Kuasa Bekerja terhadap Nama, Stigma, dan Agama

May 20, 2017 0

Tema kegiatan: Ruang Bersama: Living in Diversity

Ni Nyoman Anna Marthanti bersama keluarganya setiap tahun merayakan hari besar tiga agama, Hindu, Kristen, dan Islam. Begitu bunyi kutipan di bawah potret keluarga itu. Bersama tujuh potret keluarga kawin campur lainnya, foto keluarga Ni Nyoman dipamerkan di Museum I Lagaligo, Fort Rotterdam, Makassar. Foto-foto itu merupakan bagian dari program Ruang Bersama yang diselenggarakan dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2017.

Ruang Bersama Rabu siang itu (17 Mei 2017) mengajak warga mendiskusikan keberagaman. Semua orang yang hadir duduk melingkar di lantai beralaskan karpet, mengikuti tradisi tudang sipulung orang Bugis. Diskusi berlangsung dari pukul 14.00 sampai 15.30 Wita.

Keberadaan masyarakat Tionghoa di Sulawesi Selatan telah berusia lebih dari 400 tahun, begitu Yerry Wirawan mengawali diskusi sebagai pembicara pertama di antara tiga lainnya. Yerry Wirawan menceritakan hasil penelitiannya. Hasil penelitian itu pada 2013 diterbitkan dalam bentuk buku Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar: Dari Abad ke-17 Hingga ke-20. Dosen Universitas Sanata Dharma itu mengungkapkan, keberagaman masyarakat Tionghoa Makassar secara umum terdiri dari tiga bentuk: agama, suku, dan bahasa.

Kedatangan orang Tionghoa pada abad ke-17 untuk berdagang. Mereka yang datang adalah laki-laki. Para pedagang inilah yang menikah dengan perempuan Bugis, Makassar, dan orang-orang dari suku bangsa lainnya yang lebih dulu menetap di Kota Makassar. Perkawinan campuran itu menghasilkan keturunan yang berikutnya disebut peranakan.

Yerry mengaku sebagai Tionghoa-Makassar. Neneknya berasal dari Malili, salah satu daerah di Kabupaten Luwu Timur, sekitar 600 meter di sebelah utara Kota Makassar dan beragama Islam. Kakeknya merupakan orang Tionghoa. Yerry menceritakan, pada bulan puasa kakeknya melarang makan siang di dalam rumah. Untuk menghargai neneknya, kata kakek Yerry. Kalau mau makan dilakukan di luar rumah. Begitu juga ketika ingin makan babi, atau apapun yang diharamkan dalam agama Islam.

Tradisi muslim dalam masyarakat Tionghoa Makassar telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda. Orang yang lahir dari perkawinan campuran antara Tionghoa dan suku bangsa lainnya menjadi muslim, umumnya karena mengikuti garis ibu. Masa Orde Baru, keturunan Tionghoa menjadi muslim karena ada tekanan dari penguasa.

Pihak pemerintah kolonial Belanda juga merupakan pihak pertama yang mengkotak-kotakkan berbagai suku bangsa di Kota Makassar. Pada masa itu, orang-orang Belanda sulit membedakan mana orang Makassar, Bugis, Melayu, Tionghoa, dan lainnya. Pemerintah kolonial mengatur pemberian nama dan cara berpakaian agar lebih mudah mengontrol penduduk jajahan. “Seharusnya, setelah kemerdekaan kita sudah bisa melampaui hal itu (soal mengkotak-kotakkan).”

“Banyak yang menganggap orang Tionghoa itu semua sama. Padahal di antara orang-orang Tionghoa juga ada keberagaman,” kata Yerry. Ada Tionghoa Guangzhou, Hokkian, dan Kanton.

Tradisi muslim dalam masyarakat Tionghoa Makassar juga diceritakan oleh Sofyan Syamsul. Fotografer itu menjadi pembicara kedua. Foto-foto yang dipamerkan dalam kegiatan ini merupakan karyanya. Fotografer yang juga akrab dipanggil Pepeng ini menceritakan temuannya.

“Banyak keturunan Tionghoa lahir sebagai muslim. Namun di dalam keluarga mereka, perayaan setiap agama yang dianut oleh setiap anggota keluarga dirayakan bersama-sama. Mereka merayakan lebaran, imlek, dan natal. Untuk urusan makanan, mereka membedakan pancinya; yang mana bisa dikonsumsi untuk muslim, yang mana bukan.”

Banyak orang Cina yang kawin campur tidak tinggal di kawasan pecinan, cerita Pepeng. Mereka tinggal di daerah yang mayoritas muslim. Alasan mereka pindah karena biasanya banyak anggota keluarga yang tidak suka. Bahkan mengatakan “Sama pribumi lagi?”.

Dalam hal bahasa, masyarakat Tionghoa Makassar lebih mengenal bahasa Makassar. Mereka juga menulis dengan menggunakan aksara lontara.

Yerry juga menceritakan bagaimana istilah Cina dan Tionghoa. Istilah Tionghoa berawal dari abad ke-19 hingga abad ke-20. Masa itu merupakan kebangkitan nasionalisme Tiongkok yang membawa semangat modernisasi. ‘Tiongkok’ merujuk kepada kata ‘Zhonghua’ yang diterjemahkan sebagai “ras tionghoa” atau “keturunan tiongkok” tanpa memperhatikan kumpulan etnis.

Pada 1967, pemerintah Orde Baru mengeluarkan setidaknya 8 aturan mengenai keberadaan orang Cina—begitu sebutan oleh rezim ketika itu. Menurut Yerry, hal itu penting dibicarakan. “Barangkali kita butuh konvensi bersama, sekaligus merefleksikannya.”

Lebih dari satu dekade berikutnya, anak-anak Timor Leste dicabut dari kampung halamannya. Eko Rusdianto menceritakan hasil penelitiannya perihal anak-anak Timor Leste di Sulawesi yang diculik oleh tentara pasca operasi integrasi pada akhir 1970-an.

Eko Rusdianto yang merupakan jurnalis dan peneliti menjadi pembicara ketiga. Ketertarikan Eko terhadap persoalan anak-anak Timor Leste yang diculik oleh tentara itu berawal setelah membaca cerita pendek Seno Gumira Ajidarma. Berikutnya, dia berjumpa satu buku yang membahas sejarah Timor Lorosae.

Setelah perjumpaan dengan buku sejarah, dia bertemu orang-orang Timor Leste di Sulawesi Selatan yang merupakan bekas TBO (Tenaga Bantuan Operasi). Mereka adalah orang-orang yang diculik oleh tentara saat berusia 9-14 tahun. “Mereka ada di sekitar kita,” kata Eko. “Ada 34 orang. Sekarang usia mereka berkisar 45 sampai akhir 50an.”

Eko semakin tertarik menuliskan kisah mereka setelah, empat tahun lalu, menuliskan sejarah keluarganya. Kakek dari ibunya merupakan orang Betawi. “Perasaan ibu saya hancur, tidak tahu keluarga bapaknya. Bagaimana anak 9 tahun, 14 tahun, dibawa paksa ke Indonesia dan mereka terlepas dari kampungnya? Mereka Katolik, dicuri oleh tentara yang muslim, dan tiba-tiba menjadi muslim?”

Delina, Miguel, dan Moukunda adalah tiga kisah yang diceritakan Eko. Miguel, dalam bahasa Indonesia bernama Untung. Tiba di Sulawesi Selatan, bersekolah, lihat orang disunat. Menginjak usia 14 dia minta disunat. Moukunda, nama Indonesia-nya menjadi Arif. Delina, di Timor Leste namanya Tauka. Nama tauka itu sebenarnya persiapan untuk nama baptisnya. Setelah diculik, tidak jadi dibaptis. Kemudian bersekolah di Takalar, dan ketika kelas 4 SD dia bercerita dengan teman-temannya kalau belum disunat. Akhirnya dia disunat dan masuk muslim. “Dia masuk muslim secara auto-muslim,” kata Eko.

Moukunda dan Delina diculik oleh satu tentara yang sama bernama Andi Muhammad Yamin. Mereka dibawa ke Kendari. Lalu ke Kolaka. Dari sana ke Enrekang, dan ke Sulawesi Barat. Ketika diculik, Delina berusia 9 tahun dan Arif 12 tahun.

“Kapan pun Pak Amin bangun, belum ada kopi, nasi, maka kepala Delina dibenturkan ke tembok.”  Beberapa bekas jahitan di kepalanya masih kelihatan. Sekarang Delina menikahi tentara. “Saya menanyai dia,”lanjut Eko, “’bagaimana kau bisa berhubungan dengan tentara? Bagaimana kau bisa tidur seranjang dengan orang yang mengambil paksa kau dari kampungmu?’ Delina tidak bisa menjawab. Dia menangis.”

Ketika tentara menyerang kampungnya, Delina duduk di kelas 2 SD. Yamin melihat Delina di sekolah. Yamin ingin membawanya ke Sulawesi jika operasi di Timor Leste selesai dan batalion dibawa pulang ke Indonesia. Namun, keluarga Delina tidak mau. Tentara itu mengancam, “Jika Delina tidak ikut saya, satu kampung ini akan saya bakar.” Bapak Delina menyerah. Moukunda juga begitu. Yamin mengatakan kalau keluarga Moukunda telah mati semua. Semua Fretilin sudah mati. Ayah Moukunda anggota Fretilin.

Miguel atau Untung, beruntung masih bisa berbahasa Tetun. Moukunda dan Delina sudah tidak tahu berbahasa Tetum.

Ada juga yang diculik oleh tentara baik hati. Mereka diberi warisan. Satu orang Timor Leste di Palopo mengelola satu yayasan pesantren. Seorang di Toraja yang tidak pernah bersekolah dan buta huruf, menjadi penggembala kerbau.

“Saya tidak bisa membayangkan orang-orang seperti ini dicabut dari akarnya dengan alasan bahwa Timor Portugis harus dihancurkan karena membawa komunis,” kenang Eko. “Fretilin berhaluan komunis. Padahal nama Timor Timur itu pemberian Indonesia, yang sebelumnya disebut Timor Leste atau Timor Portugis. Sebaiknya orang-orang ini dipulangkan.

“Saya tanya ke Delina, ‘kalau ibumu masih hidup, mau kau ketemu?’ Delina jawab, ‘saya belum tentu kenal dia. Belum tentu juga dia mengenali saya.’

“Susah membahasakan kelakuan bangsa kita terhadap Timor Timur. Melihat Soeharto membawa beberapa puluh anak-anak Timor Leste ke Jakarta, foto bersama di depan istana, dan caption yang bertuliskan bahwa kita harus menyelamatkan anak Timor Timur. Setelah itu mereka dimasukkan ke pesantren.”

Di Kota Makassar juga ada Yayasan Basalamah. Yayasan Basalamah mengangkut dengan kapal besar, sebanyak tiga kali anak-anak dari Timor Timur. Mereka semua dimasukkan ke pesantren. Katolik maupun Protestan, semua masuk pesantren. Pesantren itu sekarang berada di belakang gudang Coca-Cola.

“Kamu lahir ketika pengganyangan Cina. Adikmu lahir ketika penggayangan gereja sekitar 1967,” Maman Suherman mengawali ceritanya. Itu merupakan kata-kata ibunya yang kelahiran Kabupaten Gowa. Ayahnya Sunda. Novelis itu lahir diiringi suara tembakan. Ayahnya ketika itu juga adalah seorang tentara. Pindah ke Sumedang, gurunya mengganti nama M. Suherman menjadi Maman Suherman, yang sebenarnya Muhammad Suherman.

Ketika dipindahtugaskan ke Kabupaten Bone, ayahnya mengangkat seorang anak dari pesantren. Kemudian Maman pindah ke sana juga. Di sana dia hampir diperkosa oleh anak angkat ayahnya itu. Dia jadi trauma dan menganggap semua homoseksual adalah pemerkosa.

“Ada penyelesaian dari pihak pesantren. Karena anak pesantren, itu harus diselesaikan dengan cara tradisional: Pesantren. Pihak luar pesantren tidak boleh mengetahui kalau ada kegiatan seperti itu. Dan tidak boleh diungkap. Persoalan seperti itu tidak akan pernah selesai jika tidak pernah diungkapkan.”

Bertemu dengan Re, Maman berhubungan dengan sindikat perdagangan manusia, Salah satunya di Kota Makassar. “Semua pelacur di Kota Makassar, pada 1980-an, sama bentuk hidungnya. Karena operasi di tempat yang sama supaya laku.”

Jalur perdagangannya bagaikan jalur lingkaran setan: Jakarta-Bandung-Semarang-Surabaya-Bali-Makassar-Medan-Padang. Begitu seterusnya. Jadi, yang di Bali dan Kota Makassar itu sudah pindah enam kali. Kecuali jika mereka meninggal atau ketahuan mengidap penyakit kelamin.

Lebih lanjut, menurut Maman kaum minoritas itu diberi dua tingkatan penyimpangan: lesbian dan pelacur. Mereka mengalami pemerasan. Pada ‘88-‘89 mereka, saat melakukan hubungan, difoto secara diam-diam. Mereka diancam akan dilaporkan ke orang tuanya atau pihak sekolah, jika masih usia sekolah. Apabila mereka nekat, akan dibunuh. Ketika pembunuhan terhadap mereka dilaporkan dan diketahui kalau mereka adalah lesbian, maka tidak akan ada yang mau peduli, sekalipun itu mereka adalah yang berasal dari jajaran kepolisian ataupun awak media. Orang-orang ini dibiarkan begitu saja.

Ketika marak kasus petrus (penembakan misterius) kaum lesbian ini dimanfaatkan untuk memenangkan salah satu partai politik. “Dulu, pelacur-pelacur di Jakarta, para pendatang itu diberikan KTP dua macam yang berbeda warna: Kuning dan putih. Itu adalah kartu identitas sementara dan hanya dikeluarkan saat Pemilu.”

“Setelah pemilu, KTP itu dicabut. Mereka kemudian dihilangkan, sehingga nama mereka tidak ada dalam data statistik.”

Hilangnya kaum lesbian tidak mengubah statistik. Hilangnya mereka bukan satu masalah bagi negara. Sekarang, kondisi itu hampir tidak berubah. Mereka diancam akan disebar sebagai pelaku penyimpangan, lesbian dan pelacur, atau dibunuh.

“Ternyata bicara toleransi adalah soal keberpihakan,” kata Maman. “Keberpihakan terhadap siapa yang berkuasa memberi cap, suku mana. Bukan semata-mata jumlah. Itu yang menakutkan bagi saya dan teman-teman dalam komunitas yang minoritas. Jika saya melapor ke organisasi agama, mereka akan mengatakan kalau kaum minoritas itu adalah sampah dan halal darahnya dibunuh.

“Anak-anak yang saya tangani biasanya dijual pada jam-jam macet di Jakarta, sekitar pukul 4 sore sampai 6 petang. Itu adalah happy hour bisnis perdagangan manusia. Satu harga untuk dapat dua perempuan. Dan bisa mendapatkan pelayanan seksual, dari yang sejenis dan berlawanan jenis.

“Saya bertanya-tanya, jika kasus kematian mereka—yang dibunuh—dilaporkan, apakah mereka punya kekuatan untuk berbicara dan mengungkapkannya? Posisi kaum minoritas tidak akan pernah tersentuh jika terus memperoleh ancaman.”

Lily Yulianti Farid, seorang penulis, membagi keresahannya. Lily seolah menemukan dirinya terjebak di dalam self censorship: menahan diri untuk berbicara seperti masa orde baru. Dia mengamati hal itu tidak dia rasakan setahun yang lalu. Menurutnya, sekarang orang-orang menjadi sulit untuk membicarakan perihal perbedaan dengan rileks, baik itu perihal suku, agama, hingga sosial ekonomi. Teman-temannya jadi cepat marah kalau menyoal agama misalnya. Teman-temannya juga sering menjejali dia berbagai informasi soal religius. “Apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia sekarang?”

Olin Monteiro (seorang aktivis feminis, penulis, dan produser film), yang menjadi moderator diskusi mengatakan, sejak isu Ahok isu perbedaan agama dan suku terangkat.

Maman menanggapi keresahan Lily, “Ketika membiarkan orang melempar kaca jendela atau mencoret-coret rumah kita dan tidak ada yang menganggap itu sebagai kesalahan, hal itu akan terus berkembang hingga akhirnya manjadi hal yang biasa. Ketika HTI, FPI kita anggap biasa, kita akan mengalami hal seperti sekarang. Menjadi ribut ketika hal itu dibanding-bandingkan.”

“Saya kaget ketika HTI dibandingkan dengan Minahasa misalnya,” lanjut Maman. “Hal lokal disamakan dengan isu nasional. Yang ingin berotonomi, disamakan dengan yang ingin mengubah ideologi.

“Lebih menakutkan di media sosial. Toleransi dicari yang mendukung kepentingan dia. Ketika isu Minahasa ingin merdeka, orang-orang yang menahan diri selama HTI dibubarkan, menemukan kesempatan mengungkapkan pengertiannya mengenai toleransi. ‘Hajar juga dong Minahasa, OPM.’ Padahal mereka menyasar skala yang sangat berbeda.

“Saya menakutkan pembiaran-pembiaran. Kita tidak punya lagi kesempatan duduk seperti ini.”

Maman mengungkapkan satu penemuan. Ada biro jasa di Jakarta yang namanya jasa maki. “Makin tajam makiannya, makin banyak bayarannya. Dan itu dibiarkan! Bagi mereka, konflik adalah bisnis.”

Menurut Eko, sentimen agama sulit untuk dijelaskan. “Di Kota Makassar, kalau ada supir pete’-pete’  yang ugal-ugalan dengan ciri-ciri fisik berkulit hitam, berambut keriting, dan dari timur, maka hal itu kemudian akan dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Orang-orang dari timur—Papua, Flores, Kupang—di Kota Makassar diberi stigma yang sangat kuat: mereka kasar dan senang menenggak minuman keras. Jangankan stigma agama, warna kulit pun sangat bermasalah.”

Dalam menanggapi isu intoleransi dan diskriminasi rasial, Yerry mengemukakan kita sebenarnya mengasah kepekaan. Dia berujar, “Beberapa bulan lalu di Yogyakarta, orang Papua mengalami diskriminasi rasial. Di sana mereka kesulitan memperoleh kamar kost. Masih ada harapan jika kita memiliki kepekaan. Ruang-ruang bersama yang membicarakan isu toleransi harus diperbanyak, untuk menjaga kepekaan.”

Yerry Wirawan ketika mengakhiri ceritanya di sesi pertama diskusi mengatakan, “Setiap orang lahir berbeda. Bersama adalah kata kerja. Dengan bekerja kita bisa bersama. Jika kita tidak mengupayakannya, kita akan selalu berbeda, yang berarti kita tidak akan pernah bisa bersatu.” #MIWF2017 (Accang/Imhe-Tim Media MIWF)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *