May 18, 2017 0

Nyanyian selalu menjadi cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu dalam otak orang-orang.

UPP————-Selamat Pagi Puisi Bersama Sapardi

Pagi menjadi lebih hangat bagi mereka yang mengagumi kata-kata, menyenangi sajak, dan mencintai puisi. Setelah memandangi tulisan-tulisan tangan Sapardi Djoko Damono yang dipajang di ruang dalam Rumata’ Art Space, Rabu 17 Mei 2017. Tulisan tangan Sapardi sejak 1958-1968 mengisi ruang pameran, Pameran Manoeskrip Sadjak ini menjadi sejarah dalam sastra Indonesia, ini pameran manuskrip pertama Sapardi.

Setelah berkeliling di ruang pameran bersama Sapardi, pengunjung yang datang lalu diarahkan berkumpul untuk duduk bersama, lalu memulai untuk berucap selamat pagi untuk puisi. “Selamat Pagi, Puisi!” adalah salah satu program Makassar International Writers Festival, yang memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mendengarkan langsung cerita-cerita Sapardi, perjalanannya menulis puisi.

Rindangnya pepohonan dengan  kicauan burung serta suara palu mengiringi perbincangan pagi itu. Di bawah teduh, Sapardi bercerita mengenai sulitnya, dahulu ia  mengakses buku atau media cetak bacaan lainnya. Saat ini, segala sesuatu terasa mudah untuk dijangkau, bahkan bisa dikata tak perlu mencari-cari buku terlalu sulit, hampir semua hal ada diinternet. “Sekarang semua sudah ada diinternet, tinggal dibaca saja, kan itu juga namanya membaca. Tapi sayang minat bacanya yang kurang”, kata Sapardi.

Tak hanya berbincang, juga ada penampilan duo Umar dan Nana yang menyanyikan sajak-sajak Sapardi, salah satu dari dua puisi yang dinyanyikan berjudul Sajak Kecil Tentang Cinta. Suara merdu dan petikan alunan gitar akustik membuat  kata-kata dalam sajak tersampaikan lebih  menarik dan menyejukkan.

“Puisi itu musikal,” kata Sapardi.  Duo Umar dan Nana membuat lagu dengan sajak-sajak itu, karena dimana pun dan kapanpun, menurut Sapardi, nyanyian selalu menjadi cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu dalam otak orang-orang. Karena itu pula, mengapa seorang penyair harus memiliki telinga, untuk mendengarkan, lalu dapat menciptakan sajak yang memiliki aspek suara, lebih indah untuk didengarkan pembacanya.

Kehangatan-kehangatan itu yang tersampaikan pada diri beberapa dan mungkin setiap orang yang menikmati pagi ini bersama Sapardi Djoko Damono. Mengenal puisi lebih dekat, tak sekedar kata-kata yang diperindah untuk dibanggakan. Karena puisi bukanlah makna, melainkan cara menyampaikan makna itu sendiri, dengan tulisan ataupun nyanyian.

Sampai jumpa besok, diacara Selamat Pagi, Puisi! #MIWF2017 (Aeni/Imhe-Tim Media MIWF)



May 18, 2017 0

Ruang berbagi ilmu, cerita, dan pengalaman.

Makassar International Writers Festival 2017 bekerja sama dengan The Jakarta Post Writing Center mengadakan Human Library atau Talking Books. Program ini menghadirkan forum berbagi ilmu, cerita, dan pengalaman selayaknya mencari informasi melalui buku.

Kegiatan ini jadi bagian dari rangkaian Writing Workshop yang diadakan di MIWF. Dengan menggandeng salah satu surat kabar ibu kota, The Jakarta Post. Media berbahasa Inggris ini memboyong 6 orang kru untuk ikut serta dalam program ini.

Program Human Library ini menghadirkan pelaku-pelaku media untuk berbagi cerita dan pengalaman mengenai beberapa topik dan keahlian masing-masing. Total 17 peserta turut ambil bagian dalam diskusi ini. Para partisipan dibagi ke dalam enam kelompok, The Seasoned Journalist, The up Activist, The Social Scientist, The Local, The Feminis Writers, and The Moveable Poet.

Penulis berkesempatan ikut serta dalam diskusi The Seasoned Journalist bersama Endy M. Bayuni. Senior Editor Jakarta Post tersebut berbagi pengalamannya hidup berdampingan dengan non-muslim di Amerika Serikat. Menurutnya stereotip tidak akan muncul ketika kita mampu mengenal pribadi lain. “Peribahasa tak kenal maka tak sayang sangat sesuai diterapkan untuk menjawab tantangan intoleransi di sekitar kita” terangnya dalam diskusi. Di akhir forum, figur yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post ini menambahkan perlu pikiran terbuka untuk bisa hidup saling berdampingan.

Forum yang merupakan bagian dari workshop kepenulisan bersama The Jakarta post ini, diharapkan mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan peserta. Sehingga menulis jadi lebih mudah. #MIWF2017 (Ainun/Imhe-Tim Media MIWF)



May 18, 2017 0

Taman Sinema yang menjadi pra-event MIWF 2017 akhirnya selesai digelar 3 hari berturut-turut. Pada Selasa, 16 Mei kemarin antusias masyarakat pada Taman Sinema nampak dengan semakin banyaknya penonton yang memadati Fort Rotterdam di malam hari. Sekitar 150 penonton menikmati sajian film yang ditawarkan Taman Sinema, jumlah ini lebih besar dari banyaknya penonton di hari-hari sebelumnya.

Film Istirahatlah Kata-kata menjadi penutup dalam rangkaian program Taman Sinema di tahun 2017. Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini berhasil menghidupkan sosok penyair kritis Wiji Thukul yang dinyatakan hilang sejak tahun 1998. Dengan latar belakang tahun 90-an, film ini berhasil membawa penonton ikut terhanyut dalam suasana orde baru.

Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini berhasil meraih sejumlah penghargaan di ajang-ajang bergengsi dunia perfilman, di antaranya yakni pada Usman Ismail Awards 2017 memenangkan 3 kategori sekaligus (sutradara, aktor, dan film terbaik), di Bangkok ASEAN Film Festival 2017 sebagai film terbaik, di Festival Film Indonesia 2016 sebagai sutradara dan penulis skenario asli terbaik, dan di NETPAC Asian Film Festival 2016 sebagai film terbaik.

“Aku tidak ingin kamu pergi, aku juga tidak ingin kamu pulang, tapi aku ingin kamu ada”, demikianlah kata-kata yang menjadi penutup dalam film ini. Kalimat tersebut diucapkan oleh Sipon, istri Wiji Thukul yang mengekspresikan keresahan hatinya yang merasa serba salah ketika harus menerima suaminya yang menjadi buronan pulang kembali ke rumah. Credit title pada akhir film ini diiringi oleh lagu yang ditulis sendiri oleh putra Wiji Thukul, Fajar Merah, mendengar lirik-lirik yang dituliskan oleh putranya, seperti terasa bahwa kata-kata Wiji Thukul sudah bangun dari istirahatnya. #MIWF2017 (Farah/Kems-Tim Media MIWF)



May 16, 2017 0

Artikel untuk bagian pertamanya bisa dicek di tautan berikut ini dan di sini

Masterclass penulisan skenario oleh Arief Ash-Shiddiq dan Salman Aristo berlanjut hari ini, selasa 16 Mei 2017. Sebagai lanjutan dari masterclass sebelumnya yang diselenggarakan pada hari senin kemarin di Same Hotel Makassar. Sesi pertama diawali dengan penjelasan dari Arief Ash-Shiddiq yang berfokus pada gambaran awal penulisan skenario.

“karakter hanya akan berguna jika ia mempunyai fungsi dalam cerita. Jika ia tidak mempunyai fungsi, kamu hanya akan menyusahkan casting” tuturnya menjelaskan bagaimana memberikan deskripsi karakter dalam skenario.

Selain itu, beliau juga menekankan bahwa penulisan skenario harus jelas dan detail karena skenario yang telah ditulis nantinya akan dibaca oleh kru film lainnya. “kalau itu hanya ada di kepalamu, maka itu tidak akan ada di layar,” tegasnya.

Sesi pertama kemudian dilanjutkan oleh Salman Aristo yang menjelaskan tentang bagaimana menjadi seorang penulis skenario. “film itu dikonsumsi dengan cara didengar dan dilihat di layar. jadi penulis skenario harus ngisi layar, bukan ngisi kertas,” tuturnya. “Betul-betul penulis skenario itu limited sekali, tetapi menyenangkan.”

Salman Aristo kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang pemaparan deskripsi yang detail dalam penulisan skenario. “Penulis skenario tidak  bisa menulis marah atau sedih dalam skenario. Karena apa adegannya?” tegasnya. “bahkan dalam skenario yang rigid sekali, penulis tidak boleh menuliskan sifat”.

Peraih penghargaan Penulis Skenario Adaptasi terbaik Piala Citra tersebut menegaskan bahwa penulis skenario harus banyak melatih diri untuk lebih peka. “kepekaan yang harus diasah oleh penulis skenario, bukan merangkai kata.”

Di penghujung sesi, Salman Aristo dan Arief Ash-Shiddiq menunjukkan sebuah video yang membahas tentang skenario dari film American Beauty karya Sam Mendes dan mendiskusikan bersama dengan peserta. Salman Aristo sedikit menambahkan informasi tentang premis dan hubungannya dengan alur sebagai pengantar untuk sesi kedua setelah istirahat.

Membahas lebih jauh tentang premis

Sesi kedua membahas mengenai alur dan premis. “Jangan langsung menganggap kalau film yang lambat itu dragging atau bertele-tele. Kenapa kita tidak bisa menikmati film yang lambat seperti kita menikmati lagu yang slow?” Ujar Salman Aristo.

Pembahasan mengenai premis dan alur lebih banyak menggunakan contoh agar peserta lebih mudah memahami detail informasi yang diberikan oleh pembicara. Selain itu, contoh yang telah dipaparkan juga didiskusikan kembali bersama peserta.

Arief Ash-Shiddiq kemudian memberikan tugas kepada peserta untuk membuat plot dan premis kepada peserta selama 10 menit. Setelah itu, beliau mengajak peserta untuk membahas premis dan plot yang telah mereka buat.

“jangan pernah karakter menyabotase jalannya sendiri.”

Membangun karakter yang kuat 

Sajian materi selanjutnya adalah tentang cara membuat karakter yang kuat. “kalau plot adalah kendaraan, maka karakterlah yang mengendarai kendaraan itu. karakterlah yang mengarahkan plot itu mau kemana,” Salman Aristo mengawali materi pembangunan karakter, “mau gak mau, untuk bisa membuat karakter yang kuat, kita harus tahu tentang psikologi”

Selain itu, Salman Aristo juga menjelaskan poin-poin penting dalam pembuatan karakter, “ketika membuat karakter yang kuat, dia harus bisa dikenali oleh penonton, harus membuat penonton terpikat, dan harus membuat penonton simpati.”

Materi lalu dilanjutkan oleh Arif Ash-Shiddiq yang menjelaskan lebih rinci mengenai bagaimana membentuk karakter yang kuat dengan analogi-analogi sederhana. Beliau sering mengajak peserta untuk berpikir tentang gambaran karakter dari petunjuk yang ia berikan.

Pembahasan mengenai karakter menjadi akhir dari sesi kedua sekaligus masterclass dari Arief Ash Shiddiq dan Salman Aristo yang telah berlangsung dua hari. Masih banyak agenda lain yang akan digelar dalam Makassar International Writer Festival 2017. Ayo ramaikan!



May 16, 2017 0

Mana yang lebih baik, skenario yang baik ? atau aktor yang baik ?”

 ‘Hal yang setiap orang miliki jika tidak ditulis, lalu untuk apa?’ Pertanyaan sekaligus pernyataan ini menjadi pengantar perbincangan saat acara soft launch Buku “Kelas Skenario”, Senin, 15 Mei 2017, di ruang La Galigo, Fort Rotterdam. Sore itu, penulis skenario, sutradara, sekaligus produser professional , Salman Aristo, bersama editorcerita, Arief Ash Shiddiq meluangkan waktunya untuk berdiskusi dan berbagi bersama mengenai buku yang mereka tulis “Kelas Skenario”.

Salman memulai karirnya sejak 1993 dengan naskahnya yang berjudul “Tak Pernah Kembali Sama” bersama Arief sebagai seorang editor cerita, pengembang naskah, serta penyuka film.  Arief sudah menyukai dunia cerita sejak kecil. Berdua mereka membukukan hal-hal yang mereka anggap penting dalam pengalaman selama menggeluti dunia cerita dan film. Buku-buku yang telah mereka baca, terkait bidang yang mereka geluti, serta diskusi yang banyak mereka senangi setiap bertemu dengan penulis-penulis lainnya.

Menulis sebuah skenario merupakan bentuk seni lain dari kata-kata untuk menggambarkan kejadian dan rasa yang kemudian orang-orang diharapkan turut merasakan apa yang terjadi dalam alur cerita. Hal itu yang kemudian dijelaskan Salman dan Arief dalam buku “Kelas Skenario”. Bagaimana menulis sebuah naskah? Dan mengapa harus seperti demikian dalam menulis sebuah naskah? “Jika ingin tahu bagaimana caranya menulis naskah, kalian cukup baca bagian awal buku saja. Tapi kalau kalian juga ingin tahu kenapa kami menulis seperti itu, yah baca sampai tamat”, kata Arief.

Pengalaman demi pengalaman mengalir menjadi perbincangan yang seru. Ada pengalaman lucu dalam dunia perfilman dan penulisan naskah yang mereka ceritakan. Hingga muncul sebuah pertanyaan menarik di antara peserta, “Mana yang lebih baik, skenario yang baik? atau aktor yang baik, mas?”.  Salman  menjawab, “Baiknya kalo skenarionya bagus, aktornya baik. Tapi skenario yang baik akan mempermudah pembuatan film, sedangkan skenario yang buruk, akan menyusahkan aktornya”.

Diskusi dan berbagi mengenai “Kelas Skenario” berakhir dengan datangnya malam. Malam datang seiring dengan harapan para penulis kepada para pembaca, agar buku “Kelas Skenario” dapat membuka akses bagi siapapun yang ingin belajar tentang skenario. #MIWF2017 (Aeni/Imhe-Tim Media MIWF)



May 16, 2017 0

“Mulailah mengisi rumah dengan buku dan film yang bagus.”

Suasana santai dan hangat melingkupi “Afternoon Tea Party” , Senin sore di salah satu sudut pekarangan Fort Rotterdam. Dua founder Rumata’ Artspace, Lily Yulianti Farid dan Riri Riza, mengundang  9 orang  donatur untuk berbincang santai di taman. Ditemani teh, minuman-minuman segar, dan kue-kue manis. Perbincangan mengenai gerakan sosial-budaya yang ada di Rumata’ mengalir di antara mereka.

“Forum ini jadi tempat kami untuk mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang setia mendukung program-program di Rumata’,” ujar  Lily sembari membuka perbincangan. Selain apresiasi, Lily yang juga Direktur Makassar International Writers Festival  juga mengumumkan peluncuran Perahu Pustaka Colliq Pujie. Program ini merupakan bagian dari fundrising Pustaka Bergerak Indonesia.

Selain dua agenda di atas, Afternoon Tea Party ini jadi wadah untuk mengajak para donatur yang hadir untuk lebih banyak terlibat secara aktif pada program-program Rumata’ Art Space. Riri Riza menaruh harapan pada kegiatan-kegiatan yang diadakan bisa menularkan kembali semangat membaca, menulis, dan menonton film yang berkualitas. “Rumah tidak hanya diisi dengan perabotan berkualitas. Mulailah mengisi rumah dengan buku dan film yang bagus,” ucap Riri. #MIWF 2017 (Ainun/Imhe-Tim Media MIWF)



May 16, 2017 0

Athirah menjadi film pertama sekaligus sebagai pembuka kegiatan Taman Sinema  yang dilaksanakan di Fort Rotterdam Makassar pada 14 Mei 2017  semalam. Ini merupakan salah satu agenda dari acara “Ke Taman” yang digelar hingga 7 hari ke depan sebagai rangkaian dari Makassar International Writers Festival. Agenda Taman Sinema sendiri akan dilaksanakan selama 3 hari di tempat yang sama. Selain Athirah, akan ada 2 film lain yang akan diputar pada 2 hari selanjutnya, yaitu film Turah (2016) karya Wicaksono Wisnu Legowo, dan film Istirahatlah Kata-Kata (2016) yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen.

Taman Sinema menggunakan konsep layar tancap yang menyatu lokasinya dengan Taman Rasa. Dan masih disediakan bean bag bagi pengunjung yang ingin menikmati tontonan di Taman Sinema. Konsep ini membawa pengunjung merasakan bagaimana suasana pemutaran layar tancap yang dulu popular namun kini sudah jarang ditemui.

Antusias para pengunjung dalam menyambut kegiatan ini digambarkan dengan padatnya area pemutaran. Sekitar 70 penonton dari berbagai usia berkumpul memadati area Taman Rasa bahkan dua jam sebelum film diputar. Maka dari itu, jangan heran jika anda bisa menemui anak kecil yang berlari-lari di sekitar area pemutaran tersebut.

“Athirah” Sukses Menghibur Pengunjung

Pemutaran film “Athirah” sukses menghibur pengunjung yang semalam. Reaksi penonton cukup beragam dalam setiap adegan yang mereka saksikan di layar. Termasuk ketika adegan di bank saat si Ucu digoda oleh Ida yang sok jual mahal. Kadang mereka bersorak, kadang tertawa.

Athirah diangkat dari karya novel berjudul sama yang ditulis oleh Alberthiene Endah. Film yang diproduseri oleh Mira Lesmana ini mengisahkan tentang Athirah yang diperankan oleh Cut Mini. Athirah adalah sosok dari Ibunda Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, yang harus mengorbankan perasaannya demi menjaga keutuhan keluarganya. Selain itu, film ini juga mengangkat sosok muda Jusuf Kalla sebagai putra sulung, diperankan oleh Christopher Nelwan.

“Sebenarnya saya yakin bahwa setiap film itu punya mayoritas penonton dimana film itu berasal” tukas Riri Riza saat sesi diskusi setelah pemutaran semalam. Selain itu juga, Riri Riza juga menjelaskan tentang akhir Athirah yang menjadi pertanyaan dari MC dalam sesi diskusi itu. “Endingnya adalah ketika Ucu (Jusuf Kalla) bisa berdamai dengan masa lalunya, bahwa dia tidak bisa menolak bapaknya apapun yang terjadi” jawab Riri. Selain Riri Riza, juga hadir Arman Dewarti yang memerankan sosok Puang Ajji, suami dari Athirah, Andreuw Parinussa selaku aktor pendukung, Salman Aristo sebagai Penulis Naskah, dan Juang Manyala selaku peñata musik.

Taman Sinema masih akan digelar lagi esok hari, dengan sajian film “Turah” karya Wicaksono Wisnu Legowo. Jadi, ayo ke taman! #MIWF2017 (Yoms/Kems-Tim Media MIWF)



May 15, 2017 0

Sesi masterclass penulisan skenario dimulai Senin,  15 Mei 2017. Acara ini dihadiri oleh 25 peserta dan diisi oleh 2 pembicara handal, Arief Ash-Siddiq (Script Editor Wahana Penulis) dan Salman Aristo (Penulis skenario Athirah). Masterclass ini merupakan salah satu rangkaian menyambut acara inti Makassar International Writer Festival yang akan digelar pada tanggal 17-20 Mei 2017.

Acara yang bertempat di Same Hotel Makassar ini dimulai dengan sebuah tugas kecil dari Arief Ash-Shiddiq. Beliau menunjukkan sebuah adegan dari film korea berjudul No Mercy dan meminta kepada peserta untuk menuliskan adegan tersebut ke dalam bentuk skenario. Setelah menulis, Arief Ash-Shiddiq meminta kepada para peserta menceritakan secara detail tulisan yang telah mereka tulis sebelumnya. Sebuah permintaan kecil ini menjadi pembuka awal sesi masterclass yang dilanjutkan oleh Salman Aristo.

“Cerita adalah tuturan tentang gerak,” Salman Aristo menjelaskan tentang dasar dari penulisan cerita sebagai dasar dari penulisan skenario. “Ketika sebuah kejadian tidak diceritakan, maka kejadian itu dianggap tidak ada,” lanjutnya. Selain tentang cerita, Salman Aristo juga menjelaskan tentang konsep dasar dari skenario. “Menurut Sydfield, Scenario is a story told by the picture, Skenario adalah form yang tidak mungkin meleset.” jelasnya.

Pembahasan dalam sesi awal ini cukup panjang dan kaya akan informasi yang bisa didapatkan oleh peserta masterclass ini. Salman Aristo juga menjelaskan tentang alur mainstream dan non-mainstream. Beliau menekankan bahwa pembahasan kali ini akan lebih banyak menjelaskan tentang premis yang umum di alur mainstream. “Yang ada dalam dunia mainstream adalah karakter, konflik, dan tujuan”.

Terakhir, beliau juga menekankan pentingnya riset sebagai informasi dalam cerita. “Harapan kami adalah jangan menjadi penulis yang hanya menulis hal-hal yang ditahu, tapi juga menjadi penulis yang peduli,” tukasnya.

Sesi premis dari Arief Ash-Siddiq

Dalam sesi kedua, fokus pembahasan lebih menekankan pada pembuatan premis. Sesi ini dibuka dengan penjelasan tentang konflik. “Konflik ada tiga. Konflik manusia dengan dirinya sendiri, konflik manusia dengan manusia lain, dan konflik manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Bisa jadi tuhan ataupun alien,” jelasnya.

Sesi ini dijelaskan dengan sangat detail dan sedikit praktik oleh Ash Shiddiq. Script Editor di Wahana Penulis ini menjelaskan lebih detail tentang keterdugaan dan ketidakterdugaan yang menjadi fokus dalam sesi kali ini. “Jika saya jalan kaki ke pantai losari di siang hari menggunakan sepatu untuk berjalan di aspal yang panas, membawa air minum agar tidak haus, dan membawa tissue untuk mengelap keringat, maka itulah namanya keterdugaan” jelasnya. “dan jika saya berjalan ke pantai losari dan kemudian diculik oleh mantan, apakah itu bisa terjadi? Bisa. Meski sangat jarang kemungkinannya. Tapi, itulah yang disebut dengan ketidakdugaan” tambahnya.

Arief banyak menjelaskan materi tentang premis dengan berbagai gerakan. Penjelasan yang ekspresif memudahkan peserta untuk lebih mengerti tentang premis yang cukup membingungkan. Di tengah sesi, para peserta membuat premis mereka sendiri, dan kemudian didiskusikan lebih detail oleh dirinya bersama Salman Aristo. Rasa antusias ditunjukkan oleh peserta yang begitu fokus dalam memperhatikan materi dari kedua pembicara. Hampir semua peserta yang hadir dalam kesempatan kali ini menjelaskan premis yang telah mereka buat hingga masterclass Penulisan Skenario hari pertama ini berakhir lewat dari jadwal yang telah ditentukan.

Masterclass penulisan skenario oleh Arif Ash-Shiddiq dan Salman Aristo masih akan dilanjutkan esok hari di waktu dan tempat yang sama. Sampai bertemu dan belajar bersama!



May 15, 2017 0

Membaca adalah proses berpikir 5M + 1 B

“Membaca adalah proses berpikir,” kata Clara Ng, seorang penulis buku-buku fiksi dalam kelas ‘Keajaiban Membaca’, Salah satu tema yang dibincangkan dalam kegiatan Pesta Pendidikan, di Fort Rotterdam Makassar, 13-14 Mei lalu. ‘Keajaiban Membaca” adalah salah satu kelas literasi yang bekerjasama dengan Makassar International Writers Festival.

Clara Ng tak sendiri. Ada Maria Tri Sulistiyani atau lebih dikenal dengan nama Ria Papermoon, founder Papermoon Puppet Theatre.  Perbincangan siang itu dipandu oleh moderator Heru Mawan dari Rumah Dongeng Indonesia. Saat Clara membawakan materi “Reading Strategy”, peserta yang mengikuti kelas terlihat serius mendengarkan penjelasan.

Menurut Clara membaca adalah proses berpikir, di mana si pembaca melakukan 5M + 1B. Yakni meramal, melamun, mengait, mengklarifikasi, mengevaluasi, dan bertanya. Penjelasan Clara ditutup dengan tepuk tangan dari para hadirin.

Diskusi kembali dilanjutkan, kali ini Ria Papermoon yang mengambil alih kelas. Ria tidak menyajikan slide presentasi, ia hanya bercuap-cuap menjelaskan tentang bagaimana proses membaca dan berkarya. Ia juga menjelaskan tentang sanggar Pupermoon Puppet Theatre yang lahir sebelas tahun lalu, Ria ingin membuat sebuah pertunjukan dimana para penontonnya bisa menitikkan air mata karena larut dalam cerita.

“Saya heran, selama ini kenapa orang-orang mudah sekali menangis ketika nonton film? Tapi ketika nonton teater pasti mereka keluar dengan oh iya lightingnya bagus, kostum pemainnya bagus tapi menor banget dandannya dan lainnya. Kenapa? Karena kebanyakan orang nonton teater pakai otak bukan pakai rasa” tutur Ria.

Setelah tanya-jawab. Kelas selesai tepat pukul 15.30 wita dan ditutup dengan gemuruh tepuk tangan dari peserta yang menambah semarak suasana sore di Fort Rotterdam. #MIWF2017 (Fira/Imhe-Tim Media MIWF)



May 15, 2017 0

Membaca itu seperti bernapas, kita tidak mungkin hidup tanpa bernapas.

Ruang Chapel menjadi sesak dan riuh begitu Presenter Mata Najwa, Najwa Shihab memasuki ruangan yang terletak di gedung P Fort Rotterdam, Minggu, 14 Mei 2017.  Meskipun suasana terasa gerah, dengan kipas angin yang tidak sebanding dengan peserta yang melebihi kapasitas ruangan yang hanya mampu menampung 50-an orang, namun Najwa mampu membakar semangat hadirin yang mayoritas dari kalangan muda.

Dipandu Direktur Makassar International Writers Festival (MIWF) Lily Yulianti Farid, dalam agenda Catatan Najwa. Sekitar dua jam, Najwa bercerita seputar perjalanan program Mata Najwa dan penyebaran virus literasi untuk meningkatkan minat baca di Indonesia.

Najwa menyebutkan, banyak penggiat literasi yang tersebar di berbagai daerah, dengan ketulusan mereka. Mengunakan banyak cara, mulai dari menggunakan motor, jualan jamu sambil bawa buku, motor, perahu, noken dan cara- cara unik, untuk berkarya melintasi batas.

“Jika melihat dari catatan UNICEF, bahwa Indonesia ada pada urutan 60 dari 61. Tapi kenyataanya di lapangan, saya melihat tidak demikian. Minat baca dan orang- orang yang berjuang dengan memperkenalkan literasi justru lebih banyak. Data boleh saja seperti itu, tapi saya yakin dunia literasi terus mengalami perbaikan dan peningkatan,” ungkap Najwa disusul tepuk tangan yang menggema.

Banyak orang-orang baik, yang berjuang untuk literasi ini, seperti Lily yang menggunakan jaringannya yang luas menyelenggarakan Makassar International Writers Festival, menggalang relawan bergandengan tangan untuk kebaikan negeri.

Lily pada kesempatan ini juga mengampanyekan agar orang tidak asal berbicara tanpa punya referensi yang kuat. Dia benar- benar sangat ingin melakukan hal- hal yang mendukung pergerakan literasi. “Saya mengibaratkan membaca itu seperti bernapas, jadi kita tidak mungkin hidup tanpa bernapas,” ungkapnya.

Najwa yang ditunjuk sebagai Duta Baca oleh Perpustakaan Nasional juga telah bertemu dengan beberapa penggiat literasi di beberapa daerah yang ada di Indonesia juga jaringan Pustaka Bergerak. Ia berharap bisa menjadi jembatan bagi siapa saja yang ingin bergerak dan tertarik dalam bidang literasi.

Kania, salah satu peserta meminta agar Najwa sebagai penggiat literasi bisa membuat terobosan yang dapat menampung para pengiat literasi di berbagai wilayah. Sementara itu, Nilam berharap Najwa tidak hanya menemui penggiat literasi yang ada di wilayah terjangkau, melainkan ke daerah terisolir atau pedalaman, agar bisa lebih memaksimalkan gerakan ini.

Memilih Makassar, biar sekalian pulang kampung. “Saya diberi pilihan Abi (ayah) saya, ada beberapa daerah yang akan didatangi untuk program literasi. Salah satunya Makassar. Ya saya pilih Makassar, sekalian pulang kampung karena lebih dekat ke Sidrap. Rumah Keluarga Shibab di Sidrap masih ada  dan menanti kepulangan kami,” ujar Najwa dengan penuh senyum dan semangat. #MIWF2017 (Amy/Imhe-Tim Media MIWF)