Diskusi Panel: Voice/ Noise

MAKASSAR - Festival Literasi Makassar International Writers Festival (MIWF) yang ke-8 di Benteng Roterdam Makassar, menjadi magnet tersendiri, tidak hanya bagi mereka yang tinggal di Sulawesi Selatan pada umumnya, tapi juga bagi wisatawan asing yang kebetulan tengah liburan di Kota yang terkenal dengan Pantai Losari dan Cotonya ini.

Mereka terlihat serius menghadiri Discussion Series, Voice/ Nose di Gedung K 1 yang dipandu oleh Founder MIWF Lily Yulianti Farid, dengan narasumber Linda Christanty , Makhfud Ikhwan, serta penulis asal Negeri Jiran, Faisal Tehrani. Diskusi yang digelar sore hari ini membahas tentang pemilihan tema yang diangkat oleh MIWF di tahun 2018 ini. Beberapa audiens yang hadir terpaksa harus mengikuti jalannya diskusi dengan menghabiskan waktu berdiri, lantaran kapasitas ruangan yang tak terlalu besar.

Linda Christanty dalam pemaparannya menyebutkan beberapa kali dia menyuarakan pendapat di sosial media, khususnya Facebook. Aspirasinya sempat menemui kendala lantaran pihak Facebook melakukan pemblokiran akun, yang membuatnya harus vakum selama beberapa waktu.

"Ada kekhawatiran saat Kita berbicara tentang media social. Sebagai contoh, 2 tahun terakhir Facebook Indonesia tak lagi menghormati aspirasi penggunanya. Konten-konten palsu (hoax) bermunculan. Apalagi, Facebook belakangan ini erat kaitannya dengan situasi politik di Indonesia," jelas Linda.

Penulis yang mengeluarkan sejumlah buku diantaranya Rahasia Selma, Raja Revolusi dan beberapa buku lainnya juga mengomentari isu dan sentiment agama yang saat ini tengah berkembang di jejaring social.

"Saya tidak ingin masuk ke dalam hal yang berkaitan dengan Agama. Persoalan itu bukan satu-satunya yang penting. Di Jakarta saja ada banyak masalah terkait lingkungan, reklamasi, dan pulau- pulau yang dibangun. Reklamasi merugikan nelayan, menguntungkan investor," tambahnya.

Dia menyebutkan, dirinya lebih tertarik pada isu seperti lingkungan. Dia menyebutkan reklamasi sangat merugikan nelayan, dan menguntungkan investor.

"Warga negara punya hak memancing laut di manapun, tetapi ketika jadi pulau itu akan menjadi hak milik. Semua tertutup oleh isu agama," ujar Linda.

Sementara Makhfud di sela- sela menulisnya mengatakan akan mengisi waktu dari berbagai macam hal yang bisa ke luar dari kebisingan (noise), dengan mendengar lagu atau menonton film klasik pada zamannya kala muda.

Sementara Faisal menyebutkan voice/ noise memang tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Malaysia. "Saya penggemar sastra Indonesia, Pramoedya dijadikan buku teks di Indonesia meski di larang di Indonesia, saat saya melanjutkan S3 saya tertarik tentang Putu Wijaya.”

Dia juga menceritakan bergabung dalam lembaga penggerak hak asasi manusia, bahkan pernah mendapat ancaman dibunuh. Namun semua ancaman itu tak membuatnya gentar dan tetap menulis hingga sekarang.

"Saya telah menulis 24 novel. Noise saya buat dalam sastra wacana. Saya harus menulis tentang hak asasi manusia, dan kemudian disatukan dan menjadi sebuah novel," ujar dia.

 

Kontributor: Rahmi Djafar

Time