MAKASSAR — Film dokumenter “A River in the Middle of the Sky” karya dua sutradara dari Dogmilk Films, Chris Cochrane-Friedrich (Australia) dan Wahyu Al Mardhani (Indonesia), diputar pada hari kedua Makasar International Writers Festival (MIWF) 2025 yakni pada Jumat sore (30/5/2025). Ini adalah sebuah film yang mengangkat kehidupan masyarakat Toraja melalui pendekatan yang intim dan personal.
Film ini disajikan dari sudut pandang Victor Konda, seorang videografer asal Toraja, yang merekam kesehariannya bersama sang nenek hingga akhir hayatnya. Victor sendiri mengalami masalah pada penglihatannya, tapi tetap bertekad merekam keseharian nenek tercinta dengan mata lensa kamera. Tak pelak, lahirlah sebuah dokumentasi yang emosional penuh makna tentang hubungan antara seorang cucu dan nenek.
“Itu menunjukkan kayak ada satu orang yang kita gak pernah ekspek di satu Desa Sangalla itu ada orang yang sangat dedikasi dengan multimedia,” kata Wahyu mengungkap rasa takjubnya pada Victor dalam diskusi setelah pemutaran film yang berlangsung di Gedung O, Fort Rotterdam Makassar.
Bagi Wahyu sebagai filmmaker, arsip-arsip visual dalam film ini memiliki peran penting sebagai alat untuk menjaga memori kolektif yang rentan terlupakan seiring waktu. Dengan kata lain, sebagai penolong dalam mengingat kembali ingatan yang kapan saja bisa hilang.

“Arsip-arsip inilah yang membantu kita untuk me-refresh kembali ingatan-ingatan kita,” katanya di hadapan para peserta diskusi yang mencapai 30 orang.
Wahyu juga menambahkan bahwa meskipun apa yang ditampilkan dalam bingkai visual penting bagi penonton, sebagai pembuat film, hal-hal yang berada di luar bingkai justru mengandung konteks dan makna yang tak kalah signifikan.
“Mungkin yang teman-teman nonton di dalam frame, penting. Tapi bagi kami yang seorang filmmaker, yang di luar dari frame juga lebih penting karena ada kontekstual di dalamnya,” lanjutnya.
Wahyu mengatakan bahwa dalam menggarap film tersebut, mereka memakai metode melihat dari ruang belakang. Ini adalah sebutan untuk melihat cerita dari sudut yang lebih tersembunyi dan terasa lebih intim.
Berangkat dari cara bertutur tersebut, Chris dan Wahyu kemudian mengangkat nilai-nilai masyarakat Toraja secara lebih luas. Alhasil, “A River in the Middle of the Sky” bukan hanya tentang relasi individu, tapi juga tentang identitas kultural yang terasa dominan sepanjang film berdurasi 80 menit tersebut.
“Personal relationship-nya dengan si nenek. Dan akhirnya nenek itu untuk mengikat soal community, soal collective spirit tentang Toraja pada umumnya,” tutup Wahyu.
Penulis : Muhammad Aswar
Fotografer : Muh. Trian Rezki A.

