Membaca sambil Belajar dari Novel Cinta yang Diacuhkan

May 19, 2017 0

Khrisna Pabichara kembali merilis buku terbarunya yang berjudul Cinta yang Diacuhkan. Ini adalah buku ketiga dari beliau, setelah novel “sepatu dahlan” dan “surat dahlan. perilisan buku ini menjadi salah satu agenda dalam kegiatan Makassar International Writer Festival 2017 yang digelar di Fort Rotterdam Makassar.

Kegiatan ini dibuka dengan sebuah ritual ma’baca-baca yang merupakan sebuah pertunjukan musikalisasi puisi dari Khrisna Pabichara dan teman-teman SMKI Makassar. Pembacaan puisi dibaca beliau sangat emosional dan berapi-api.
“Yang berbeda dari buku ini adalah bisa menjadi teman untuk belajar. Teman-teman bisa belajar dari buku ini karena ini disusun sesuai abjad,” kata Khrisna Pabichara memulai perilisan buku ini. “jadi secara tidak sengaja, saya mengajak teman-teman untuk belajar menulis dengan benar,” sambungnya.

Pria kelahiran Borongtammatea, Kabupaten Jeneponto, ini memberikan sedikit informasi tentang isi bukunya. “Di buku ini tidak ada dialog. kita terlalu sering bicara dengan orang lain. kita lupa bicara pada hati kita sendiri,” jelasnya.
“buku ini adalah percikan pengalaman batin saya dan teman saya. disini banyak curhatan teman saya dan juga buku ini saya mempersembahkan ilmu saya kepada wanita yang saya sayangi.”

Dalam sesi perilisan buku ini, salah satu pengunjung bertanya mengenai sosok perempuan dalam cover buku ini serta alasan memilihnya. “kaitannya ada dengan isinya, karena tokoh dalam buku ini adalah perempuan. Di luar dari itu, ada strategi pasar. Pembeli buku di indonesia yang terbanyak adalah perempuan” jelasnya. Sesi Tanya jawab berlangsung lebih lanjut dengan sebuah pertanyaan yang kembali dilontarkan oleh salah satu pengunjung lainnya tentang kata-kata arkais yang selalu muncul dalam buku-buku sebelumnya. “Kata-kata arkais di buku ini masih banyak. di antaranya ada dedau. dedau adalah gerutuan yang lebih daripada menggerutu,” katanya.

Dia melanjutkan, “pernah dengar kata “kualia”? kualia itu cinta yang terpendam, misalnya kita melihat atap dari orang yang kita cintai, kita sudah merasa bahagia. Itulah kualia.”
Khrisna Pabichara juga menuturkan tentang pesan yang ingin disampaikan oleh beliau, “ketika kita mencintai seseorang, sampaikanlah. Inti buku ini adalah tentang ketulusan mencintai”.
Sesi perilisan buku ini ditutup oleh sebuah musikalisasi puisi yang dibacakan oleh Khrisna Pabichara dan diiringi oleh teman-teman SMKI Makassar.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *