dibantu oleh Kazuhisa Matsui sebagai penerjemah.

Ditambah lagi, pemerintah tidak memberikan kepastian apakah masyarakat dapat seterusnya hidup dan bermukin lagi di Fukushima atau tidak.

Tragedi ini, dijelaskan oleh Ryoichi, sebagai kehilangan kedua. “Pada kejadiannya di 2011 lalu, masyarakat mengalami kehilangan akibat bencana. Namun pada 2018 ini, mereka bukan hanya terkena bencana, tapi juga kehilangan kampung halaman tempat kembali. Oleh sebab itulah disebut sebagai kehilangan kedua. Rumah-rumah rusak dan bahkan sudah dihuni oleh binatang, tetangga terpencar belah dan terputus hubungan komunikasinya,” Ryoichi menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang menghadiri program terdiam dalam sendu.

Meskipun Jepang sering terkena gempa, masyarakat Fukushima pun belum pernah merasakan bencana sebesar tsunami yang menyusul setelah gempa tersebut. Malam harinya pada saat tragedi dan gempa terjadi terus-menerus, yaitu 11 Maret, Ryoichi memantau siaran berita di radio.

“Penyiar radio sampai menangis sat memberitakan bahwa ditemukan 1000 mayat di pantai,” ucap Ryoichi. Ia terus memantau perkembangan jumlah korban yang terus, terus, dan terus bertambah dengan hati pedih. “Kekuatan radiasi pun sangat besar. Asap dan sinar, semuanya dainggap monster.”

Sebagai bentuk penyembuhan, orang-orang yang pulang ke Fukushima memulai festival ‘Fukushima di Masa Depan’. Tarian dilaksanakan di kuil untuk menghibur koran. Rasa spritual Jepang yang tinggi nampak dari tarian yang juga dilaksanakan untuk memuja roh-roh di sana.

“Yang paling penting adalah berusaha untuk menerima luka hati masyarakat dulu, sebelum kita maju ke depan. Hal itulah yang disebut roh kata. ‘Kata’ itu ditempeli oleh roh. Tuhan masuk ke dalam kata. Hal ini disebut juga dengan berdoa, sebab ‘kata’ mulai memimpin kita,” ungkap Ryoici haru. Ia selama ini merasa hidup karena dipimpinin oleh roh kata, yaitu kembali ke kata dan bahasa.

Kata di sini memiliki kekuatan yang sangat besar, sampai bsa menyembuhkan masyarakat. “Bayangkan kesedihan yang kamu rasakan karena dilarang pulang. Ingin bunuh diri, rasa mau mati, harapan musnah. ‘Kata’ di sini berperan sebagai pemberi harapan dan semangat,” Ibu Lily telah menjelaskan di awal pertemuan.

Ryoichi mengabadikan perkembangan situasi di Fukushima melalui tweet via media sosial Twitter. Hal inilah yang membuatnya mendapatkan penghargaan dari Prancis.

Sebagai penutup, Ryoichi mengapresiasi ramainya penduduk Makassar. Masyarakat di sini, ia amati, penuh keceritaan dan memiliki beragam warna dalam kehidupanny. “Sebuah situasi kampung halaman yang nyaman dan menggembirakan,” ucapnya, membuat mahasiswa yang hadir jadi merenung dan semakin bersyukur.

 

Kontributor: Nisrina Hanifah

Time