May 20, 2017 0

Agenda kegiatan: Ruang Bersama: Narrations about Conflict and Resolution.

Anak panah bermata api melayang di udara, bom meledak di kampungnya. Peristiwa itu terekam dalam ingatan M. Irfan Ramly. Saat itu usianya baru 10 tahun. Ia bersama dua saudara dan ibunya yang sedang hamil 6 bulan harus mengungsi.

Irfan kini bekerja sebagai penulis skenario film. Kisah yang dia tuturkan mengawali diskusi Kamis pagi itu (18 Mei 2017) di Museum I Lagaligo, Fort Rotterdam, Kota Makassar. Irfan merupakan salah satu pembicara  yang berbagi cerita. Ia menandai 19 Januari 1999 sebagai awal terjadinya konflik Ambon.

Pada masa-masa konflik, ayahnya menyuruh tidur menggunakan baju tebal dan kaos kaki. Sepatu diletakkan di dekat mereka. Itu agar mereka selalu siap pergi kapan saja. Berminggu-minggu Irfan tidak sekolah. Berminggu-minggu menunggu kapan pergi. Suatu subuh, pukul setengah 4 kira-kira, ayahnya membangunkannya untuk pergi. Mereka ke Galunggung. Mengungsi.

Selama dua hingga tiga tahun Irfan dan keluarganya hidup di lingkungan yang semuanya adalah muslim. Ketika konflik berlangsung, semua orang dipaksa berpihak, Kristen atau Islam. “Tidak ada itu kalau ada orang yang bilang ‘saya tidak terlibat konflik Ambon.’ Semua orang terlibat!” kata Irfan. Suaranya tegas dengan  nada suara yang sama sepanjang diskusi pukul 10.00-12.00 Wita.

Akhir 1990-an juga terjadi peristiwa pengganyangan China di Kota Makassar. Andi Burhamzah, sutradara yang akrab disapa Anca, sedang mempersiapkan produksi sebuah film yang menceritakan peristiwa pengganyangan itu.

Ide itu berawal ketika Anca dan temannya yang keturunan Tionghoa, Yandi Lauren,  yang juga partnernya membuat film bercerita soal kejadian yang memulai peristiwa pengganyangan China. Seorang keturunan Tionghoa membunuh seorang anak dari keluarga muslim. Orang Tionghoa itu dipercayai sudah gila.

Anca berusaha menggali lebih dalam perihal peristiwa itu. Dia bertanya kepada keluarga Yandi. “Tidak ada yang menjawab,” kata Anca. “Seperti ada api yang dipelihara di dada mereka, api yang siap meledak kapan saja.” Respon keluarga Yandi membuat Anca berpikir bahwa konflik itu belum selesai. Tidak akan pernah selesai kalau tidak pernah dibicarakan.

Rumah dan sejumlah fasilitas umum dibakar. Berbeda dengan yang terjadi di Maluku dan di Makassar, konflik di Banggai Laut melibatkan orang-orang dari dua desa yang berasal dari satu suku. Erni Aladjai, seorang penulis menceritakannya sebagai pembicara ketiga. Isu politik (perebutan kekuasaan) menjadi pemicu konflik antar dua desa di Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Konflik terjadi ketika pemerintah akan melakukan pemindahan wilayah kecamatan.

“Perkelahian (atau konflik) di Banggai,” Erni bercerita, “bisa saja terjadi di satu kompleks perumahan. Bisa saja terjadi antara mereka yang tinggal di lingkungan yang sama.”

Erni Aladjai memanfaatkan kesempatan sebagai penerima hibah perdamaian 2016, bersama teman-temannya menyelenggarakan program residensi. Program Residensi Paupe namanya. Paupe merupakan seni tutur budaya Banggai yang berisikan syair-syair perdamaian. Budaya ini (seolah) hilang ketika konflik berlangsung. Padahal para penuturnya masih hidup.

Ide residensi itu adalah mempertemukan anak-anak dari dua desa yang berkonflik. Umumnya mereka berusia 15-18 dan berasal dari sebuah desa yang tidak mengalami konflik. Mereka mempelajari kembali seni tutur Paupe.

Ketiga-tiganya terjadi dalam kurun waktu bersamaan, akhir ’90-an. Ada apa dengan ketiga peristiwa konflik itu? Pertanyaan tersebut diajukan oleh Debra di sesi diskusi.

Mendiskusikan konflik Ambon, menurut Irfan, tidak bisa tanpa mengikut sertakan konflik Poso, Fakfak, dan lainnya. Di Maluku, konflik agama telah berpotensi meletus sejak lama. Pada zaman kolonial, sekolah pertama didirikan dekat gereja. “Pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Kristen dipenjara. Karena dianggap pro terhadap Belanda,” sambung Irfan.

Pasca konflik, sentiman agama masih terasa. Fakultas Hukum Universitas Pattimura, tempat Irfan mengambil studi, menerima setiap tahun 100 mahasiswa. “Tidak lebih dari 20 mahasiswa yang beragama Islam yang diterima. Saya beruntung karena banyak berteman dengan mahasiswa yang bergama Kristen.”

Sebelum konflik agama, isu Buton-Bugis-Makassar (BBM) mengemuka dengan argumen yang menyertainya adalah “Pendatang lebih sukses”. “Padahal orang Ambon itu gengsian,” kata Irfan. “Sebelum konflik, pekerjaan paling rendah menurut orang Ambon adalah sopir angkot.” Warga sudah ‘didesain’ berkonflik, menurut Irfan.

“Terminologi ‘teror konflik’ bukan hanya soal minoritas. Melainkan juga harga barang-barang,” lanjut penulis naskah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku itu.

Tahun 2011 terjadi kerusuhan di Ambon di tiga titik. Ketika itu beredar anggapan kalau Ambon harus menjadi wilayah untouchable. “Seolah-olah Ambon ini adalah wilayah berkebutuhan khusus,” sambung Irfan. Namun beberapa stasiun televisi mengabarkan kerusuhan itu dengan mengatakan konflik Ambon terulang. Banyak pihak bekerja untuk menepis berita itu. Mereka menolak berita itu.

“Konflik Ambon tidak bisa dipisahkan dari Jakarta,” lanjutnya lagi. “Temuan-temuan Tim Pencari Fakta, sampai saat ini, tidak pernah dibuka.” Itu adalah bentuk pembiaran. Dan itu dilakukan di banyak tempat. “Jakarta punya tanggung jawab.”

Anca menduga mungkin di setiap tempat dipelihara konfliknya. Peristiwa pengganyangan China di Kota Makassar sudah pernah terjadi pada 1965. “Mungkin betul-betul dipelihara,” kata Anca. “Karena orang-orang China di sini lebih kaya.” Salah satu fakta lain, terjadi kericuhan yang melibatkan orang Tionghoa ketika Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan.

Irfan mengamati film-film perihal China tidak pernah ditonton oleh orang China sendiri. Sentimen China itu masih bertahan. Shinta Febriany, penyair dan sutradara teater, yang menjadi moderator diskusi, menambahkan dengan cerita dari penampilan teater Cha Bao Kan. Teater yang berlangsung tiga hari lalu di Societeit de Harmonie itu tidak menarik penonton dari orang China. Sangat sedikit orang China yang datang menonton.

Menanggapi pertanyaan Debra, Erni mengansumsikan kalau konflik di Banggai Laut merupakan fenomena ketok tular. Energi kekerasan di daerah konflik lain menyebar. Sebab, hanya satu televisi di tiap desa waktu itu. Sehingga, isu konflik secara nasional tidak sampai ke sana.

Para pembicara menyaksikan konflik yang berlangsung. Lalu, bagaimana mereka, secara personal, berupaya mengobati rasa trauma atau perasaan lain di dalam diri sendiri?

“Mustahil jika dikatakan kita tidak marah, tidak sebal,” tanggapan Irfan. “Rumah dibakar, keluarga dibunuh.”

Irfan mengenang masa kecil sebelum konflik. Dia memiliki sebuah mainan yang populer ketika itu, sebuah mobil tamiya. Ketika harus meninggalkan rumah, ibunya menyuruh untuk meninggalkan saja mainan itu. “Bayangkan, seorang anak kecil terpisah dari mainan kesukaannya.”

Mobil tamiya itu dia tinggalkan bersama rumah dan barang-barang lainnya. Dia dan warga lainnya dipaksa menerima kenyataan. Ketika kembali dari pengungsian, Irfan menemukan rumah dan mobil tamiya itu hangus terbakar. Hanya ingatan yang tidak bisa dibakar.

Terjadi gelombang eksodus besar ke Baubau pasca konflik Ambon. Tapi banyak juga memilih tinggal.

Rumah tetangganya tiba-tiba kosong. Anca tidak menyadari itu sebelumnya. Dia, yang masih kanak-kanak ketika itu, bermain di dalam rumah. Berlangsungnya konflik membuat dia tidak bisa bersekolah. Justru menyenangkan bagi anak-anak, kata Anca. Namun karena konflik, dia tidak menemukan teman, dan tidak mengetahui ke mana mereka pergi. “Saya tidak menginginkan anak saya nanti mengalami dan merasakan hal serupa.”

Setelah konflik, Irfan banyak berteman dengan orang-orang beragama Kristen. Ibunya khawatir. “Bagaimana kalau nanti kamu di sana terjebak dan tidak bisa pulang,” cerita Irfan meniru perkataan ibunya. Ketakutan itu masih bermukim. Hidup bersama memori kolektif: banyak orang yang terbakar ketika konflik berlangsung karena mereka terjebak.

Satu hal yang tidak pernah dilakukan di Indonesia pasca konflik adalah pemetaan korban. Menurut Irfan, itu perlu dilakukan. Karena trauma yang dialami setiap korban berbeda-beda.

Pelaku pembakaran sejumlah fasilitas umum di desanya tidak pernah diketahui. Termasuk rumah sakit, cerita Erni. Karena itu, penduduk desa tetangga, yang terluka dan memerlukan pengobatan, harus menempuh perjalanan lebih lama ke kabupaten menggunakan perahu.

Erni menemukan bahwa sebelum konflik ruang bertemu warga dua desa itu hilang. Pasar lintas desa dan pentas seni antar desa tidak ada lagi. Sebagai resolusi, Erni dan teman-temannya menemui pemerintah desa. Mereka mengusulkan pasar lintas desa dan pentas seni antar desa diselenggarakan lagi. Karena ruang seperti itu bisa mempertemukan warga dan mereka bisa saling bertukar cerita. Sehingga, potensi konflik besar bisa dikurangi.

Ketika kerusuhan 2011 di Ambon, yang berada paling depan kerumunan melempar batu adalah anak-anak. Mereka beralasan ingin juga merasakan bagaimana konflik dulu. Ketika hendak membuat film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, banyak orang mengatakan kalau itu bisa mengorek luka lama.

Film itu harus tetap diproduksi, menurut Irfan. Sebab peristiwa konflik Ambon harus dibicarakan dengan formula yang tepat. Film Beta Maluku hendak menyampaikan kepada warga Ambon khususnya, kalau mereka adalah orang-orang yang mampu bertahan sejauh ini menghadapi konflik dan perbedaan.

Melalui film yang akan dia produksi, Anca ingin menunjukkan bagaimana anak-anak menyaksikan konflik. Gagasannya, dua anak kecil menyaksikan peristiwa pengganyangan China. “Kita pernah ada di situasi itu.” Film, pasar, pentas seni adalah ruang budaya di antara beragam bentuk lainnya. “Ruang budaya,” kata Erni “(adalah) resolusi (bagi konflik).”

Setiap orang, tutur Irfan, harus bertemu dan membicarakan konflik itu dengan terbuka. Hal pertama, kita harus mengakui perbedaan itu ada. Irfan mengilustrasikan,  “Saya memaafkanmu. Kau memaafkan saya. Sini kita cerita.” #MIWF2017 (Accang/Imhe-Tim Media MIWF)



May 20, 2017 0

Tema kegiatan: Ruang Bersama: Living in Diversity

Ni Nyoman Anna Marthanti bersama keluarganya setiap tahun merayakan hari besar tiga agama, Hindu, Kristen, dan Islam. Begitu bunyi kutipan di bawah potret keluarga itu. Bersama tujuh potret keluarga kawin campur lainnya, foto keluarga Ni Nyoman dipamerkan di Museum I Lagaligo, Fort Rotterdam, Makassar. Foto-foto itu merupakan bagian dari program Ruang Bersama yang diselenggarakan dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2017.

Ruang Bersama Rabu siang itu (17 Mei 2017) mengajak warga mendiskusikan keberagaman. Semua orang yang hadir duduk melingkar di lantai beralaskan karpet, mengikuti tradisi tudang sipulung orang Bugis. Diskusi berlangsung dari pukul 14.00 sampai 15.30 Wita.

Keberadaan masyarakat Tionghoa di Sulawesi Selatan telah berusia lebih dari 400 tahun, begitu Yerry Wirawan mengawali diskusi sebagai pembicara pertama di antara tiga lainnya. Yerry Wirawan menceritakan hasil penelitiannya. Hasil penelitian itu pada 2013 diterbitkan dalam bentuk buku Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar: Dari Abad ke-17 Hingga ke-20. Dosen Universitas Sanata Dharma itu mengungkapkan, keberagaman masyarakat Tionghoa Makassar secara umum terdiri dari tiga bentuk: agama, suku, dan bahasa.

Kedatangan orang Tionghoa pada abad ke-17 untuk berdagang. Mereka yang datang adalah laki-laki. Para pedagang inilah yang menikah dengan perempuan Bugis, Makassar, dan orang-orang dari suku bangsa lainnya yang lebih dulu menetap di Kota Makassar. Perkawinan campuran itu menghasilkan keturunan yang berikutnya disebut peranakan.

Yerry mengaku sebagai Tionghoa-Makassar. Neneknya berasal dari Malili, salah satu daerah di Kabupaten Luwu Timur, sekitar 600 meter di sebelah utara Kota Makassar dan beragama Islam. Kakeknya merupakan orang Tionghoa. Yerry menceritakan, pada bulan puasa kakeknya melarang makan siang di dalam rumah. Untuk menghargai neneknya, kata kakek Yerry. Kalau mau makan dilakukan di luar rumah. Begitu juga ketika ingin makan babi, atau apapun yang diharamkan dalam agama Islam.

Tradisi muslim dalam masyarakat Tionghoa Makassar telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda. Orang yang lahir dari perkawinan campuran antara Tionghoa dan suku bangsa lainnya menjadi muslim, umumnya karena mengikuti garis ibu. Masa Orde Baru, keturunan Tionghoa menjadi muslim karena ada tekanan dari penguasa.

Pihak pemerintah kolonial Belanda juga merupakan pihak pertama yang mengkotak-kotakkan berbagai suku bangsa di Kota Makassar. Pada masa itu, orang-orang Belanda sulit membedakan mana orang Makassar, Bugis, Melayu, Tionghoa, dan lainnya. Pemerintah kolonial mengatur pemberian nama dan cara berpakaian agar lebih mudah mengontrol penduduk jajahan. “Seharusnya, setelah kemerdekaan kita sudah bisa melampaui hal itu (soal mengkotak-kotakkan).”

“Banyak yang menganggap orang Tionghoa itu semua sama. Padahal di antara orang-orang Tionghoa juga ada keberagaman,” kata Yerry. Ada Tionghoa Guangzhou, Hokkian, dan Kanton.

Tradisi muslim dalam masyarakat Tionghoa Makassar juga diceritakan oleh Sofyan Syamsul. Fotografer itu menjadi pembicara kedua. Foto-foto yang dipamerkan dalam kegiatan ini merupakan karyanya. Fotografer yang juga akrab dipanggil Pepeng ini menceritakan temuannya.

“Banyak keturunan Tionghoa lahir sebagai muslim. Namun di dalam keluarga mereka, perayaan setiap agama yang dianut oleh setiap anggota keluarga dirayakan bersama-sama. Mereka merayakan lebaran, imlek, dan natal. Untuk urusan makanan, mereka membedakan pancinya; yang mana bisa dikonsumsi untuk muslim, yang mana bukan.”

Banyak orang Cina yang kawin campur tidak tinggal di kawasan pecinan, cerita Pepeng. Mereka tinggal di daerah yang mayoritas muslim. Alasan mereka pindah karena biasanya banyak anggota keluarga yang tidak suka. Bahkan mengatakan “Sama pribumi lagi?”.

Dalam hal bahasa, masyarakat Tionghoa Makassar lebih mengenal bahasa Makassar. Mereka juga menulis dengan menggunakan aksara lontara.

Yerry juga menceritakan bagaimana istilah Cina dan Tionghoa. Istilah Tionghoa berawal dari abad ke-19 hingga abad ke-20. Masa itu merupakan kebangkitan nasionalisme Tiongkok yang membawa semangat modernisasi. ‘Tiongkok’ merujuk kepada kata ‘Zhonghua’ yang diterjemahkan sebagai “ras tionghoa” atau “keturunan tiongkok” tanpa memperhatikan kumpulan etnis.

Pada 1967, pemerintah Orde Baru mengeluarkan setidaknya 8 aturan mengenai keberadaan orang Cina—begitu sebutan oleh rezim ketika itu. Menurut Yerry, hal itu penting dibicarakan. “Barangkali kita butuh konvensi bersama, sekaligus merefleksikannya.”

Lebih dari satu dekade berikutnya, anak-anak Timor Leste dicabut dari kampung halamannya. Eko Rusdianto menceritakan hasil penelitiannya perihal anak-anak Timor Leste di Sulawesi yang diculik oleh tentara pasca operasi integrasi pada akhir 1970-an.

Eko Rusdianto yang merupakan jurnalis dan peneliti menjadi pembicara ketiga. Ketertarikan Eko terhadap persoalan anak-anak Timor Leste yang diculik oleh tentara itu berawal setelah membaca cerita pendek Seno Gumira Ajidarma. Berikutnya, dia berjumpa satu buku yang membahas sejarah Timor Lorosae.

Setelah perjumpaan dengan buku sejarah, dia bertemu orang-orang Timor Leste di Sulawesi Selatan yang merupakan bekas TBO (Tenaga Bantuan Operasi). Mereka adalah orang-orang yang diculik oleh tentara saat berusia 9-14 tahun. “Mereka ada di sekitar kita,” kata Eko. “Ada 34 orang. Sekarang usia mereka berkisar 45 sampai akhir 50an.”

Eko semakin tertarik menuliskan kisah mereka setelah, empat tahun lalu, menuliskan sejarah keluarganya. Kakek dari ibunya merupakan orang Betawi. “Perasaan ibu saya hancur, tidak tahu keluarga bapaknya. Bagaimana anak 9 tahun, 14 tahun, dibawa paksa ke Indonesia dan mereka terlepas dari kampungnya? Mereka Katolik, dicuri oleh tentara yang muslim, dan tiba-tiba menjadi muslim?”

Delina, Miguel, dan Moukunda adalah tiga kisah yang diceritakan Eko. Miguel, dalam bahasa Indonesia bernama Untung. Tiba di Sulawesi Selatan, bersekolah, lihat orang disunat. Menginjak usia 14 dia minta disunat. Moukunda, nama Indonesia-nya menjadi Arif. Delina, di Timor Leste namanya Tauka. Nama tauka itu sebenarnya persiapan untuk nama baptisnya. Setelah diculik, tidak jadi dibaptis. Kemudian bersekolah di Takalar, dan ketika kelas 4 SD dia bercerita dengan teman-temannya kalau belum disunat. Akhirnya dia disunat dan masuk muslim. “Dia masuk muslim secara auto-muslim,” kata Eko.

Moukunda dan Delina diculik oleh satu tentara yang sama bernama Andi Muhammad Yamin. Mereka dibawa ke Kendari. Lalu ke Kolaka. Dari sana ke Enrekang, dan ke Sulawesi Barat. Ketika diculik, Delina berusia 9 tahun dan Arif 12 tahun.

“Kapan pun Pak Amin bangun, belum ada kopi, nasi, maka kepala Delina dibenturkan ke tembok.”  Beberapa bekas jahitan di kepalanya masih kelihatan. Sekarang Delina menikahi tentara. “Saya menanyai dia,”lanjut Eko, “’bagaimana kau bisa berhubungan dengan tentara? Bagaimana kau bisa tidur seranjang dengan orang yang mengambil paksa kau dari kampungmu?’ Delina tidak bisa menjawab. Dia menangis.”

Ketika tentara menyerang kampungnya, Delina duduk di kelas 2 SD. Yamin melihat Delina di sekolah. Yamin ingin membawanya ke Sulawesi jika operasi di Timor Leste selesai dan batalion dibawa pulang ke Indonesia. Namun, keluarga Delina tidak mau. Tentara itu mengancam, “Jika Delina tidak ikut saya, satu kampung ini akan saya bakar.” Bapak Delina menyerah. Moukunda juga begitu. Yamin mengatakan kalau keluarga Moukunda telah mati semua. Semua Fretilin sudah mati. Ayah Moukunda anggota Fretilin.

Miguel atau Untung, beruntung masih bisa berbahasa Tetun. Moukunda dan Delina sudah tidak tahu berbahasa Tetum.

Ada juga yang diculik oleh tentara baik hati. Mereka diberi warisan. Satu orang Timor Leste di Palopo mengelola satu yayasan pesantren. Seorang di Toraja yang tidak pernah bersekolah dan buta huruf, menjadi penggembala kerbau.

“Saya tidak bisa membayangkan orang-orang seperti ini dicabut dari akarnya dengan alasan bahwa Timor Portugis harus dihancurkan karena membawa komunis,” kenang Eko. “Fretilin berhaluan komunis. Padahal nama Timor Timur itu pemberian Indonesia, yang sebelumnya disebut Timor Leste atau Timor Portugis. Sebaiknya orang-orang ini dipulangkan.

“Saya tanya ke Delina, ‘kalau ibumu masih hidup, mau kau ketemu?’ Delina jawab, ‘saya belum tentu kenal dia. Belum tentu juga dia mengenali saya.’

“Susah membahasakan kelakuan bangsa kita terhadap Timor Timur. Melihat Soeharto membawa beberapa puluh anak-anak Timor Leste ke Jakarta, foto bersama di depan istana, dan caption yang bertuliskan bahwa kita harus menyelamatkan anak Timor Timur. Setelah itu mereka dimasukkan ke pesantren.”

Di Kota Makassar juga ada Yayasan Basalamah. Yayasan Basalamah mengangkut dengan kapal besar, sebanyak tiga kali anak-anak dari Timor Timur. Mereka semua dimasukkan ke pesantren. Katolik maupun Protestan, semua masuk pesantren. Pesantren itu sekarang berada di belakang gudang Coca-Cola.

“Kamu lahir ketika pengganyangan Cina. Adikmu lahir ketika penggayangan gereja sekitar 1967,” Maman Suherman mengawali ceritanya. Itu merupakan kata-kata ibunya yang kelahiran Kabupaten Gowa. Ayahnya Sunda. Novelis itu lahir diiringi suara tembakan. Ayahnya ketika itu juga adalah seorang tentara. Pindah ke Sumedang, gurunya mengganti nama M. Suherman menjadi Maman Suherman, yang sebenarnya Muhammad Suherman.

Ketika dipindahtugaskan ke Kabupaten Bone, ayahnya mengangkat seorang anak dari pesantren. Kemudian Maman pindah ke sana juga. Di sana dia hampir diperkosa oleh anak angkat ayahnya itu. Dia jadi trauma dan menganggap semua homoseksual adalah pemerkosa.

“Ada penyelesaian dari pihak pesantren. Karena anak pesantren, itu harus diselesaikan dengan cara tradisional: Pesantren. Pihak luar pesantren tidak boleh mengetahui kalau ada kegiatan seperti itu. Dan tidak boleh diungkap. Persoalan seperti itu tidak akan pernah selesai jika tidak pernah diungkapkan.”

Bertemu dengan Re, Maman berhubungan dengan sindikat perdagangan manusia, Salah satunya di Kota Makassar. “Semua pelacur di Kota Makassar, pada 1980-an, sama bentuk hidungnya. Karena operasi di tempat yang sama supaya laku.”

Jalur perdagangannya bagaikan jalur lingkaran setan: Jakarta-Bandung-Semarang-Surabaya-Bali-Makassar-Medan-Padang. Begitu seterusnya. Jadi, yang di Bali dan Kota Makassar itu sudah pindah enam kali. Kecuali jika mereka meninggal atau ketahuan mengidap penyakit kelamin.

Lebih lanjut, menurut Maman kaum minoritas itu diberi dua tingkatan penyimpangan: lesbian dan pelacur. Mereka mengalami pemerasan. Pada ‘88-‘89 mereka, saat melakukan hubungan, difoto secara diam-diam. Mereka diancam akan dilaporkan ke orang tuanya atau pihak sekolah, jika masih usia sekolah. Apabila mereka nekat, akan dibunuh. Ketika pembunuhan terhadap mereka dilaporkan dan diketahui kalau mereka adalah lesbian, maka tidak akan ada yang mau peduli, sekalipun itu mereka adalah yang berasal dari jajaran kepolisian ataupun awak media. Orang-orang ini dibiarkan begitu saja.

Ketika marak kasus petrus (penembakan misterius) kaum lesbian ini dimanfaatkan untuk memenangkan salah satu partai politik. “Dulu, pelacur-pelacur di Jakarta, para pendatang itu diberikan KTP dua macam yang berbeda warna: Kuning dan putih. Itu adalah kartu identitas sementara dan hanya dikeluarkan saat Pemilu.”

“Setelah pemilu, KTP itu dicabut. Mereka kemudian dihilangkan, sehingga nama mereka tidak ada dalam data statistik.”

Hilangnya kaum lesbian tidak mengubah statistik. Hilangnya mereka bukan satu masalah bagi negara. Sekarang, kondisi itu hampir tidak berubah. Mereka diancam akan disebar sebagai pelaku penyimpangan, lesbian dan pelacur, atau dibunuh.

“Ternyata bicara toleransi adalah soal keberpihakan,” kata Maman. “Keberpihakan terhadap siapa yang berkuasa memberi cap, suku mana. Bukan semata-mata jumlah. Itu yang menakutkan bagi saya dan teman-teman dalam komunitas yang minoritas. Jika saya melapor ke organisasi agama, mereka akan mengatakan kalau kaum minoritas itu adalah sampah dan halal darahnya dibunuh.

“Anak-anak yang saya tangani biasanya dijual pada jam-jam macet di Jakarta, sekitar pukul 4 sore sampai 6 petang. Itu adalah happy hour bisnis perdagangan manusia. Satu harga untuk dapat dua perempuan. Dan bisa mendapatkan pelayanan seksual, dari yang sejenis dan berlawanan jenis.

“Saya bertanya-tanya, jika kasus kematian mereka—yang dibunuh—dilaporkan, apakah mereka punya kekuatan untuk berbicara dan mengungkapkannya? Posisi kaum minoritas tidak akan pernah tersentuh jika terus memperoleh ancaman.”

Lily Yulianti Farid, seorang penulis, membagi keresahannya. Lily seolah menemukan dirinya terjebak di dalam self censorship: menahan diri untuk berbicara seperti masa orde baru. Dia mengamati hal itu tidak dia rasakan setahun yang lalu. Menurutnya, sekarang orang-orang menjadi sulit untuk membicarakan perihal perbedaan dengan rileks, baik itu perihal suku, agama, hingga sosial ekonomi. Teman-temannya jadi cepat marah kalau menyoal agama misalnya. Teman-temannya juga sering menjejali dia berbagai informasi soal religius. “Apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia sekarang?”

Olin Monteiro (seorang aktivis feminis, penulis, dan produser film), yang menjadi moderator diskusi mengatakan, sejak isu Ahok isu perbedaan agama dan suku terangkat.

Maman menanggapi keresahan Lily, “Ketika membiarkan orang melempar kaca jendela atau mencoret-coret rumah kita dan tidak ada yang menganggap itu sebagai kesalahan, hal itu akan terus berkembang hingga akhirnya manjadi hal yang biasa. Ketika HTI, FPI kita anggap biasa, kita akan mengalami hal seperti sekarang. Menjadi ribut ketika hal itu dibanding-bandingkan.”

“Saya kaget ketika HTI dibandingkan dengan Minahasa misalnya,” lanjut Maman. “Hal lokal disamakan dengan isu nasional. Yang ingin berotonomi, disamakan dengan yang ingin mengubah ideologi.

“Lebih menakutkan di media sosial. Toleransi dicari yang mendukung kepentingan dia. Ketika isu Minahasa ingin merdeka, orang-orang yang menahan diri selama HTI dibubarkan, menemukan kesempatan mengungkapkan pengertiannya mengenai toleransi. ‘Hajar juga dong Minahasa, OPM.’ Padahal mereka menyasar skala yang sangat berbeda.

“Saya menakutkan pembiaran-pembiaran. Kita tidak punya lagi kesempatan duduk seperti ini.”

Maman mengungkapkan satu penemuan. Ada biro jasa di Jakarta yang namanya jasa maki. “Makin tajam makiannya, makin banyak bayarannya. Dan itu dibiarkan! Bagi mereka, konflik adalah bisnis.”

Menurut Eko, sentimen agama sulit untuk dijelaskan. “Di Kota Makassar, kalau ada supir pete’-pete’  yang ugal-ugalan dengan ciri-ciri fisik berkulit hitam, berambut keriting, dan dari timur, maka hal itu kemudian akan dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Orang-orang dari timur—Papua, Flores, Kupang—di Kota Makassar diberi stigma yang sangat kuat: mereka kasar dan senang menenggak minuman keras. Jangankan stigma agama, warna kulit pun sangat bermasalah.”

Dalam menanggapi isu intoleransi dan diskriminasi rasial, Yerry mengemukakan kita sebenarnya mengasah kepekaan. Dia berujar, “Beberapa bulan lalu di Yogyakarta, orang Papua mengalami diskriminasi rasial. Di sana mereka kesulitan memperoleh kamar kost. Masih ada harapan jika kita memiliki kepekaan. Ruang-ruang bersama yang membicarakan isu toleransi harus diperbanyak, untuk menjaga kepekaan.”

Yerry Wirawan ketika mengakhiri ceritanya di sesi pertama diskusi mengatakan, “Setiap orang lahir berbeda. Bersama adalah kata kerja. Dengan bekerja kita bisa bersama. Jika kita tidak mengupayakannya, kita akan selalu berbeda, yang berarti kita tidak akan pernah bisa bersatu.” #MIWF2017 (Accang/Imhe-Tim Media MIWF)



May 19, 2017 0

Khrisna Pabichara kembali merilis buku terbarunya yang berjudul Cinta yang Diacuhkan. Ini adalah buku ketiga dari beliau, setelah novel “sepatu dahlan” dan “surat dahlan. perilisan buku ini menjadi salah satu agenda dalam kegiatan Makassar International Writer Festival 2017 yang digelar di Fort Rotterdam Makassar.

Kegiatan ini dibuka dengan sebuah ritual ma’baca-baca yang merupakan sebuah pertunjukan musikalisasi puisi dari Khrisna Pabichara dan teman-teman SMKI Makassar. Pembacaan puisi dibaca beliau sangat emosional dan berapi-api.
“Yang berbeda dari buku ini adalah bisa menjadi teman untuk belajar. Teman-teman bisa belajar dari buku ini karena ini disusun sesuai abjad,” kata Khrisna Pabichara memulai perilisan buku ini. “jadi secara tidak sengaja, saya mengajak teman-teman untuk belajar menulis dengan benar,” sambungnya.

Pria kelahiran Borongtammatea, Kabupaten Jeneponto, ini memberikan sedikit informasi tentang isi bukunya. “Di buku ini tidak ada dialog. kita terlalu sering bicara dengan orang lain. kita lupa bicara pada hati kita sendiri,” jelasnya.
“buku ini adalah percikan pengalaman batin saya dan teman saya. disini banyak curhatan teman saya dan juga buku ini saya mempersembahkan ilmu saya kepada wanita yang saya sayangi.”

Dalam sesi perilisan buku ini, salah satu pengunjung bertanya mengenai sosok perempuan dalam cover buku ini serta alasan memilihnya. “kaitannya ada dengan isinya, karena tokoh dalam buku ini adalah perempuan. Di luar dari itu, ada strategi pasar. Pembeli buku di indonesia yang terbanyak adalah perempuan” jelasnya. Sesi Tanya jawab berlangsung lebih lanjut dengan sebuah pertanyaan yang kembali dilontarkan oleh salah satu pengunjung lainnya tentang kata-kata arkais yang selalu muncul dalam buku-buku sebelumnya. “Kata-kata arkais di buku ini masih banyak. di antaranya ada dedau. dedau adalah gerutuan yang lebih daripada menggerutu,” katanya.

Dia melanjutkan, “pernah dengar kata “kualia”? kualia itu cinta yang terpendam, misalnya kita melihat atap dari orang yang kita cintai, kita sudah merasa bahagia. Itulah kualia.”
Khrisna Pabichara juga menuturkan tentang pesan yang ingin disampaikan oleh beliau, “ketika kita mencintai seseorang, sampaikanlah. Inti buku ini adalah tentang ketulusan mencintai”.
Sesi perilisan buku ini ditutup oleh sebuah musikalisasi puisi yang dibacakan oleh Khrisna Pabichara dan diiringi oleh teman-teman SMKI Makassar.



May 19, 2017 0

Para millenials mudah berpindah-pindah ketertarikan bahkan pekerjaan.

Cap negatif yang diberikan ke anak-anak muda adalah salah, ungkap Yoris Sebastian dalam Program “Instant vs Fast”. Program yang mengisi agenda hari ketiga Makassar International Writers Festival 2017 ini khusus membahas mengenai generasi millenials.

Instant vs Fast mengambil tempat di Veranda 3 Fort Rotterdam sore ini. Dimoderatori oleh Irfan Ramli, program ini berusaha mengubah stigma bahwa semua millenials merupakan generasi instan. Menurut Yoris, beberapa millenials berproses untuk bisa sukses, bukan dengan cara instan. Pria yang juga pernah menjadi General Manager Hardrock Cafe ini menambahkan, yang mampu bertahan dari proses seleksi alam adalah mereka yang berproses, belajar cepat sekaligus memperkaya diri.

Keuntungan generasi millenials dibandingkan generasi sebelumnya adalah kemampuannya mem-branding diri sendiri. Dalam hal ini Yoris memberikan catatan bahwa branding diri harus sesuai dengan diri sendiri.

Para millenials punya karateristik khas, kemampuannya belajar cepat dan mempelajari banyak hal. Yang timbul kemudian adalah para millenials ini mudah berpindah-pindah ketertarikan bahkan pekerjaan. Hal ini banyak dikeluhkan oleh perusahaan-perusahaan yang mencari pekerja loyal. Dirgarahayu Ouina mempertanyakan apakah hal tersebut adalah bagian dari multi potentiality atau inkonsistensi? Dengan santai, Yoris menerangkan bahwa perpindahan ketertarikan maupun pekerjaan harus memiliki satu benang merah sehingga hasilnya muncul spesialisasi yang jelas.

Di sesi ini penulis buku yang juga enterprenuer ini membagikan tips yang diadopsi dari kata Ikagi dalam Bahasa Jepang. Tips ini berisi hal-hal yang perlu dipertimbangakan untuk menemukan passion sekaligus memberikan keuntungan bagi lingkungan sekitar. Pertama, jangan hanya lihat kekurangan tapi juga melihat kekuatan dalam diri. Yang kedua, cari passion-mu. Yang ketiga, membuat sesuatu yang dunia butuhkan. Yang terakhir adalah hasil yang didapatkan harus sesuai dengan yang diharapkan. “Life is about creating yourself, not finding yourself,”  imbuh Yoris diakhir sesi.

Program ini diharapkan dapat membantu para millenials untuk mengejar kecintaannya tanpa terhalangi, dalam program tersebut, Yoris juga memperkenalkan buku terbarunya yang berjudul  “Generasi Langgas”. Buku yang ditulis bersama Dilla Amran dan Yout Lab ini bercerita mengenai generasi millenials, mereka yang lahir tahun 1988 hingga 2000. #MIWF2017 (Ainun/Imhe-Tim Media MIWF)



May 19, 2017 0

Panel diskusi Sharing Our Life: What is the Limit? yang diisi Adhitya Mulya, BondanWinarno,Valiant Budi, dan Hasanuddin Abdurakhman berlangsung hangat di Museum La Galigo yang telah disulap menjadi ruang bersama selama perhelatan Makassar International Writers Festival berlangsung.

Dipandu oleh director  MIWF, Lily Yulianti, para panelis yang hadir bergantian menceritakan perihal kebiasaan-kebiasaannya masing-masing dalam memakai sosial media.  Hasan misalnya yang beranggapan bahwa interaksi dengan pembaca atau penggemar lewat sosial media itu sangat kuat.

“Saya sering meng-upload foto-foto dan video-video saya bersama anak dan keluarga saya untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa this is how I treat my children untuk menginspirasi” tutur  Hasan.

Namun ternyata tidak demikian dengan Adhitya Mulya, meskipun mengakui bahwa dampak sosial media dalam strategi marketing memang sangat berpengaruh dalam menjamin penjualan namun Adhitya merupakan salah satu penulis yang tidak terlalu banyak membagikan kehidupan pribadinya ke sosial media.

Diskusi yang dimulai pada pukul 15.30 wita berjalan lancar dan  dipenuhi oleh tawa dari peserta maupun panelis. Lily Yulianti sebagai moderator diskusi mampu mencairkan suasana dengan candaan-candaan yang dilemparkan kadang ke Bondan Winarno maupun ke Hasan. Bondan pun sesekali menanggapi candaan yang dilontarkan oleh Lily sehingga membuat suasana sore hari itu semakin semarak dan ramai.

Pada akhirnya penggunaan sosial media memang disikapi berbeda-beda oleh masing-masing orang, setiap pengguna sosial media tahu sampai dimana batasan mereka dalam menggunakan sosial media. Setiap dari kita memang perlu berhati-hati dalam bersosial media karena kita tidak akan pernah tahu resiko apa yang akan didapatkan jika bermain sosial media secara berlebihan.

Sesi diskusi ditutup oleh Lily dengan ajakan kepada peserta diskusi menuju ke peresmian perahu pustaka di depan Benteng Rotterdam, diskusi berakhir tepat pada pukul17.00 wita. #MIWF2017 (Fira/Kems-Tim Media MIWF)



May 18, 2017 0

Menulislah, inspirasi akan datang saat Anda menulis.

Makassar International Writers Festival hadir di Universitas Islam Negeri Makassar Alauddin, membawa Madelaine Dickie. Penulis asal Australia  ini berbagi berbagi pengalaman dan tips penulisan dalam Workshop Writing yang berlangsung di ruang LT, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Kamis, 18 Mei 2017. Sekitar 50-an mahasiswa juga dosennya meramaikan

Madelainei berbagi pengalaman selama menuliskan novel berjudul Troppo. “Sebagian besar ini adalah pengalaman sendiri,” ungkap Mad—sapaan akrab Madelaine. Menurutnya, sangat penting memulai menulis dari hal yang Anda ketahui.  Seperti yang dilakukan Mad, saat menuliskan Troppo.

Troppo berkisah tentang seorang peselancar di Bali, tentang penghargaan sebagian orang bule, yang tidak menghargai budaya setempat. Apalagi, belum ada yang menulis tentang hal serupa itu, terutama tentang perlakuan bule asal Australia. Meski dirinya berasal dari Australia, namun dia mengaku menulis dengan cara yang  jujur.

“Saya harus tinggal di Sumatera Selatan selama empat tahun untuk melakukan observasi,” ungkap Mad. Saya tidak tahu surfing,  karena saya akan menuliskan tentang itu, maka saya harus belajar.  “Kaki saya bahkan harus berdarah.”

Meskipun fiksi, tetapi ada fakta maka penulisannya harus disesuaikan. “Jika ingin menjadi penulis, kamu harus menulis, jangan menunggu inspirasi. Inspirasi tidak datang setiap saat, jadi menulis saja, ia akan datang saat menulis,” jelas Mad.
Mad juga berbagi tips tentang membuat cerita yang akan dibaca yakni setting, dialog, konflik, dan bahasa yang indah.  Setelah memberikan suntikan kiat- kiat penulis, Mad memberikan pelatihan kepada mahasiswa dengan menantang mereka membuat setting yang menarik. Serta membuat dialog yang bersambut, sehingga dua pemenang diberikan novel karangannya itu.

Kertas yang sudah disiapkan Mad kemudian dibagikan kepada peserta. Dua puluh menit berlangsung dengan pena para peserta menari- nari di atas kertas, beberapa di antaranya juga harus berpikir untuk menghadirkan kalimat- kalimat indah, agar bisa meraih buku yang dijanjikan Mad. Meski sebenarnya dia mengakui 10 orang peserta yang maju membacakan hasil karyanya, telah menghadirkan dengan baik, namun ia harus memutuskan yang terbaik.

Salman, mahasiswa yang begitu antusias mengikuti workshop ini menanyakan alasan Mad mengambil cerita tentang orang Australia. Namun, Mad mengungkapkan bahwa  dalam menulis itu butuh kejujuran. #MIW2017 (Amy/Imhe-Tim Media MIWF)



May 18, 2017 0

“Sebuah karya seni yang baik akan selalu menghasilkan interpretasi yang baru,” -Sapardi Djoko Damono.

Kamis sore, 18 Mei 2017, puluhan peserta MIWF mulai memadati Grazioso Music Hall di Jalan Onta Lama meskipun hujan melanda langit Makassar sore itu. Sebanyak 32 peserta datang untuk mengikuti sharing session yang bertema “Singing Your Poetry!”. Acara ini menghadirkan Ananda Sukarlan, Sapardi Djoko Damono, dan Poemuse sebagai pembicara. Selain itu, hadir pula Khrisna Pabichara sebagai moderator.

Ananda Sukarlan yang merupakan seorang pianis ternama membagi pengalamannya dalam menggubah puisi-puisi dari penyair terkenal menjadi sebuah karya musik. Menurut Ananda, menciptakan karya musik yang diadaptasi dari puisi memiliki tantangan tersendiri, dirinya harus menjiwai terlebih dahulu puisi tersebut dan terkadang harus mengubah beberapa kata dalam puisi sehingga dapat menjadi indah saat dijadikan sebuah lagu.

Sapardi Djoko Damono, penyair yang beberapa karyanya telah digubah oleh Ananda Sukarlan menjadi karya musik. Saat ditanyai mengenai kepuasannya pada karya Ananda yang diadaptasi dari puisinya, Sapardi mengungkapkan bahwa kita tidak semestinya membandingkan dua karya seni yang berbeda, puisi dan musik tidak layak dibandingkan sama halnya dengan novel dan film, masing-masing karya seni memiliki keindahannya masing-masing.

Selain itu, Sapardi mengungkapkan keresahannya di mana terdapat larangan menghasilkan karya sastra yang mengandung SARA. Menurut Sapardi, inti dari sastra adalah SARA, tugas sastrawan adalah menyampaikan karyanya dengan cara yang tidak menyakiti hati pihak manapun.

Poemuse, kelompok seni pertunjukan asal Bandung hadir membagikan pengalamannya dalam mementaskan karya puisi yang dialihwahanakan ke musik. “Sekuat-kuatnya kata-kata, secantik-cantiknya kata-kata, ada perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, maka lahirlah musik dan tarian,” ungkap Kennya Rinonce, sutradara Poemuse.

Poemuse sendiri akan hadir pada malam ketiga di panggung Makassar International Writers Festival 2017 di Fort Rotterdam untuk menghibur para pengunjung. Jadi, sampai jumpa di Fort Rotterdam! (Arkil Akis/ Tim Media MIWF2017)



May 18, 2017 0

Setelah tujuh tahun perayaan Makassar International Writers Festival, Esti Kinasih baru mengalaminya di edisi tahun ini. Novelis muda tersebut mengaku cukup antusias di keikutsertaannya dalam MIWF 2017 ini.

Menurut Esti yang ditemui setelah sesi “In conversation with Esti Kinasih” Makassar International Writers Festival adalah salah satu festival yang bagus dan banyak memberikan manfaat karena lokasi kegiatan yang juga terpusat di fort Rotterdam.

Perempuan yang beralih profesi dari karyawati di sebuah bank lalu menjadi penulis ini juga mengapresiasi pemilihan lokasi MIWF.

“Ini kali pertama saya ke MIWF, sih. Dan kalau tahun depan ada lagi dan saya diundang lagi saya akan dengan senang hati hadir, karena menurut saya acara-acara kayak gini kan langka apalagi tempatnya terpusat di museum yang notabene orang udah mulai tinggalkan, jadi menurut saya sangat bagus,” ungkap Esti.

Sesi “In conversation with Esti Kinasih” merupakan sesi pertama Esti di Makassar International Writers Festival, sesi ini berlangsung Kamis, 18 Mei 2017, di gedung verandah 3 Fort Rotterdam. Sesi bersama Esti dipenuhi oleh pembaca-pembaca setia Esti yang antusias bertanya banyak hal, mulai dari tentang novel-novel Esti yang kebanyakan ber-genre teenlit hingga kegiatan-kegiatan esti selain menulis novel. Banyak yang tidak tahu Esti merupakan seorang rescuer kucing-kucing terlantar.

Sesi bersama Esti juga membocorkan tentang salah satu novel Esti yang akan diangkat ke layar lebar. Sukses terus buat Esti Kinasih, dan selamat menikmati perhelatan Makassar International Writers Festival (Arkil Akis/ Tim Media MIWF2017)



May 18, 2017 0

A Cup of Poetry-1

“Saya sudah tidak menjadi penyair lagi, tetapi saya sudah berubah menjadi pendekar, yaitu pendekar suling bambu”, jadi awal perkenalan dari Khrisna Pabhicara di A Cup of Poetry pertama MIWF 2017. Diiringi gelak tawa dari puluhan pengunjung pada Rabu sore.  Sisa-sisa tetesan hujan di sekitar tidak menghalangi kemeriahan  program  pembacaan puisi  yang  dibarengi dengan secangkir  kopi.

Tapi bukan Khrisna saja pembuat puisi yang meramaikan program ini.  Ada Alfian Dippahatang, seorang penulis muda asal Makassar yang juga ikut meramaikan sore ini dengan puisi-puisi bertemakan kulinernya .

A Cup of Poetry juga mengundang pengunjung  yang ingin ikut membacakan puisi. Khrisna bilang, “Kawan-kawan, yang ingin minum kopi, baca puisi dulu”.  Acara yang berlangsung sekitar 60 menit ini ditutup oleh Khrisna dengan  syair “Tanpa Cinta  yang Murni  Kalian Tidak  Akan Menikmati Indahnya Hidup”.

Namun serasa sangat singkat bagi pengunjung yang hadir. “Ededeee… sebentar sekali ji,  coba lama-lama,” kata  Jessica, salah satu pengunjung  yang juga merupakan mahasiswa  yang juga berkuliah di Makassar. Bagi Anda yang belum sempat datang di hari pertama, tidak perlu khawatir. A Cup of Poetry di MIWF akan hadir setiap harinya hingga  20 Mei pada pukul 17.00 – 18.00.

“You better prepare your poet before you sip the taste of coffee”.  #MIWF2017 (Aksan/Kems/Imhe-Tim Media MIWF)



May 18, 2017 0

Who are we as Indonesians? How do we define or redefine our identity as Indonesians?

These questions have been going around in my mind over the past months for two reasons: firstly, because this year’s festival theme is Diversity and secondly, because the recent social and political escalations we have witnessed in Jakarta have tended to divide people who have different political aspirations and different perspectives on religion and culture.

The theme ‘diversity’ reminds me of what Colin Brown describes in his book A Short Story of Indonesia: The Unlikely Nation? : One of the problems of thinking and writing about Indonesia at the beginning of the twenty-first century is working out just what ‘Indonesia’ refers to.…  the struggle to give social meaning to theword Indonesia, to persuade the peoples of the archipelago to identify themselves collectively as Indonesians, proved to be a much more difficult…

Perhaps, many people who attend the festival this year will do so with mixed feelings, just like me. I have concerns about the state of our nation, but at the same time I don’t want to lose hope that for Indonesia, made up of peoples from different religions and cultures who believe that Bhinneka Tunggal Ika, diversity is an ultimate condition for our country and people.

 

With Diversity as the main theme, MIWF opens more room/space for meaningful conversations, intriguing insights and stimulating intellectual exchanges. We want to learn from past conflicts and the ongoing social and political escalations. We hope that through this exchange writers, readers and the general audience will maintain their hopes for a better and humanised Indonesia, a better and humanised World.

With more than 100 writers, performers and artists from many parts of the World, MIWF has strengthened its position as the most anticipated cultural, intellectual and literary event in this region. We are incredibly excited to introduce six emerging writers from Kupang, Mataram, Kendari, Ende, Kolaka and Makassar – a festival tradition since 2011 to select writers from Eastern Indonesia  and a source of great excitement every year – to share their writings and stories with a wider audience. We are also excited to share this year’s documentary film about the life of Bissu, the fifth gender of the Bugis, which will certainly enrich our knowledge about this minority group. This year we also launch “Dari Timur” an annual literary publication in partnership with Indonesia’s leading publisher Gramedia Pustaka Utama to showcase new writing from Eastern Indonesia, another milestone on our journey now in its seventh year.

Without a doubt, the impressive line-up and the exciting festival programs we present for you this year reflect the tremendous work of more than 150 volunteers and continuous support from our sponsors and donors. I would like to express my gratitude to our wonderful festival team and volunteers who have been working tirelessly in the last nine months to make this festival happen again.

Our city, our region, our nation are complex by nature but I never want to lose my hope that their complexities have opened avenues to explore our identities and to believe in diversity.

Welcome to the 7th edition of Makassar International Writers Festival.

Lily Yulianti Farid

Founder/Director of Makassar International Writers Festival