May 20, 2017 0

Agenda kegiatan: Ruang Bersama: Narrations about Conflict and Resolution.

Anak panah bermata api melayang di udara, bom meledak di kampungnya. Peristiwa itu terekam dalam ingatan M. Irfan Ramly. Saat itu usianya baru 10 tahun. Ia bersama dua saudara dan ibunya yang sedang hamil 6 bulan harus mengungsi.

Irfan kini bekerja sebagai penulis skenario film. Kisah yang dia tuturkan mengawali diskusi Kamis pagi itu (18 Mei 2017) di Museum I Lagaligo, Fort Rotterdam, Kota Makassar. Irfan merupakan salah satu pembicara  yang berbagi cerita. Ia menandai 19 Januari 1999 sebagai awal terjadinya konflik Ambon.

Pada masa-masa konflik, ayahnya menyuruh tidur menggunakan baju tebal dan kaos kaki. Sepatu diletakkan di dekat mereka. Itu agar mereka selalu siap pergi kapan saja. Berminggu-minggu Irfan tidak sekolah. Berminggu-minggu menunggu kapan pergi. Suatu subuh, pukul setengah 4 kira-kira, ayahnya membangunkannya untuk pergi. Mereka ke Galunggung. Mengungsi.

Selama dua hingga tiga tahun Irfan dan keluarganya hidup di lingkungan yang semuanya adalah muslim. Ketika konflik berlangsung, semua orang dipaksa berpihak, Kristen atau Islam. “Tidak ada itu kalau ada orang yang bilang ‘saya tidak terlibat konflik Ambon.’ Semua orang terlibat!” kata Irfan. Suaranya tegas dengan  nada suara yang sama sepanjang diskusi pukul 10.00-12.00 Wita.

Akhir 1990-an juga terjadi peristiwa pengganyangan China di Kota Makassar. Andi Burhamzah, sutradara yang akrab disapa Anca, sedang mempersiapkan produksi sebuah film yang menceritakan peristiwa pengganyangan itu.

Ide itu berawal ketika Anca dan temannya yang keturunan Tionghoa, Yandi Lauren,  yang juga partnernya membuat film bercerita soal kejadian yang memulai peristiwa pengganyangan China. Seorang keturunan Tionghoa membunuh seorang anak dari keluarga muslim. Orang Tionghoa itu dipercayai sudah gila.

Anca berusaha menggali lebih dalam perihal peristiwa itu. Dia bertanya kepada keluarga Yandi. “Tidak ada yang menjawab,” kata Anca. “Seperti ada api yang dipelihara di dada mereka, api yang siap meledak kapan saja.” Respon keluarga Yandi membuat Anca berpikir bahwa konflik itu belum selesai. Tidak akan pernah selesai kalau tidak pernah dibicarakan.

Rumah dan sejumlah fasilitas umum dibakar. Berbeda dengan yang terjadi di Maluku dan di Makassar, konflik di Banggai Laut melibatkan orang-orang dari dua desa yang berasal dari satu suku. Erni Aladjai, seorang penulis menceritakannya sebagai pembicara ketiga. Isu politik (perebutan kekuasaan) menjadi pemicu konflik antar dua desa di Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Konflik terjadi ketika pemerintah akan melakukan pemindahan wilayah kecamatan.

“Perkelahian (atau konflik) di Banggai,” Erni bercerita, “bisa saja terjadi di satu kompleks perumahan. Bisa saja terjadi antara mereka yang tinggal di lingkungan yang sama.”

Erni Aladjai memanfaatkan kesempatan sebagai penerima hibah perdamaian 2016, bersama teman-temannya menyelenggarakan program residensi. Program Residensi Paupe namanya. Paupe merupakan seni tutur budaya Banggai yang berisikan syair-syair perdamaian. Budaya ini (seolah) hilang ketika konflik berlangsung. Padahal para penuturnya masih hidup.

Ide residensi itu adalah mempertemukan anak-anak dari dua desa yang berkonflik. Umumnya mereka berusia 15-18 dan berasal dari sebuah desa yang tidak mengalami konflik. Mereka mempelajari kembali seni tutur Paupe.

Ketiga-tiganya terjadi dalam kurun waktu bersamaan, akhir ’90-an. Ada apa dengan ketiga peristiwa konflik itu? Pertanyaan tersebut diajukan oleh Debra di sesi diskusi.

Mendiskusikan konflik Ambon, menurut Irfan, tidak bisa tanpa mengikut sertakan konflik Poso, Fakfak, dan lainnya. Di Maluku, konflik agama telah berpotensi meletus sejak lama. Pada zaman kolonial, sekolah pertama didirikan dekat gereja. “Pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Kristen dipenjara. Karena dianggap pro terhadap Belanda,” sambung Irfan.

Pasca konflik, sentiman agama masih terasa. Fakultas Hukum Universitas Pattimura, tempat Irfan mengambil studi, menerima setiap tahun 100 mahasiswa. “Tidak lebih dari 20 mahasiswa yang beragama Islam yang diterima. Saya beruntung karena banyak berteman dengan mahasiswa yang bergama Kristen.”

Sebelum konflik agama, isu Buton-Bugis-Makassar (BBM) mengemuka dengan argumen yang menyertainya adalah “Pendatang lebih sukses”. “Padahal orang Ambon itu gengsian,” kata Irfan. “Sebelum konflik, pekerjaan paling rendah menurut orang Ambon adalah sopir angkot.” Warga sudah ‘didesain’ berkonflik, menurut Irfan.

“Terminologi ‘teror konflik’ bukan hanya soal minoritas. Melainkan juga harga barang-barang,” lanjut penulis naskah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku itu.

Tahun 2011 terjadi kerusuhan di Ambon di tiga titik. Ketika itu beredar anggapan kalau Ambon harus menjadi wilayah untouchable. “Seolah-olah Ambon ini adalah wilayah berkebutuhan khusus,” sambung Irfan. Namun beberapa stasiun televisi mengabarkan kerusuhan itu dengan mengatakan konflik Ambon terulang. Banyak pihak bekerja untuk menepis berita itu. Mereka menolak berita itu.

“Konflik Ambon tidak bisa dipisahkan dari Jakarta,” lanjutnya lagi. “Temuan-temuan Tim Pencari Fakta, sampai saat ini, tidak pernah dibuka.” Itu adalah bentuk pembiaran. Dan itu dilakukan di banyak tempat. “Jakarta punya tanggung jawab.”

Anca menduga mungkin di setiap tempat dipelihara konfliknya. Peristiwa pengganyangan China di Kota Makassar sudah pernah terjadi pada 1965. “Mungkin betul-betul dipelihara,” kata Anca. “Karena orang-orang China di sini lebih kaya.” Salah satu fakta lain, terjadi kericuhan yang melibatkan orang Tionghoa ketika Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan.

Irfan mengamati film-film perihal China tidak pernah ditonton oleh orang China sendiri. Sentimen China itu masih bertahan. Shinta Febriany, penyair dan sutradara teater, yang menjadi moderator diskusi, menambahkan dengan cerita dari penampilan teater Cha Bao Kan. Teater yang berlangsung tiga hari lalu di Societeit de Harmonie itu tidak menarik penonton dari orang China. Sangat sedikit orang China yang datang menonton.

Menanggapi pertanyaan Debra, Erni mengansumsikan kalau konflik di Banggai Laut merupakan fenomena ketok tular. Energi kekerasan di daerah konflik lain menyebar. Sebab, hanya satu televisi di tiap desa waktu itu. Sehingga, isu konflik secara nasional tidak sampai ke sana.

Para pembicara menyaksikan konflik yang berlangsung. Lalu, bagaimana mereka, secara personal, berupaya mengobati rasa trauma atau perasaan lain di dalam diri sendiri?

“Mustahil jika dikatakan kita tidak marah, tidak sebal,” tanggapan Irfan. “Rumah dibakar, keluarga dibunuh.”

Irfan mengenang masa kecil sebelum konflik. Dia memiliki sebuah mainan yang populer ketika itu, sebuah mobil tamiya. Ketika harus meninggalkan rumah, ibunya menyuruh untuk meninggalkan saja mainan itu. “Bayangkan, seorang anak kecil terpisah dari mainan kesukaannya.”

Mobil tamiya itu dia tinggalkan bersama rumah dan barang-barang lainnya. Dia dan warga lainnya dipaksa menerima kenyataan. Ketika kembali dari pengungsian, Irfan menemukan rumah dan mobil tamiya itu hangus terbakar. Hanya ingatan yang tidak bisa dibakar.

Terjadi gelombang eksodus besar ke Baubau pasca konflik Ambon. Tapi banyak juga memilih tinggal.

Rumah tetangganya tiba-tiba kosong. Anca tidak menyadari itu sebelumnya. Dia, yang masih kanak-kanak ketika itu, bermain di dalam rumah. Berlangsungnya konflik membuat dia tidak bisa bersekolah. Justru menyenangkan bagi anak-anak, kata Anca. Namun karena konflik, dia tidak menemukan teman, dan tidak mengetahui ke mana mereka pergi. “Saya tidak menginginkan anak saya nanti mengalami dan merasakan hal serupa.”

Setelah konflik, Irfan banyak berteman dengan orang-orang beragama Kristen. Ibunya khawatir. “Bagaimana kalau nanti kamu di sana terjebak dan tidak bisa pulang,” cerita Irfan meniru perkataan ibunya. Ketakutan itu masih bermukim. Hidup bersama memori kolektif: banyak orang yang terbakar ketika konflik berlangsung karena mereka terjebak.

Satu hal yang tidak pernah dilakukan di Indonesia pasca konflik adalah pemetaan korban. Menurut Irfan, itu perlu dilakukan. Karena trauma yang dialami setiap korban berbeda-beda.

Pelaku pembakaran sejumlah fasilitas umum di desanya tidak pernah diketahui. Termasuk rumah sakit, cerita Erni. Karena itu, penduduk desa tetangga, yang terluka dan memerlukan pengobatan, harus menempuh perjalanan lebih lama ke kabupaten menggunakan perahu.

Erni menemukan bahwa sebelum konflik ruang bertemu warga dua desa itu hilang. Pasar lintas desa dan pentas seni antar desa tidak ada lagi. Sebagai resolusi, Erni dan teman-temannya menemui pemerintah desa. Mereka mengusulkan pasar lintas desa dan pentas seni antar desa diselenggarakan lagi. Karena ruang seperti itu bisa mempertemukan warga dan mereka bisa saling bertukar cerita. Sehingga, potensi konflik besar bisa dikurangi.

Ketika kerusuhan 2011 di Ambon, yang berada paling depan kerumunan melempar batu adalah anak-anak. Mereka beralasan ingin juga merasakan bagaimana konflik dulu. Ketika hendak membuat film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, banyak orang mengatakan kalau itu bisa mengorek luka lama.

Film itu harus tetap diproduksi, menurut Irfan. Sebab peristiwa konflik Ambon harus dibicarakan dengan formula yang tepat. Film Beta Maluku hendak menyampaikan kepada warga Ambon khususnya, kalau mereka adalah orang-orang yang mampu bertahan sejauh ini menghadapi konflik dan perbedaan.

Melalui film yang akan dia produksi, Anca ingin menunjukkan bagaimana anak-anak menyaksikan konflik. Gagasannya, dua anak kecil menyaksikan peristiwa pengganyangan China. “Kita pernah ada di situasi itu.” Film, pasar, pentas seni adalah ruang budaya di antara beragam bentuk lainnya. “Ruang budaya,” kata Erni “(adalah) resolusi (bagi konflik).”

Setiap orang, tutur Irfan, harus bertemu dan membicarakan konflik itu dengan terbuka. Hal pertama, kita harus mengakui perbedaan itu ada. Irfan mengilustrasikan,  “Saya memaafkanmu. Kau memaafkan saya. Sini kita cerita.” #MIWF2017 (Accang/Imhe-Tim Media MIWF)



May 19, 2017 0

Khrisna Pabichara kembali merilis buku terbarunya yang berjudul Cinta yang Diacuhkan. Ini adalah buku ketiga dari beliau, setelah novel “sepatu dahlan” dan “surat dahlan. perilisan buku ini menjadi salah satu agenda dalam kegiatan Makassar International Writer Festival 2017 yang digelar di Fort Rotterdam Makassar.

Kegiatan ini dibuka dengan sebuah ritual ma’baca-baca yang merupakan sebuah pertunjukan musikalisasi puisi dari Khrisna Pabichara dan teman-teman SMKI Makassar. Pembacaan puisi dibaca beliau sangat emosional dan berapi-api.
“Yang berbeda dari buku ini adalah bisa menjadi teman untuk belajar. Teman-teman bisa belajar dari buku ini karena ini disusun sesuai abjad,” kata Khrisna Pabichara memulai perilisan buku ini. “jadi secara tidak sengaja, saya mengajak teman-teman untuk belajar menulis dengan benar,” sambungnya.

Pria kelahiran Borongtammatea, Kabupaten Jeneponto, ini memberikan sedikit informasi tentang isi bukunya. “Di buku ini tidak ada dialog. kita terlalu sering bicara dengan orang lain. kita lupa bicara pada hati kita sendiri,” jelasnya.
“buku ini adalah percikan pengalaman batin saya dan teman saya. disini banyak curhatan teman saya dan juga buku ini saya mempersembahkan ilmu saya kepada wanita yang saya sayangi.”

Dalam sesi perilisan buku ini, salah satu pengunjung bertanya mengenai sosok perempuan dalam cover buku ini serta alasan memilihnya. “kaitannya ada dengan isinya, karena tokoh dalam buku ini adalah perempuan. Di luar dari itu, ada strategi pasar. Pembeli buku di indonesia yang terbanyak adalah perempuan” jelasnya. Sesi Tanya jawab berlangsung lebih lanjut dengan sebuah pertanyaan yang kembali dilontarkan oleh salah satu pengunjung lainnya tentang kata-kata arkais yang selalu muncul dalam buku-buku sebelumnya. “Kata-kata arkais di buku ini masih banyak. di antaranya ada dedau. dedau adalah gerutuan yang lebih daripada menggerutu,” katanya.

Dia melanjutkan, “pernah dengar kata “kualia”? kualia itu cinta yang terpendam, misalnya kita melihat atap dari orang yang kita cintai, kita sudah merasa bahagia. Itulah kualia.”
Khrisna Pabichara juga menuturkan tentang pesan yang ingin disampaikan oleh beliau, “ketika kita mencintai seseorang, sampaikanlah. Inti buku ini adalah tentang ketulusan mencintai”.
Sesi perilisan buku ini ditutup oleh sebuah musikalisasi puisi yang dibacakan oleh Khrisna Pabichara dan diiringi oleh teman-teman SMKI Makassar.



May 18, 2017 0

Nyanyian selalu menjadi cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu dalam otak orang-orang.

UPP————-Selamat Pagi Puisi Bersama Sapardi

Pagi menjadi lebih hangat bagi mereka yang mengagumi kata-kata, menyenangi sajak, dan mencintai puisi. Setelah memandangi tulisan-tulisan tangan Sapardi Djoko Damono yang dipajang di ruang dalam Rumata’ Art Space, Rabu 17 Mei 2017. Tulisan tangan Sapardi sejak 1958-1968 mengisi ruang pameran, Pameran Manoeskrip Sadjak ini menjadi sejarah dalam sastra Indonesia, ini pameran manuskrip pertama Sapardi.

Setelah berkeliling di ruang pameran bersama Sapardi, pengunjung yang datang lalu diarahkan berkumpul untuk duduk bersama, lalu memulai untuk berucap selamat pagi untuk puisi. “Selamat Pagi, Puisi!” adalah salah satu program Makassar International Writers Festival, yang memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mendengarkan langsung cerita-cerita Sapardi, perjalanannya menulis puisi.

Rindangnya pepohonan dengan  kicauan burung serta suara palu mengiringi perbincangan pagi itu. Di bawah teduh, Sapardi bercerita mengenai sulitnya, dahulu ia  mengakses buku atau media cetak bacaan lainnya. Saat ini, segala sesuatu terasa mudah untuk dijangkau, bahkan bisa dikata tak perlu mencari-cari buku terlalu sulit, hampir semua hal ada diinternet. “Sekarang semua sudah ada diinternet, tinggal dibaca saja, kan itu juga namanya membaca. Tapi sayang minat bacanya yang kurang”, kata Sapardi.

Tak hanya berbincang, juga ada penampilan duo Umar dan Nana yang menyanyikan sajak-sajak Sapardi, salah satu dari dua puisi yang dinyanyikan berjudul Sajak Kecil Tentang Cinta. Suara merdu dan petikan alunan gitar akustik membuat  kata-kata dalam sajak tersampaikan lebih  menarik dan menyejukkan.

“Puisi itu musikal,” kata Sapardi.  Duo Umar dan Nana membuat lagu dengan sajak-sajak itu, karena dimana pun dan kapanpun, menurut Sapardi, nyanyian selalu menjadi cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu dalam otak orang-orang. Karena itu pula, mengapa seorang penyair harus memiliki telinga, untuk mendengarkan, lalu dapat menciptakan sajak yang memiliki aspek suara, lebih indah untuk didengarkan pembacanya.

Kehangatan-kehangatan itu yang tersampaikan pada diri beberapa dan mungkin setiap orang yang menikmati pagi ini bersama Sapardi Djoko Damono. Mengenal puisi lebih dekat, tak sekedar kata-kata yang diperindah untuk dibanggakan. Karena puisi bukanlah makna, melainkan cara menyampaikan makna itu sendiri, dengan tulisan ataupun nyanyian.

Sampai jumpa besok, diacara Selamat Pagi, Puisi! #MIWF2017 (Aeni/Imhe-Tim Media MIWF)



May 18, 2017 0

Ruang berbagi ilmu, cerita, dan pengalaman.

Makassar International Writers Festival 2017 bekerja sama dengan The Jakarta Post Writing Center mengadakan Human Library atau Talking Books. Program ini menghadirkan forum berbagi ilmu, cerita, dan pengalaman selayaknya mencari informasi melalui buku.

Kegiatan ini jadi bagian dari rangkaian Writing Workshop yang diadakan di MIWF. Dengan menggandeng salah satu surat kabar ibu kota, The Jakarta Post. Media berbahasa Inggris ini memboyong 6 orang kru untuk ikut serta dalam program ini.

Program Human Library ini menghadirkan pelaku-pelaku media untuk berbagi cerita dan pengalaman mengenai beberapa topik dan keahlian masing-masing. Total 17 peserta turut ambil bagian dalam diskusi ini. Para partisipan dibagi ke dalam enam kelompok, The Seasoned Journalist, The up Activist, The Social Scientist, The Local, The Feminis Writers, and The Moveable Poet.

Penulis berkesempatan ikut serta dalam diskusi The Seasoned Journalist bersama Endy M. Bayuni. Senior Editor Jakarta Post tersebut berbagi pengalamannya hidup berdampingan dengan non-muslim di Amerika Serikat. Menurutnya stereotip tidak akan muncul ketika kita mampu mengenal pribadi lain. “Peribahasa tak kenal maka tak sayang sangat sesuai diterapkan untuk menjawab tantangan intoleransi di sekitar kita” terangnya dalam diskusi. Di akhir forum, figur yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post ini menambahkan perlu pikiran terbuka untuk bisa hidup saling berdampingan.

Forum yang merupakan bagian dari workshop kepenulisan bersama The Jakarta post ini, diharapkan mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan peserta. Sehingga menulis jadi lebih mudah. #MIWF2017 (Ainun/Imhe-Tim Media MIWF)



May 18, 2017 0

Taman Sinema yang menjadi pra-event MIWF 2017 akhirnya selesai digelar 3 hari berturut-turut. Pada Selasa, 16 Mei kemarin antusias masyarakat pada Taman Sinema nampak dengan semakin banyaknya penonton yang memadati Fort Rotterdam di malam hari. Sekitar 150 penonton menikmati sajian film yang ditawarkan Taman Sinema, jumlah ini lebih besar dari banyaknya penonton di hari-hari sebelumnya.

Film Istirahatlah Kata-kata menjadi penutup dalam rangkaian program Taman Sinema di tahun 2017. Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini berhasil menghidupkan sosok penyair kritis Wiji Thukul yang dinyatakan hilang sejak tahun 1998. Dengan latar belakang tahun 90-an, film ini berhasil membawa penonton ikut terhanyut dalam suasana orde baru.

Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini berhasil meraih sejumlah penghargaan di ajang-ajang bergengsi dunia perfilman, di antaranya yakni pada Usman Ismail Awards 2017 memenangkan 3 kategori sekaligus (sutradara, aktor, dan film terbaik), di Bangkok ASEAN Film Festival 2017 sebagai film terbaik, di Festival Film Indonesia 2016 sebagai sutradara dan penulis skenario asli terbaik, dan di NETPAC Asian Film Festival 2016 sebagai film terbaik.

“Aku tidak ingin kamu pergi, aku juga tidak ingin kamu pulang, tapi aku ingin kamu ada”, demikianlah kata-kata yang menjadi penutup dalam film ini. Kalimat tersebut diucapkan oleh Sipon, istri Wiji Thukul yang mengekspresikan keresahan hatinya yang merasa serba salah ketika harus menerima suaminya yang menjadi buronan pulang kembali ke rumah. Credit title pada akhir film ini diiringi oleh lagu yang ditulis sendiri oleh putra Wiji Thukul, Fajar Merah, mendengar lirik-lirik yang dituliskan oleh putranya, seperti terasa bahwa kata-kata Wiji Thukul sudah bangun dari istirahatnya. #MIWF2017 (Farah/Kems-Tim Media MIWF)



May 16, 2017 0

Athirah menjadi film pertama sekaligus sebagai pembuka kegiatan Taman Sinema  yang dilaksanakan di Fort Rotterdam Makassar pada 14 Mei 2017  semalam. Ini merupakan salah satu agenda dari acara “Ke Taman” yang digelar hingga 7 hari ke depan sebagai rangkaian dari Makassar International Writers Festival. Agenda Taman Sinema sendiri akan dilaksanakan selama 3 hari di tempat yang sama. Selain Athirah, akan ada 2 film lain yang akan diputar pada 2 hari selanjutnya, yaitu film Turah (2016) karya Wicaksono Wisnu Legowo, dan film Istirahatlah Kata-Kata (2016) yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen.

Taman Sinema menggunakan konsep layar tancap yang menyatu lokasinya dengan Taman Rasa. Dan masih disediakan bean bag bagi pengunjung yang ingin menikmati tontonan di Taman Sinema. Konsep ini membawa pengunjung merasakan bagaimana suasana pemutaran layar tancap yang dulu popular namun kini sudah jarang ditemui.

Antusias para pengunjung dalam menyambut kegiatan ini digambarkan dengan padatnya area pemutaran. Sekitar 70 penonton dari berbagai usia berkumpul memadati area Taman Rasa bahkan dua jam sebelum film diputar. Maka dari itu, jangan heran jika anda bisa menemui anak kecil yang berlari-lari di sekitar area pemutaran tersebut.

“Athirah” Sukses Menghibur Pengunjung

Pemutaran film “Athirah” sukses menghibur pengunjung yang semalam. Reaksi penonton cukup beragam dalam setiap adegan yang mereka saksikan di layar. Termasuk ketika adegan di bank saat si Ucu digoda oleh Ida yang sok jual mahal. Kadang mereka bersorak, kadang tertawa.

Athirah diangkat dari karya novel berjudul sama yang ditulis oleh Alberthiene Endah. Film yang diproduseri oleh Mira Lesmana ini mengisahkan tentang Athirah yang diperankan oleh Cut Mini. Athirah adalah sosok dari Ibunda Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, yang harus mengorbankan perasaannya demi menjaga keutuhan keluarganya. Selain itu, film ini juga mengangkat sosok muda Jusuf Kalla sebagai putra sulung, diperankan oleh Christopher Nelwan.

“Sebenarnya saya yakin bahwa setiap film itu punya mayoritas penonton dimana film itu berasal” tukas Riri Riza saat sesi diskusi setelah pemutaran semalam. Selain itu juga, Riri Riza juga menjelaskan tentang akhir Athirah yang menjadi pertanyaan dari MC dalam sesi diskusi itu. “Endingnya adalah ketika Ucu (Jusuf Kalla) bisa berdamai dengan masa lalunya, bahwa dia tidak bisa menolak bapaknya apapun yang terjadi” jawab Riri. Selain Riri Riza, juga hadir Arman Dewarti yang memerankan sosok Puang Ajji, suami dari Athirah, Andreuw Parinussa selaku aktor pendukung, Salman Aristo sebagai Penulis Naskah, dan Juang Manyala selaku peñata musik.

Taman Sinema masih akan digelar lagi esok hari, dengan sajian film “Turah” karya Wicaksono Wisnu Legowo. Jadi, ayo ke taman! #MIWF2017 (Yoms/Kems-Tim Media MIWF)



May 15, 2017 0

Membaca adalah proses berpikir 5M + 1 B

“Membaca adalah proses berpikir,” kata Clara Ng, seorang penulis buku-buku fiksi dalam kelas ‘Keajaiban Membaca’, Salah satu tema yang dibincangkan dalam kegiatan Pesta Pendidikan, di Fort Rotterdam Makassar, 13-14 Mei lalu. ‘Keajaiban Membaca” adalah salah satu kelas literasi yang bekerjasama dengan Makassar International Writers Festival.

Clara Ng tak sendiri. Ada Maria Tri Sulistiyani atau lebih dikenal dengan nama Ria Papermoon, founder Papermoon Puppet Theatre.  Perbincangan siang itu dipandu oleh moderator Heru Mawan dari Rumah Dongeng Indonesia. Saat Clara membawakan materi “Reading Strategy”, peserta yang mengikuti kelas terlihat serius mendengarkan penjelasan.

Menurut Clara membaca adalah proses berpikir, di mana si pembaca melakukan 5M + 1B. Yakni meramal, melamun, mengait, mengklarifikasi, mengevaluasi, dan bertanya. Penjelasan Clara ditutup dengan tepuk tangan dari para hadirin.

Diskusi kembali dilanjutkan, kali ini Ria Papermoon yang mengambil alih kelas. Ria tidak menyajikan slide presentasi, ia hanya bercuap-cuap menjelaskan tentang bagaimana proses membaca dan berkarya. Ia juga menjelaskan tentang sanggar Pupermoon Puppet Theatre yang lahir sebelas tahun lalu, Ria ingin membuat sebuah pertunjukan dimana para penontonnya bisa menitikkan air mata karena larut dalam cerita.

“Saya heran, selama ini kenapa orang-orang mudah sekali menangis ketika nonton film? Tapi ketika nonton teater pasti mereka keluar dengan oh iya lightingnya bagus, kostum pemainnya bagus tapi menor banget dandannya dan lainnya. Kenapa? Karena kebanyakan orang nonton teater pakai otak bukan pakai rasa” tutur Ria.

Setelah tanya-jawab. Kelas selesai tepat pukul 15.30 wita dan ditutup dengan gemuruh tepuk tangan dari peserta yang menambah semarak suasana sore di Fort Rotterdam. #MIWF2017 (Fira/Imhe-Tim Media MIWF)



May 15, 2017 0

Membaca itu seperti bernapas, kita tidak mungkin hidup tanpa bernapas.

Ruang Chapel menjadi sesak dan riuh begitu Presenter Mata Najwa, Najwa Shihab memasuki ruangan yang terletak di gedung P Fort Rotterdam, Minggu, 14 Mei 2017.  Meskipun suasana terasa gerah, dengan kipas angin yang tidak sebanding dengan peserta yang melebihi kapasitas ruangan yang hanya mampu menampung 50-an orang, namun Najwa mampu membakar semangat hadirin yang mayoritas dari kalangan muda.

Dipandu Direktur Makassar International Writers Festival (MIWF) Lily Yulianti Farid, dalam agenda Catatan Najwa. Sekitar dua jam, Najwa bercerita seputar perjalanan program Mata Najwa dan penyebaran virus literasi untuk meningkatkan minat baca di Indonesia.

Najwa menyebutkan, banyak penggiat literasi yang tersebar di berbagai daerah, dengan ketulusan mereka. Mengunakan banyak cara, mulai dari menggunakan motor, jualan jamu sambil bawa buku, motor, perahu, noken dan cara- cara unik, untuk berkarya melintasi batas.

“Jika melihat dari catatan UNICEF, bahwa Indonesia ada pada urutan 60 dari 61. Tapi kenyataanya di lapangan, saya melihat tidak demikian. Minat baca dan orang- orang yang berjuang dengan memperkenalkan literasi justru lebih banyak. Data boleh saja seperti itu, tapi saya yakin dunia literasi terus mengalami perbaikan dan peningkatan,” ungkap Najwa disusul tepuk tangan yang menggema.

Banyak orang-orang baik, yang berjuang untuk literasi ini, seperti Lily yang menggunakan jaringannya yang luas menyelenggarakan Makassar International Writers Festival, menggalang relawan bergandengan tangan untuk kebaikan negeri.

Lily pada kesempatan ini juga mengampanyekan agar orang tidak asal berbicara tanpa punya referensi yang kuat. Dia benar- benar sangat ingin melakukan hal- hal yang mendukung pergerakan literasi. “Saya mengibaratkan membaca itu seperti bernapas, jadi kita tidak mungkin hidup tanpa bernapas,” ungkapnya.

Najwa yang ditunjuk sebagai Duta Baca oleh Perpustakaan Nasional juga telah bertemu dengan beberapa penggiat literasi di beberapa daerah yang ada di Indonesia juga jaringan Pustaka Bergerak. Ia berharap bisa menjadi jembatan bagi siapa saja yang ingin bergerak dan tertarik dalam bidang literasi.

Kania, salah satu peserta meminta agar Najwa sebagai penggiat literasi bisa membuat terobosan yang dapat menampung para pengiat literasi di berbagai wilayah. Sementara itu, Nilam berharap Najwa tidak hanya menemui penggiat literasi yang ada di wilayah terjangkau, melainkan ke daerah terisolir atau pedalaman, agar bisa lebih memaksimalkan gerakan ini.

Memilih Makassar, biar sekalian pulang kampung. “Saya diberi pilihan Abi (ayah) saya, ada beberapa daerah yang akan didatangi untuk program literasi. Salah satunya Makassar. Ya saya pilih Makassar, sekalian pulang kampung karena lebih dekat ke Sidrap. Rumah Keluarga Shibab di Sidrap masih ada  dan menanti kepulangan kami,” ujar Najwa dengan penuh senyum dan semangat. #MIWF2017 (Amy/Imhe-Tim Media MIWF)



May 14, 2017 0

Menghadirkan sekitar 300 koleksi buku dari Wesabbe.

Ratusan buku-buku bertebaran di Taman Baca, mengisi taman sisi timur gedung Chapel Fort Rotterdam. Taman Baca adalah salah satu ruang terbuka yang ramah dimana Anda bisa menemukan berbagai macam bacaan. Taman Baca yang merupakan bagian dari perayaan Makassar International Writers Festival  sudah terbuka sejak 13 Mei sampai 20 mei 2017.

Buku-buku ada yang menempati rak-rak mini, keranjang, kotak-kotak kayu warna-warni, juga ditebar di atas meja kayu. Matahari yang cukup terik menjadikan duduk di bawah pohon menjadi pilihan favorit menikmati bacaan dan semilir angin. Saat matahari mulai lengser ke barat, Taman Baca menjadi teduh terlindung gedung Chapel. Pengunjung pun makin ramai.

Beberapa orang mulai sibuk memilih buku-buku yang akan dibaca. Tapi tidak sedikit juga yang kemudian memilih ber-swafoto ria di tengah-tengah taman.

Taman Baca adalah salah satu sudut favorit semua kalangan. Dari kanak-kanak hingga dewasa tanpa terkecuali.  Koleksi buku sekitar 300 eksemplar dari berbagai genre. Buku sastra, politik, musik hingga buku dongeng anak tersedia di tempat ini. Semua bisa dibaca sembari bersantai dengan alas rumput hijau. Sesuai dengan konsep MIWF, menghadirkan atmosfer santai di tengah-tengah festival.

“Saya sangat mengapresiasi fasilitas yang disediakan, dimana setiap pengunjung dengan leluasa bisa membaca buku yang dipajang,” kata Unge Utami, salah satu peserta Pesta Pendidikan yang memilih bersantai di Taman Baca bersama kawan-kawannya.  Menurutnya, kehadiran Taman Baca bisa meningkatkan minat baca masyarakat, menghidupkan budaya literasi di Kota Makassar. “Masyarakat butuh ajakan agar mau mampir ke sini,” tambahnya.

Taman Baca yang hadir tahun ini adalah Kampung Literasi Wesabbe yang diboyong ke Fort Rotterdam selama perayaan MIWF. Kampung Literasi sendiri adalah ruang bersama yang melibatkan warga masyarakat dan komunitas-komunitas pegiat literasi untuk mewujudkan masyarakat melek aksara dan terbiasa dengan budaya literasi. Kampung Literasi sendiri adalah kolaborasi Katakerja dan Kedai Buku Jenny, yang mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Duet Katakerja dan Kedai Buku Jenny menjadikan Taman Baca sebagai tempat untuk memperkenalkan Kampung Literasi. “Kehadiran Kampung Literasi di sini sebagai usaha kami memperkenalkan geliat-geliat di Wesabbe” ungkap Harnita Rahman, Penggiat Kampung Literasi. Tak hanya Katakerja dan Kedai Buku Jenny, di Taman Baca juga hadir bookstore Cara Baca.

Taman Baca adalah satu dari rangkaian program ‘Ke Taman’ yang digagas oleh Rumata’ Artspace, selain itu ada Taman Rasa dan Taman Sinema. Mari menciptakan ruang terbuka yang ramah.

#MIWF2017 (Ainun/Imhe-Tim Media MIWF)



May 13, 2017 0

Waktu Luang dan Titik Bias memulai pagelaran di area Taman Rasa, Fort Rotterdam Makassar, Sabtu sore tadi. Pagelaran ini merupakan salah satu rangkaian acara “Ke Taman” yang diadakan oleh Rumata’ Artspace menyambut salah satu festival literasi tahunan terbesar di Indonesia, Makassar International Writer Festival 2017. Taman Rasa dibuka mulai hari ini, hingga tujuh hari ke depan.

Taman Rasa dikemas dengan konsep pop-up park dimana pengunjung bisa menikmati sajian musik dan makanan di sekitar area sembari memandang senja yang berlalu pada akhir  sore hari. Di taman rasa disediakan bean bag bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana bersantai di sekitar benteng. Jika bosan duduk, pengunjung  yang  datang bersama anak-anak juga bisa bermain. Area ini bebas untuk berpiknik dengan cara apa pun.

Kegiatan di sekitar taman rasa dimulai dengan sajian musik Waktu Luang. Unit folk asal Makassar ini membawakan beberapa lagu, di antaranya berjudul “Gerhana” dan “Perempuan dan Rembulan”. Permainan musik  Waktu Luang sanggup menghibur pengunjung  yang berada di area Taman Rasa maupun yang berlalu lalang di sekitar benteng yang selalu jadi tempat langganan MIWF  berlangsung.

Sajian musik berlanjut, diisi oleh Titik Bias. Band yang beranggotakan Annisa AN (penyanyi), Al Amin (penyanyi dan gitar), dan Rijal (glockenspiel dan other instrument) juga membawakan beberapa lagu, seperti “Sajak Harapan”, “Peristiwa”, dan ditutup oleh satu lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra. Penampilan dari Titik Bias menjadi penutup aksi akustik di area Taman Rasa. Meski pun telah berakhir, tapi pengunjung masih betah berada di sekitar area menikmati malam; bersantai, makan-makan, mengabadikan momen bersama teman dan keluarga.

Taman Rasa masih akan terus ada hingga 20 Mei,beriringan dengan MIWF yang dimulai pada17 Mei mendatang. Jadi, tunggu apalagi? Ayo ke taman!

#MIWF2017 (Yaumil/Kems-Tim Media MIWF)