Buku Kelas Skenario Oleh Salman-Arief

May 16, 2017 0

Mana yang lebih baik, skenario yang baik ? atau aktor yang baik ?”

 ‘Hal yang setiap orang miliki jika tidak ditulis, lalu untuk apa?’ Pertanyaan sekaligus pernyataan ini menjadi pengantar perbincangan saat acara soft launch Buku “Kelas Skenario”, Senin, 15 Mei 2017, di ruang La Galigo, Fort Rotterdam. Sore itu, penulis skenario, sutradara, sekaligus produser professional , Salman Aristo, bersama editorcerita, Arief Ash Shiddiq meluangkan waktunya untuk berdiskusi dan berbagi bersama mengenai buku yang mereka tulis “Kelas Skenario”.

Salman memulai karirnya sejak 1993 dengan naskahnya yang berjudul “Tak Pernah Kembali Sama” bersama Arief sebagai seorang editor cerita, pengembang naskah, serta penyuka film.  Arief sudah menyukai dunia cerita sejak kecil. Berdua mereka membukukan hal-hal yang mereka anggap penting dalam pengalaman selama menggeluti dunia cerita dan film. Buku-buku yang telah mereka baca, terkait bidang yang mereka geluti, serta diskusi yang banyak mereka senangi setiap bertemu dengan penulis-penulis lainnya.

Menulis sebuah skenario merupakan bentuk seni lain dari kata-kata untuk menggambarkan kejadian dan rasa yang kemudian orang-orang diharapkan turut merasakan apa yang terjadi dalam alur cerita. Hal itu yang kemudian dijelaskan Salman dan Arief dalam buku “Kelas Skenario”. Bagaimana menulis sebuah naskah? Dan mengapa harus seperti demikian dalam menulis sebuah naskah? “Jika ingin tahu bagaimana caranya menulis naskah, kalian cukup baca bagian awal buku saja. Tapi kalau kalian juga ingin tahu kenapa kami menulis seperti itu, yah baca sampai tamat”, kata Arief.

Pengalaman demi pengalaman mengalir menjadi perbincangan yang seru. Ada pengalaman lucu dalam dunia perfilman dan penulisan naskah yang mereka ceritakan. Hingga muncul sebuah pertanyaan menarik di antara peserta, “Mana yang lebih baik, skenario yang baik? atau aktor yang baik, mas?”.  Salman  menjawab, “Baiknya kalo skenarionya bagus, aktornya baik. Tapi skenario yang baik akan mempermudah pembuatan film, sedangkan skenario yang buruk, akan menyusahkan aktornya”.

Diskusi dan berbagi mengenai “Kelas Skenario” berakhir dengan datangnya malam. Malam datang seiring dengan harapan para penulis kepada para pembaca, agar buku “Kelas Skenario” dapat membuka akses bagi siapapun yang ingin belajar tentang skenario. #MIWF2017 (Aeni/Imhe-Tim Media MIWF)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *