Chinese Whispers: Pertunjukan yang Lahir Atas Dasar Cinta

Salah satu program yang ada dalam rangkaian Festival Literasi Makassar International Writers Festival (MIWF) yang ke-8 kali ini adalah program yang menggandeng Chinese Whispers, platform dengan konsep pementasan visual yang dibentuk oleh Rani Pramesti, warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tinggal di Melbourne, Australia. Adapun latar belakang terbentuknya Chinese Whispers tak lepas dari tragedi mengenaskan pada Mei 1998, di mana penduduk Indonesia dengan etnis Tionghoa mendapat perlakuan semena-mena oleh mereka yang mengklaim diri sebagai pribumi.

Rani dan Cindy, dua dari tiga penulis yang hadir dalam program tersebut menyuarakan perasaan mereka dengan membentuk Chinese Whispers,  sebuah pertunjukan berbentuk instalasi yang disutradarai dan diproduksi sendiri oleh Rani.

"Satu hal yang ditakuti jangan sampai karya ini disalahgunakan, yang ingin cinta tanah air, story telling dan cinta untuk generasi muda indonesia. Kalau ada pihak yang ingin menyalahgunakan, kami ingin menyampaikan bahwa Chinese Whispers lahir atas cinta. Bukan untuk hal- hal yang buruk," ujar Rani sambil menghapus air matanya.

Rani menyebutkan bahwa meski dirinya sebagai keturunan Tionghoa, namun dia adalah warga Indonesia yang sangat mencintai Indonesia. Untuk itu, dia memperlihatkan kaos berwarna putih ia kenakan. Kaos tersebut memerlihatkan portrait Rani kecil dengan wajah yang terbagi menjadi dua: sisi kiri yang identik dengan corak Tionghoa, sedangkan sisi kanan dengan corak Batik khas Jawa. "Jadi ini memperlihatkan Rani kecil yang terbelah. Saya Indonesia. Saya mencintai Indonesia," Rani menyebutkan dengan nada suara bergetar karena menangis, mengingat kejadian masa kecil hingga dirinya dan beberapa temannya menjadi korban.

Melalui ‘Chinese Whisper’, pemudi yang pernah menyelseaikan studinya di bidang social work ini mengangkat pertanyaan yang bisa ditelusuri bersama, ‘how does racial violent happen?’ Bersamaan dengan hal itu, Rani juga berharap pertunjukan ini bisa menjadi bahan perenungan bersama mengenai apa yang telah terjadi dalam peristiwa Mei 98, terutama bagi kaum muda.

 

Kontributor: Rahmi Djafar

Time