MAKASSAR – Publik mengenal Cania Citta Irlanie adalah pembicara publik, lulusan Ilmu Politik Universitas Indonesia, dan penggagas kanal YouTube Malaka Project yang aktif menyuarakan pentingnya berpikir kritis melalui berbagai platform. Tapi pada awal tahun ini, ia merambah medium buku. Di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, ia membahas “Makanya, Mikir!” (Kompas Gramedia, 2025), hasil kolaborasinya bersama Abigail Limuria, yang mendorong pembaca membangun kerangka berpikir sebelum menyerap informasi.
Dalam suasana hangat selepas sesi diskusi bukunya pada Kamis sore (28/5/2025), Cania berbagi cerita kepada Tim Relasi Media MIWF tentang proses kreatif penulisan, keresahan yang melatarbelakangi buku pertamanya tersebut. Tak lupa, sosok kelahiran Jakarta tersebut juga mengngkap harapannya terhadap perkembangan literasi berpikir di Indonesia. Berikut ini wawancara lengkapnya.
1. Apa yang melatarbelakangi Kak Cania dan Abigail menulis buku “Makanya, Mikir!” ini? Apa keresahan awalnya?
Sebenarnya, buku ini dibuat untuk semua orang, dari latar belakang apa pun. Karena yang dibahas di buku ini bukan topik tertentu, tapi cara berpikir itu sendiri. Ketika kita membaca novel romansa, misalnya, yang memproses cerita itu adalah pikiran kita. Nah, gimana sih cara kerja “mesin” pikiran kita? Itulah mengapa kita butuh kerangka berpikir. Buku ini hadir untuk menjawab kebutuhan itu.
2. Di buku ini, Kak Cania bilang kita perlu punya kerangka berpikir dulu sebelum belajar hal lain. Bisa dijelaskan, kenapa itu penting banget?
Kita bayangkan kerangka berpikir itu seperti mesin blender. Mau dimasukkan buah apa saja tidak masalah, tapi kalau mesinnya enggak lengkap, enggak ada kabelnya, pernya lepas, enggak ada listrik, ya enggak akan bisa memproses apa pun. Nah, kerangka berpikir itu adalah mesinnya. Buku ini mengenalkan cara berpikir paling dasar untuk membedakan mana fakta, mana nilai moral, dan mana yang subjektif tergantung kebutuhan kita.
3. Apa sih manfaat paling konkret yang bisa didapat pembaca setelah membaca buku ini? Misalnya dalam mengambil keputusan sehari-hari.
Buku ini membantu kita mengenali jenis-jenis informasi, mana fakta, mana yang bersifat moral, dan mana yang tergantung preferensi pribadi. Jadi, saat menemukan informasi, kita tahu harus bagaimana menyikapinya. Ini penting banget dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Misalnya, kita jadi tahu mana yang tidak bisa diputuskan sembarangan karena datanya harus diikuti, dan mana yang bisa disesuaikan dengan nilai-nilai kita sendiri.
4. Buku “Makanya, Mikir!” ini ditulis untuk semua orang dari berbagai latar belakang. Bagaimana Kak Cania memastikan kontennya bisa dipahami oleh pembaca yang beragam?
Mungkin banyak orang bingung, ini buku tentang apa sih? Karena ini bukan buku yang spesifik membahas keuangan, politik, atau novel. Tapi aku justru melihat buku ini sebagai pelengkap. Sebelum teman-teman membaca buku-buku lain dan menyerap isinya, penting untuk punya kerangka berpikir agar bisa memprosesnya dengan baik.

5. Apakah ada pengalaman pribadi yang turut menginspirasi Kak Cania dalam menyusun contoh atau studi kasus di buku ini?
Banyak banget. Aku sering dapat pertanyaan seperti, “Kak, aku mending kuliah atau langsung kerja?” atau “Aku tetap sama pacarku yang toxic atau mulai dari nol lagi cari yang baru?” Pertanyaan semacam ini sering banget masuk ke question box aku dan Abigail. Dari situ kami sadar, ternyata banyak orang belum punya kerangka untuk memproses pilihan-pilihan itu.
6. Dalam proses penulisan, bagaimana cara Kak Cania dan Kak Abigail membagi peran dan mengembangkan isi buku bersama?
Kita biasanya bagi part, ini part Abigail, ini part aku. Tapi setelah itu tetap saling baca dan edit. Jadi, meskipun nulisnya dibagi, hasil akhirnya tetap kolaborasi kami berdua.
7. Adakah tantangan tertentu yang dihadapi selama penulisan, baik dari segi ide maupun kerja kolaboratif bersama kak Abigail?
Tantangannya adalah aku dan Abigail punya perfeksionisme yang berbeda. Abigail lebih fokus ke pengalaman pembaca, apakah tulisannya enak dibaca. Aku lebih perfeksionis di sisi keakuratan model dan kontennya. Jadi, tantangannya adalah menyeimbangkan antara bisa dipahami dan tetap akurat secara konsep dan isi.
8. Bagaimana keterlibatan Kak Cania di MIWF (Makassar International Writers Festival)?
Ini pertama kalinya aku diajak ke MIWF sekaligus ke Makassar, dan senang banget! Awalnya diajak sama penerbit Pear Press yang bantu menerbitkan buku “Makanya, Mikir!”. Mereka nawarin ikut MIWF, dan saat aku lihat, wah, acaranya keren banget! Nggak nyangka kultur literasi dan kepenulisan masih sekuat ini dengan rangkaian acara sebesar ini. Rasanya terhormat dan senang banget bisa terlibat, apalagi bisa ketemu langsung teman-teman di Makassar.

9. Apa harapan Kak Cania dari keterlibatannya di MIWF?
Mudah-mudahan sesi aku menyenangkan dan insightful, seperti sesi-sesi lainnya, karena aku lihat banyak juga penulis yang terlibat di berbagai sesi. Semoga bisa memberikan warna baru juga di lanskap buku dan literatur Indonesia karena ini juga buku pertamaku.
10. MIWF tahun ini mengangkat tema “Land and Hand,” yang menyoroti kerentanan ruang hidup dan isu-isu seperti feminisme, krisis ekologi, kebebasan berekspresi, hingga genosida. Menurut Kak Cania, bagaimana peran keterampilan berpikir kritis dalam merespons isu-isu tersebut?
Dalam semua isu, penting untuk melihat realitasnya seperti apa dan apa yang ingin kita capai. Jangan sampai niat baik kita justru berujung ke arah yang bertolak belakang. Niat baik tanpa penalaran dan data yang tepat bisa jadi bumerang. Karena itu, keterampilan berpikir kritis sangat penting untuk memastikan langkah kita sesuai arah tujuan.
11. Kalau menilik ke masa depan, apa mimpi atau visi pribadi yang ingin Kak Cania wujudkan lewat karya, komunitas, atau proyek-proyek yang sedang dijalankan?
Aku ingin mewujudkan sistem pendidikan, baik dasar maupun tinggi yang melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, bijak, punya empati, dan kemampuan berpikir kritis. Dari situ, semoga bisa lahir inovasi-inovasi yang memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
12. Terakhir, keterampilan berpikir seperti apa yang Kak Cania harapkan bisa dibawa pulang oleh peserta setelah mengikuti program?
Aku berharap peserta bisa lebih memahami arti rasionalitas. Rasional bukan berarti mematikan perasaan, tapi tahu kapan dan bagaimana menyeimbangkan logika dan perasaan untuk mengambil keputusan yang baik dan bijaksana.
Penulis: Fadiah Nadhilah Irhad
Fotografer : Andi Alan Galan Savana

